PENGERTIAN MODEL KESEIMBANGAN INTERNAL EKSTERNAL

5 views

INTERNAL-EXTERNAL BALANCE MODEL / MODEL KESEIMBANGAN INTERNAL EKSTERNAL adalah suatu gagasan teoritis yang mencoba untuk menggabungkan pencapaian tujuan KEBIJAKAN MAKROEKONOMI (MACKOECONOMIC POLICY) yaitu KESEMPATAN KERJA (FULL EMPLOYMENT) dengan STABILITAS HARGA (PRICE STABILITY) (keseimbangan internal) dan KESEIMBANGAN NERACA PEMBAYARAN (keseimbangan eksternal). Sumbu vertikal menunjukkan rasio dari harga internasional terhadap harga domestik. Rasio ini adalah indeks dari posisi persaingan negara asing; semakin tinggi rasio, maka ekspor semakin besar dan impor semakin kecil. Pada sumbu horizontal adalah permintaan riil domestik, yang meningkat dari kiri ke kanan. Kedua kurva dalam gambar menunjukkan masing-masing keseimbangan eksternal (EE) dan keseimbangan internal (DD). Kurva (EE) mempunyai kemiringan yang positif, menggambarkan semakin tidak menguntungkannya rasio harga internasional, berarti semakin rendah permintaan riil domestik yang harus terjadi untuk mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran. Posisi sebelah kiri atas kurva menggambarkan surplus; sebelah kanan bawah menggambarkan defisit. Kurva DD mempunyai kemiringan yang negatif yang meng-gambarkan bahwa semakin tidak menguntungkan rasio harga inter¬nasional, maka semakin tinggi permintaan riil domestik yang harus teijadi untuk mempertahankan kesempatan keija penuh. Posisi sebelah kanan atas kurva menggambarkan inflasi dan sebelah kiri bawah menggambarkan pengangguran. Perpotongan kurva EE dan DD (titik A) adalah posisi di mana negara berada dalam keadaan keseimbangan secara keseluruhan. Posisi-posisi lainnya menunjukkan disekuilibrium. Namun demikian, pada beberapa posisi ketidakseimbangan ini negara dapat mencapai kedua tujuan kebijakan internal dan eksternal dengan memakai variabel kebijakan tunggal-tegasnya hanya posisi yang berada pada garis titik horizontal dan vertikal yang berpotongan. Dalam situasi yang ditunjukkan oleh garis horizontal disebelah kanan titik A, misalnya rasio harga internasional terhadap harga domestik sudah sesuai, tetapi permintaan riil domestik terlalu tinggi, yang mengakibatkan inflasi dan defisit neraca pembayaran. Hanya dengan DEFLASI (DEFLATION) permintaanlah kedua sasaran itu dapat tercapai. Dalam situasi yang digambarkan oleh garis vertikal di bawah titik a, permintaan riil domestik cukup baik, tetapi harga domestik tidak bersaing, mengakibatkan defisit neraca pembayaran dan pengangguran. Hanya dengan DEVALUASI (DEVALUATION) mata uanglah kedua tujuan akan tercapai. Namun demikian kedua kasus tersebut adalah khusus. Dalam situasi yang lain permintaan domestik dan rasio harga internasional biasanya tidak sesuai. Dengan demikian, kedua tujuan kebijakan bertentangan, dan variabel kebijakan yang berbeda harus dikombinasikan agar efektif. Untuk area 1 dan 2n misalnya, diperlukan kombinasi deflasi permintaan dan REVALUASI (REVALUATION) mata uang, dan untuk area 3 dan 4, kombinasi deflasi permintaan dan devaluasi mata uang. Untuk area 5 dan 6 dibutuhkan kombinasi reflasi permintaan dan devaluasi mata uang; keseimbangan internal-eksternal. (c) Dengan tingkat permintaan domestik tertentu (x), rasio harga internasional terhadap harga domestik harus berada pada tingkat P untuk menjaga keseimbangan eksternal. Apabila tidak, hasilnya adalah surplus atau defisit neraca pembayaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *