PENGERTIAN LINGUSTIK SEJARAH

9 views

Lingustik sejarah, sebagai lawan dari sejarah linguistik, adalah studi, rekonstruksi, kumpulan penjelasan teoretis, dan pembuat model perubahan bahasa terhadap waktu, la merupakan pasangan linguistik dari antropologi kultural (diakronik), sejarah sosial atau budaya, atau biologi evolusioner. Pada abad sembilanbelas, ilmu linguistik masih didominasi sejarah: ia merupakan studi tentang evolusi dan perubahan, bukan struktur. Setelah Saussure (1916) melakukan pemisahan radikal antara linguistik yang bersifat studi sinkronik dan diakronik yang memiliki tujuan-tujuan yang saling terpisah, mulailah terjadi pembelokan minat dalam suatu periode yang baru berakhir pada 1960-an, ketika (paling tidak di negara- negara berbahasa Inggris) ilmu linguistik yang diakui adalah linguistik sinkronik (‘struktural’) dan linguistik sejarah yang sesungguhnya masih menjadi minoritas dalam dunia linguistik pada umumnya atau, dari sudut pandang ahli linguistik, yang terbendung secara institusional menjadi filologi komparatif atau ilmu sejarah Inggris/Jerman yang termanifestasikan sebagai mata kuliah di universitas dan kajian jurnal. (Ada pengecualian khusus untuk Eropa, seperti Mahzab Praha, dan juga di Amerika, misalnya karya Sapir, Bloomfiled, Hockett dan sebagainya namun generalisasi itu berlaku umum). Dengan terjadinya pergeseran pokok perhatian dari pengolahan data menjadi kajian yang lebih teoretis, meskipun hal itu acapkali terjadi dengan pretensi untuk menjelaskan (Lass 1980), linguistik sejarah perlahan-lahan terintegrasi sebagai suatu sub-bidang dari linguistik umum. Masing-masing mazhab (paradigma) yang bersaing atau berurutan mulai mengembangkan semacam sintesis, di mana teknik-teknik deskripsi sinkronik dan analisis serta penjelasan klaim- klaim yang diaplikasikan terhadap data sejarah saling melebur (ini biasanya didasarkan pada keberhasilan diakroniknya). Di sini diasumsikan bahwa mutasi teori selalu bisa terjadi dari waktu ke waktu; ini juga terjadi pada, misalnya, ilmu genetika sinkronik dan teori evolusi dalam ilmu biologi. Linguistik sejarah memiliki empat jalur pemikiran utama sebagai berikut.

Jalur faktual/rekonstruktif. Jalur ini meliputi tiga kegiatan tradisional: pertama, merekonstruksi etats de langue yang tidak dinyatakan secara lisan, berdasarkan perbandingan bentuk-bentuk turunan dari berbagai bahasa; kedua, konstruksi kronika dari sejarah bahasa-bahasa atau keluarga bahasa (seperti kajian ulang sejarah-sejarah lama berdasarkan adanya bukti baru atau penafsiran baru); ketiga, etimologi atau konstruksi fonologi dan sejarah semantik dari kata atau kelompok kata tertentu, dengan memperlihatkan hubungan antara bentuk-bentuk kata yang mula-mula kelihatan tidak berkaitan (seperti hubungan antar kata feather, dengan petros/ batu dalam bahasa Yunani, dan pefre/ikhtiar dalam bahasa Latin seperti diungkapkan oleh Maher 1973). Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan dasar bagi disiplin ilmu ini dan masih dipraktekkan dalam sejumlah kasus terhadap keluarga-keluarga bahasa tak tertulis (lihat Dixon I960 mengenai keluarga bahasa Australia) atau aspek-aspek mikrohistoris yang tak tergali dari keluarga-keluarga bahasa itu (lihat Lass 1976 mengenai bagian-bagian sejarah Inggris yang ditolak).

Jalur penafsiran teoretis. Penafsiran ulang terhadap sejarah bahasa-bahasa merupakan salah satu paradigma penelitian mutakhir (yang acapkali bersaingan) yang mengandalkan penggunaan data sejarah untuk menyusun butir-butir teori umum atau model-model validitas khusus. Contohnya adalah sistesis strukturalis dalam karya Hoenigswald (1960) dan sintesis generatif dalam karya King (1969). Lightfoot (1979) berusaha menafsirkan kembali aspek- aspek sejarah sintaksis Inggris dengan menggunakan teori transformasional ‘restriktif. Harris (1979) menyusun sejarah sintaksis Perancis dengan menggambarkan tipologi urutan-kata dan teori sintaksis universal.

Jalur sosiolinguistik. Metode-metode kuantitatif mutakhir dari studi mengenai variasi linguistik dalam komunitas-komunitas bicara, khususnya kovariasi linguistik dan variabel-variabel sosial, kian berkembang dan mengarah kepada munculnya pengamatan-pengamatan terhadap perubahan yang sedang berlangsung (sesuatu yang tadinya dianggap mustahil). Studi-studi ini, kendati tidak sepenuhnya bersifat historis, telah menimbulkan pengaruh besar terhadap para sejarawan, karena untuk pertama kalinya mereka menjelaskan mekanisme utama perubahan sejarah variasi yang secara kumulatif digolongkan sebagai aliran tersendiri.

Jalur linguistik sosiohistoris. Teori sosiolinguistik telah diproyeksikan ke ilmu sejarah untuk membentuk subdisiplin baru, yakni ilmu linguistik sosiohistoris, yang merupakan sintesis besar dari kedua paradigma terdahulu, dan barangkali merupakan perkembangan mutakhir yang paling penting di bidang ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *