PENGERTIAN LEGENDA

adsense-fallback

PENGERTIAN LEGENDA – Seperti juga mite dan dongeng, terma­suk salah satu bentuk folklor yang disebut cerita prosa rakyat. Oleh yang empunya cerita, legenda dianggap sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Berbeda dengan mite, legenda bersifat sekular (keduniawian), terjadinya pada masa lalu yang belum begitu lama, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal kini.

adsense-fallback

Legenda dapat juga dianggap sebagai sejarah suatu kolektif (folk history), walaupun sejarah itu, karena tidak tertulis, telah mengalami distorsi, sehingga se­ring kali dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya. Oleh sebab itu, jika kita hendak menggunakan legen­da sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah suatu kolektif, kita harus membersihkan terlebih dahulu ba­gian-bagiannya yang mengandung sifat-sifat folklor, misalnya yang bersifat pralogis atau berupa rumus tradisi lisan seperti yang pernah ditemukan oleh Lord Raglan, antara lain: jika berbuat sesuatu seorang to­koh baru dapat berhasil setelah melakukannya tiga ka­li, atau seorang tokoh adalah anak dewa, atau proses kelahirannya tidak wajar seperti Karna (tokoh epos Mahabharata) yang dilahirkan melalui kuping ibunya, dan lain-lain.

Legenda bersifat migratoris, yakni dapat mengem­bara sehingga terkenal luas di daerah-daerah yang berbeda. Se’ain itu, legenda kerap kali tersebar-dalam bentuk pengelompokan yang1 disebut siklus, yaitu se­kelompok cerita yang berkisar pada suatu tokoh atau kejadian tertentu. Di Jawa, misalnya, legenda-legenda mengenai tokoh panji dapat digolongkan ke dalam le­genda siklus ini.

Menurut ahli folklor Amerika Serikat, Alan Dundes, legenda di setiap kebudayaan mungkin jauh lebih besar jumlahnya daripada mite atau dongeng. Karena, jika mite hanya mempunyai tipe cerita dasar yang terbatas, seperti penciptaan dunia dan asal mula terjadinya kematian, legenda mempunyai tipe cerita dasar yang tidak terbatas. Hal ini terutama berlaku pada legenda setempat, yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan legenda yang dapat legenda baru, atau paling sedikit suatu varian baru dari legenda lama pada khazanah umum teks-teks legenda yang telah ditranskrip untuk didokumentasikan. per‘ tambahan demikian tidak berlaku pada mite, sebab mite berdasarkan konsep folklor adalah penjelasan terbentuknya manusia seperti sekarang ini. Sudah ten­tu penjelasan semacam itu akan terbatas sekali. Harus diingat pula bahwa apa yang berhubungan dengan ke­percayaan, terutama yang sudah berupa isi kitab suci sukar sekali berubah.

Selanjutnya Alan Dundes pun mengatakan bahwa dongeng, jika dibandingkan dengan legenda, sangat terbatas jumlahnya, karena kebanyakan dongeng sebenarnya bukan dongeng baru, melainkan versi ba­ru dari dongeng lama. Sebaliknya, legenda baru dapat tercipta, apabil^ seorang tokoh tempat atau kejadian dianggap berharga oleh kolektifnya untuk diabadikan menjadi legenda. Sudah tentu hal itu tidak berarti bah­wa pada legenda tidak ada pola-pola tradisional. Po­la-pola inilah yang menyebabkan legenda baru tetap mirip dengan legenda lama.

Mengenai penggolongan legenda sampai kini belum ada kesatuan pendapat di antara para ahli. Jan Harold Brunvand, misalnya, menggolongkan legenda menjadi empat kelompok: (1) legenda keagamaan (ireligious legends); (2) legenda alam gaib (super­natural legends; (3) legenda perseorangan (personal legends); (4) legenda setempat (local legends).

