PENGERTIAN KONFERENSI WARTAWAN ASIA-AFRIKA

adsense-fallback

PENGERTIAN KONFERENSI WARTAWAN ASIA-AFRIKA , Disingkat KWAA, berlangsung di Jakarta pada tang­gal 24 April sampai 1 Mei 1963, dengan peserta dari 25 negara Afrika dan 20 negara Asia. Yang bertindak sebagai tuan rumah adalah Indonesia, di bawah pim­pinan Djawoto, waktu itu ketua umum Persatuan War­tawan Indonesia (PWI).

adsense-fallback

Warna politik KWAA tercermin dalam topik-topik yang menjadi agenda, antara lain perang dan damai, kolonialisme dan imperialisme, penindasan dan ke­merdekaan, serta isi tidak kurang dari 33 resolusi. Sa­lah satu resolusi memuat pernyataan mendukung pemberontakan di Brunei yang berlangsung pada bu­lan Desember 1962 di bawah pimpinan A.M. Azhari, dan berdirinya “Negara Kalimantan Utara” yang mer­deka dari penjajahan Inggris. Dalam dokumen berju­dul Deklarasi Djakarta, dinyatakan bahwa wartawan- wartawan Asia-Afrika mengabdi pada perjuangan menentang imperialisme dan kolonialisme dalam se­gala bentuk dan manifestasinya, termasuk neokolonialisme, intervensi militer, agresi, serta per­juangan mewujudkan integritas dan persatuan nasio­nal.

Konferensi ini dibuka oleh Presiden Sukarno dalam upacara yang diadakan di gedung Istora Senayan. Sa­lah satu keputusan konferensi adalah membentuk se­kretariat tetap, yang dipimpin oleh seorang sekretaris jenderal, di Jakarta. Djawoto, sekretaris jenderal, di­bantu oleh 10 sekretaris, yang terdiri atas wakil dari Jepang, Republik Rakyat Cina, Sri Lanka, Pakistan, Suriah, Aljazair, Tanganyika (kini Tanzania), Mali, Rhodesia (kini Zimbabwe dan Zambia), dan Afrika Selatan. Di sidang khusus, yang diadakan pada tang­gal 30 November sampai 1 Desember 1964, diputus­kan untuk mengangkat Joesoef, bekas wartawan ha­rian Merdeka, sebagai wakil sekretaris jenderal.

Rencana untuk menyelenggarakan KWAA II di Al­jazair pada bulan April 1965 tidak terpenuhi. Ketika Presiden Sukamo melantik Djawoto sebagai duta be­sar Indonesia di Beijing, jabatan sekretaris jenderal untuk sementara lowong. Setelah kegagalan pembe­rontakan Gerakan 30 September 1965, sekretariat jen­deral KWAA di Jakarta untuk sementara dipegang oleh Arifin Bey, yang pernah memimpin surat kabar The Indonesian Herald. Tetapi tidak lama kemudian, Adam Malik, sebagai menteri- iuar negeri “waktu itu, memutuskan untuk menutup KWAA.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback