Advertisement

Ada masyarakat yang menyebut ilmuwan perguruan tinggi yang banyak melakukan penelitian sebagai hidup dalam menara gading. Menyebut seorang hidup dalam menara gading tentu ada permasalahan dengan seseoNang itu. Memang ada orang yang mau memaksakan pendapat untuk keperluan kepentingannya. Seperti contoh di zaman pemerintahan Presiden Soekarno, di saat itu banyak anggota staf pengajar perguruan tinggi yang dikatakan sebagai textbook­thinking hanya oleh karena pikirannya mengacu kepada hasil pemikiran sarjana-sarjana negara barat. Saat itu bagi mereka yang digolongkan sebagai textbook thinking tidak diberi hak hidup sebagai ilmuwan, untuk bisa tetap hidup sebagai ilmuwan mereka diharuskan menganut faham science for the sake of revolution, bukannya science for the sake of science. Staf pengajar perguruan tinggi yang dianggap menganut science for the sake of science digolongkan sebagai hidup dalam menara gading.

Mengapa sampai ada ungkapan menara gading?

Advertisement

Ilmu pengetahuan ada dua macam, ilmu pengetahuan murni (pure science) dan ilmu pengetahuan terapan (applied science). Hasil penelitian ilmu murni biasanya tidak bisa langsung d•nikmati oleh masyarakat. Untuk bisa dirasakan oleh masyarakat hasil penelitian ilmu murni harus melalui ilmu terapan. Di negara sedang berkembang bidang penelitian ilmu mumi tidak banyak disukai orang. Pembiayaan penelitian ilmu murni sangat tinggi dan oleh karena tidak bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat maka pihak yang tidak menyukainya menyebutnya sebagai pemborosan, sedangkan penelitinya dianggap sebagai hidup dalam menara gading, alam yang terpisah dari masyarakat. Sebetulnya semua hasil penelitian ditujukan untuk kepentingan kemanusiaan.

Advertisement