Legenda Keagamaan yang menarik adalah ki­sah mengenai orang suci, yang dalam agama Katolik disebut para santo atau santa. Legenda semacam ini yang telah dibukukan disebut hagiography atau kisah orang-orang kudus. Contoh legenda mengenai orang suci di kalangan penganut agama Islam di Jawa ada­lah mengenai para wali, yaitu penyebar agama Islam. Ada banyak wali. tetapi yang utama adalah sembilan orang yang terkenal dengan nama wali sanga atau sembilan wali. Cerita mengenai siapakah kesembilan wali itu banyak versinya. Salah satu versi mengatakan bahwa mereka itu adalah Maulana Malik Ibrahim, Su­nan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Su­nan Gunung Jati. Selain wali-wali terkemuka ini, ma­sih banyak wali yang hanya terkenal setempat saja. Makam mereka sampai kini masih menjadi tempat berziarah orang-orang yang membutuhkan perto­longan secara gaib.

Bentuk lain legenda keagamaan adalah apa yang disebut kitab suci rakyat (bible of the folks). Contoh­nya adalah legenda-tentang lalat yang menolong Nabi v Isa sewaktu disalib dengan cara hinggap di tubuhnya, – sehingga para algojo mengira bahwa di bagian tubuh itu telah ada pakunya, karena lalat tersebut terlihat ba­gaikan kepala paku. Atas jasanya itu, keturunan lalat diizinkan oleh Allah untuk mencicipi makanan yang dihidangkan, sekali pun di meja raja.

Legenda Alam Gaib biasanya berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi, dan pernah dia­lami oleh seseorang. Fungsi legenda semacam ini te­rang adalah untuk meneguhkan kebenaran suatu takh- yul atau kepercayaan rakyat. Yang tergolong legenda alam gaib adalah kisah-kisah pengalaman seseorang dengan makhluk gaib, hantu, siluman, gejala alam

‘ gaib, tempat gaib, dll. Karena merupakan pengalaman pribadi seseorang, oleh ahli folklor Swedia, C.W. von mengembara. Selain itu, selalu ada pertambahan persediaan le­ Sydow, legenda alam gaib diberi istilah khusus, yakni fliemorat. Dapat dikatakan memorat adalah penga­laman seseorang yang erat hubungannya dengan suatu kepercayaan.

Walaupun merupakan pengalaman pribadi, legen­da semacam ini mengandung banyak motif cerita tra­disional yang khas pada suatu kolektif. Di Jawa Ti­mur, misalnya, orang yang pernah melihat hantu selalu menggambarkannya dengan bentuk-bentuk yang sudah ada dalam gambaran kepercayaan tradi­sional kolektifnya. Umpamanya orang yang sering pergi ke hutan, pada umumnya telah bertemu dengan hantu yang dapat tumbuh secara gaib dari bentuk kecil menjadi besar sekali dalam waktu singkat. Hantu itu mereka sebut gendruwo. Contoh lain, kaum pria yang sering kelayapan sampai jauh malam, misalnya seo­rang hidung belang atau penjual soto, sering menceri­takan pengalamannya bertemu dengan wanita cantik. Kepada tukang soto ia akan mempertunjukkan pung­gungnya yang berlubang sewaktu ditagih untuk mem­bayar soto yang telah disantapnya. Wanita itu adalah hantu yang disebut sundel bolong. Biasanya tukang soto yang pemberani akan memasukkan sambal ke da­lam lubang pada tubuhnya itu, sambil menjambak rambutnya yang panjang, dan baru akan melepaskan­nya apabila si hantu menyerahkan perhiasan padanya. Para pria hidung belang paling takut berhadapan de­ngan sundel bolong ini, karena hantu itu akan memen­cet buah jakarnya sehingga pecah.

Mengenai tempat gaib, misalnya ada legenda dari Lampung yang mengatakan bahwa ada beberapa orang yang pernah mengunjungi desa yang sudah le­nyap secara gaib beberapa abad lalu.

(3) Legenda Perorangan adalah cerita mengenai tokoh tertentu yang dianggap oleh yang empunya ce­rita benar-benar terjadi. Di Indonesia, jenis legenda sei ;acam ini banyak sekali. Di Jawa Timur, yang pa­ling terkenal adalah legenda tokoh Panji. Panji adalah putra raja dari Kerajaan Kuripan (Singasari) di Jawa Timur, yang senantiasa kehilangan istri tercintanya. Akibatnya timbullah banyak sekali cerita Panji, yang temanya selalu mengenai usahanya mencari istrinya, yang telah menyaru atau menjelma menjadi wanita lain, atau bahkan menjadi pria. Contoh legenda perse­orangan terkenal dari Pulau Bali adalah Jayaprana. Ja- yaprana berdiam di desa kecil Kalianget, yang terletak di Kabupaten Buleleng. Ia sejak kecil telah kehi­langan seluruh keluarganya, akibat suatu musibah pe­nyakit menular. Kemudian ia dipungut oleh raja Bu­leleng. Setelah dewasa ia jatuh cinta pada gadis molek bernama Layon Sari, dar berhasil menyuntingnya. Tetapi malangnya, ayah angkatnya kemudian tergila- gila kepada istrinya, dan kemudian berniat merebut­nya. Untuk mencapai maksud itu, ia kemudian menugaskan Jayaprana menuju ke medan perang, bu­kan untuk berperang, melainkan untuk dibunuh, kare­na sang ayah angkat juga memerintahkan orang lain untuk membunuhnya setiba di tempat perang. Sebagai hamba yang setia, Jayaprana tidak melawan sewaktu mau dibunuh, sehingga rencana busuk raja itu berha­sil. Namun sang raja tidak dapat memiliki Layon Sari, karena istri yang setia ini memilih mati daripada ber­suamikan pembunuh suaminya.

Legenda ini sangat menarik, karena bersifat univer­sal; di dalamnya terkandung motif cerita Uriah dalam Kitab Injil Perjanjian Lama, yakni cerita seorang pria yang membawa perintah tertulis yang akan mencela­kakan dirinya sendiri. Uriah adalah suami Batseba, wanita yang begitu menggairahkan Raja Daud, sehingga ia ingin memperistrinya dengan jalan apa pun. Untuk itu, Uriah diperintahkan pergi ke medan perang oleh Daud, dengan tujuan melenyapkan dia.

(4) Legenda Setempat adalah cerita yang ber­hubungan dengan nama suatu tempat. Contoh legenda semacam ini dari Jawa Barat adalah Legenda Kuning­an. Legenda ini menceritakan asal mula nama Ku­ningan yang diberikan untuk suatu kota kecil di lereng Gunung Ciremai, di sebelah selatan kota Cirebon, Ja­wa Barat. Menurut legenda tersebut, Sunan Gunung Jati, salah seorang dari Wali Sanga, pernah mengun­jungi negara Cina. Kaisar Cina menguji kesaktiannya dengan cara menyuruhnya menerka apakah benar putri kaisar sedang mengandung. Sang wali meng- iyakannya, sehingga kaisar Cina menjadi murka be­sar, karena jawaban itu menunjukkan bahwa wali dari Jawa Barat itu adalah wali palsu, karena ia tahu bahwa perut gendut putrinya sebenarnya adalah akibat sum- pelan bantal di bawah pakaiannya. Segera diperintah­kan agar sang wali dibuang ke laut. Namun, kemudian ternyata bantal di perut putri kaisar berubah secara gaib menjadi kandungan. Sebagai akibatnya, sang pu­tri minta diri pada ayahandanya untuk menyusul wali tersebut ke Pulau Jawa.

Syahdan, berkat kesaktiannya, tubuh sang wali ter­bawa oleh arus samudera dan tiba kembali di Jawa Barat. Setibanya di Jawa, sang putri Cina diambil istri oleh wali. Ia melahirkan putranya di suatu tempat yang kemudian diberi nama Kuningan, karena si bayi berkulit kuning, dan kemudian diberi nama Aria Ke­muning. Nama putri kaisar Cina itu adalah Ong Tin Nio.

Contoh-contoh cerita lainnya yang tergolong le­genda setempat, antara lain Legenda Tangkuban Pera­hu (Sang Kuriang), Legenda Banyuwangi, Legenda Asal Mula Nama Tengger dan Terjadinya Gunung Ba­tok.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback