PENGERTIAN KONGRES BAHASA INDONESIA

adsense-fallback

PENGERTIAN KONGRES BAHASA INDONESIA – Suatu perte­muan para ahli bahasa Indonesia dan tokoh masyara­kat lain untuk membicarakan cara-cara menegakkan dan membina bahasa Indonesia sebagai bahasa persa­tuan. Kongres I diadakan di Solo pada tahun 1938,” Kongres II di Medan pada tahun 1954, Kongres III di Jakarta pada tahun 1978, Kongres IV di Jakarta pada tahun 1983, dan Kongres V di Jakarta pada tahun 1988. Kongres tersebut lebih mempunyai arti sosial- politis daripada linguistik, karena segi teknis bahasa Indonesia tidak disoroti secara mendalam.

adsense-fallback

Kongres Bahasa Indonesia I diadakan di Solo pada tahun 1938. Keputusan Kongres Bahasa Indonesia I meliputi: (1) kedudukan bahasa: bahasa Indonesia diusulkan menjadi bahasa resmi, dan bahasa Indone­sia diusulkan menjadi bahasa pengantar dalam badan perwakilan dan perundang-undangan; (2) pengem­bangan bahasa: ejaan yang berlaku dipertahankan, te­tapi pembauran ejaan perlu dipertimbangkan, ejaan internasional perlu diajarkan di sekolah, tata bahasa baru yang adekuat harus disusun, dan leksikon harus dikembangkan; (3) pembinaan bahasa: bahasa persu- ratkabaran harus diperbaiki, pendirian Institut Bahasa Indonesia perlu dipertimbangkan, pendirian Fakultas Sastra dan Filsafat perlu dipikirkan.

Penulis makalah pada Kongres Bahasa Indonesiai, antara lain,

Sanoesi Pane: Sejarah Bahasa Indonesia;

Ki Hadjar Dewantara: Bahasa di dalam Pergoeroean;

Djamaloedin (Adi Negoro): Bahasa Indonesia di dalam Persoeratkabaran;

Mr. Amir Sjarifoeddin: Menjesoeaikan Kata dan Faham Asing kepada Bahasa Indonesia;

Mr. Muh. Yamin: Bahasa Indonesia sebagai Ba­hasa Persatoean dan Bahasa Keboedajaan;

Soekardjo Wirjopranoto: Bahasa Indonesia da­lam Badan Perwakilan;

S. Takdir Alisjahbana: Pembaharoean Bahasa dan Oesaha Mengatoernya

K. St. Pamoentjak: Dalil-dalil tentang Hal Edjaan Bahasa Indonesia;

Sanoesi Pane: Instituut Bahasa Indonesia;

M. Tabrani: Mentjepatkan Penjebaran Bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia II diadakan di Medan pada tahun 1954. Keputusan Kongres Bahasa Indone­sia II meliputi: (1) kedudukan bahasa: politik bahasa harus mengatur kedudukan dan hubungan timbal ba­lik antara bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan baha­sa asing, politik bahasa harus membangkitkan rasa cinta bahasa dan ras? harga diri, dan dasar bahasa In­donesia adalah bahasa Melayu disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam masyarakat; (2) pengem­bangan bahasa: rencana penyusunan buku logat (la­fal) Indonesia, penyempurnaan ejaan bahasa Indone­sia berdasarkan prinsip fonemis yang diresmikan oleh undang-undang, penyusunan tata bahasa normatifln- donesia untuk sekolah dasar dan menengah daiam jangka pendek, penyusunan tata bahasa deskriptif lengkap yang dilindungi undang-undang (sic) dalam jangka pendek, pengembangan tata istilah bersumber bahasa internasional dan bahasa daerah, serta pe­nyempurnaan ragam bahasa administratif dan perun­dang-undangan, bahasa ilmiah, bahasa pergaulan, ser­ta bahasa kesusastraan; (3) pembinaan bahasa: diadakannya mimbar kuliah bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa negara tetangga, bahasa Arab, Tiong- hca./dan Sanskerta, pendirian jawatan penerjemah ne­gara, pembentukan iembaga penyusunan kamus eti­mologi, pembentukan Lembaga Bahasa Indonesia untuk pengembangan dan pembinaan, pembentukan balai penerjemah sastra-sastra dunia, daerah, India, Pers i, Arab, pengembangan perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah, penggalakan penulisan buku keahlian yang disenai penghargaan menarik, serta usaha pembimbingan pertumbuhan bahasa Indonesia dan usaha menjadikan bahasa Indonesia bahasa ibu bangsa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia III diadakan di Jakarta pada tahun 1978. Keputusan Kongres Bahasa Indone­sia III meliputi: (1) umum: kemahiran bahasa Indone­sia harus menjadi salah satu prasyarat keprofesian dan kepegawaian dan Kongres Kebudayaan Nasional yang akan menggariskan berbagai kebijakan di bi­dang kebudayaan;(2) pe­ngembangan bahasa: pe­nyusunan pedoman lafal baku, peningkatan kaidah ejaan dan lafal baku, prio­ritas penyusunan tata ba­hasa yang menggam­barkan norma bahasa, penerbitan Kamus Baku Bahasa Indonesia, peng­galakan kemodernan ba­hasa menyangkut peris­tilahan dan pengembang­an ragam, standardisasi sistem bilangan Indonesia baru berdasarkan sistem bilangan Anglo-Sakson dan Perancis; (3) pembi­naan bahasa: pembentuk­an Dewan Nasional Pem­binaan dan Pengembang­an Bahasa, penggalakan Badan Penerjemah Nasional demi kecerdasan rakyat, penulisan buku pelajaran asli bermutu yang memper­hatikan latar budaya siswa yang berbeda, mening­katkan penataran guru bahasa dan pengembangan me­tode pengajaran bahasa, termasuk bahasa asing, mengutamakan keterampilan mengarang, dan pembi­naan bahasa daerah perlu diberi tempat dan waktu yang wajar dalam kurikulum. Dalam Kongres Bahasa Indonesia III ini diajukan 49 makalah.

Kongres Bahasa Indonesia IV diadakan di Jakarta pada tahun 1983. Keputusan Kongres Bahasa Indone­sia IV berupa kesimpulan dan usulan tindak lanjut da­lam masalah bidang bahasa, pengajaran bahasa, dan pembinaan bahasa dalam kaitannya dengan keduduk­an dan fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana pem­bangunan nasional, yaitu (1) sarana komunikasi pe­merintah dan kemasyarakatan; (2) sarana pengembangan kebudayaan; (3) sarana pendidikan dan pengajaran, termasuk wajib belajar; (4) sarana pe­ngembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam Kongres Bahasa Indonesia IV diajukan 50 makalah.

Kongres Bahasa Indonesia V diadakan di Jakarta pada tanggal 28 Otober sampai 3 November 1988. Kongres ini diawali dengan pembukaan oleh Presiden Soeharto di Istana Negara serta pembukaan pameran buku di Perpustakaan Nasional.

Dalam Kongres Bahasa Indonesia V ini diajukan 76 makalah.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

Incoming search terms:

  • pengertian kongres

adsense-fallback