PENGERTIAN MASA KANAK-KANAK

adsense-fallback

Di hampir sepanjang sejarah dan bagi sebadar besar anak-anak di seluruh dunia, masa kanak-kanak yang mereka alami jauh dari ideal. Apa yang mereka dapatkan bukanlah suatu kondisi yang sepenuhnya diwarnai kasih sayang, perlindungan, dan hal-hal yang serba menyenangkan. Banyak anak-anak yang harus berjuang sendiri untuk mempertahankan hidupnya di tengah kondisi yang bermusuhan. Menyadari hal itu, konvensi PBB mengenai hak anak-anak 1976 tidak memasang standar ideal yang terlalu muluk melainkan sekedar perbaikan kondisi sejauh yang dapat direalisasikan berkenaan dengan hak-hak anak dalam hal ekonomi, sosial dan budaya. Gambaran mengenai masa kanak-kanak yang ideal ternyata bervariasi, baik itu secara historis maupun budaya. Philippe Aries (1962 [I960]) mengatakan pentingnya masa kanak-kanak di Eropa baru disadari di awal abad 13. Sebelumnya masa kanak-kanak tidak dianggap sebagai sesuatu yang khusus, dan sama saja dengan masa-masa selanjutnya dalam kehidupan seseorang. Konsepsi mengenai masa kanak-kanak itu baru mengalami perubahan radikal (sehingga mendekati konsepsinya sekarang ini) pada abad 17 seiring dengan bangkitnya gagasan moderen mengenai keluarga dan sekolah. Pergeseran kembali terjadi pada abad 19. Bahkan selanjutnya dunia modern “terobsesi oleh berbagai masalah fisik, moral dan  anak-anak”. Seandainya Aries benar, maka bukanlah kebetulan apabila sebagian besar teorisi menonjol dalam sejarah psikologi seperti Sigmund Freud dan Jean Piaget mencurahkan perhatiannya untuk memahami anak-anak serta proses perkembangannya menjadi manusia dewasa. Freud berfokus pada identifikasi  dan perkembangan kesadaran anak. Seorang anak menjadi mahkluk moral melalui kontrol rasa bersalah terhadap impuls-impuls dan agresif. Piaget mencurahkan hidupnya untuk memahami anak-anak dalam mengkonstruksikan secara kognitif berbagai konsep keterlibatan manusia di dunia sekitarnya, dan juga bagaimana mereka memahami angka, waktu, kausalitas fisik, pengukuran dan sebagainya. Para psikolog perilaku mencoba mengungkap bagaimana anak-anak itu, seperti halnya hewan, “terkondisikan” untuk berperilaku sedemikian rupa terhadap lingkungannya, termasuk orang-orang lain, yang membuahkan hadiah dan hukuman. Kian majunya studi mengenai perilaku binatang dan studi kemampuan kognitif manusia yang ditunjang oleh pengetahuan biologi yang kian canggih telah mengungkapkan berbagai kelemahan teori belajar (learning theory) yang semula dianut. Namun gagasan bahwa anak-anak itu “terkondisikan oleh lingkungannya tetap dianut oleh para sosiolog dan anthropolog yang lebih memandang anak-anak sebagai bagian dari masyarakat dan tidak terlalu menyoroti mereka sebagai “individu Sebagai contoh, antropolog Margaret Mead, yang dikenal berkat karyanya mengenai masa kanak-kanak dan menjelang dewasa di Samoa, mencatat adanya pengkondisian budaya yang akan menentukan apa dan bagaimana kebudayaan itu dipelajari oleh anak-anak. Sementara itu para teorisi “budaya dan kepribadian” lebih tertarik untuk menggunakan teori psikoanalitik untuk memahami perilaku anak di berbagai konteks budaya (lihat misalnya Whiting dan Child. 1953) Menyebarnya gagasan-gagasan Piaget ke Amerika dan meningkatnya dominasi pendekatan kognitif dalam psikologi selama dekade 1960-an dan 1970-an memperkuat gagasan bahwa anak- anak senantiasa terkondisikan oleh lingkungan¬nya, atau secara lebih radikal, mereka sekedar meniru perilaku orang-orang dewasa. Hal inilah yang memunculkan teori-teori “sosialisasi” yang menyatakan bahwa anak-anak terlibat secara aktif dalam proses pemahaman sesuai dengan apa yang dipahami oleh orang-orang dewasa.

adsense-fallback

Piaget sendiri sesungguhnya dikecam oleh rekannya dari Rusia, Vygotsky, atas kegagalannya dalam memadukan parameter-parameter historis (sosio-kultural) dan interaksi sosial dalam telaahnya mengenai kognisi anak-anak, sehingga ia luput melihat fakta luasnya kemampuan kognitif anak-anak d: usia dini (lihat pula misalnya Smith et al, 1988), dan gagal pula memahami bagaimana bayi menyadari keberadaan dirinya sendiri ketika ber¬interaksi dengan orang lain. Model-model psikologi mengenai masa kanak- kanak terutama menekankan sifat aktif dan transformatif dari proses perkembangan kognitif sehingga model-model itu cenderung menganggap bahwa hasil akhir kognisi itu diketahui. Dalam antropologi dan sosiologi, anak dianggap sebagai penerima pasif berbagai gagasan kaum dewasa. Namun sejak tahun 1980-an mulai muncul pendekatan-pendekatan inter-disipliner dalam usaha pemahaman masa kanak-kanak ini. Studi-studi tersebut menekankan konsep anak sebagal agen atau sebagai produsen sekaligus sebagai produk proses kolektif dinamis yang kita sebut sebagai” sejarah”. Dalam kenyataannya anak selalu berbeda dari orang tuanya dan itu berarti mereka sesungguhnya juga mampu menciptakan bentuk-bentuk hubungan sosialnya sendiri yang merupakan perwujudan kesinambungan budaya dan sekaligus perubahan budaya. Artinya, selain menerima, mereka juga menciptakan sendiri nilai-nilainya. Pendekatan ini memusatkan perhatian pada bagaimana anak-anak secara kognitif mengkonstruksikan konsep-konsep yang mengacu pada domain yang sebelumnya kita anggap urusan kaum dewasa saja, yakni mulai dari domain kekerabatan, ekonomi, politik, sampai dengan agama (lihat misalnya Toren, 1990). Bertolak dari adanya pendekatan-pendekatan teoritis baru ini, studi mengenai masa kanak-kanak dalam antropologi dan sosiologi mengalami pergeseran, dan demikian pula dengan yang terjadi dalam bidang psikologi.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback