Advertisement

KOMPLEKSITAS BUNGA,¬†Menurut suatu pandangan evolusi bunga, bunga primitif angiosperma mirip suatu runjung, atau strobilus, yang tersusun atas satu poros tengah memanjang yang besar dan jumlah yang berisi tak terhingga bagian bunga yang tersusun spiral dan terpisah-pisah (daun kelopak, daun makota, benang sari dan bakal buah). Dari bunga yang seperti strobilus itulah evolusi bunga diperkirakan terjadi ke arah tipe-tipe bunga yang lebih kompleks. Bunga Nymphaea (teratai) dan Magnolia ( 8.1) memiliki beberapa persamaan dengan satu strobilus, dan karena itu, disebut ‘primitif’, sedangkan bunga yang lebih kompleks disebut ‘maju’.

Tumbuhan yang bunganya memiliki daun kelopak dan daun makota dalam sistem Engler disusun menurut asumsi bahwa tumbuhan itu telah berkembang melalui satu garis evolusi tertentu yang disebut garis kemajuan (progression line), dengan yang terpenting di antaranya:

Advertisement
  1. Dari bagian bunga yang tersusun spiral menjadi yang melingkar. Sifat primitif susunan spiral bagian-bagian bunga hanya tinggal pada beberapa suku yang masih hidup, dan pada suku-suku ini pun tidak meluas ke semua tempat perangkat bagian bunga. Jadi pada Michelia ( 8.2), yang merupakan contoh dari salah satu suku yang dikena paling primitif, benang sari dan bakal buahnya tersusun spiral, tetapi daun kelopak dan daun makotanya tersusun melingkar. Keseluruhan susunan pada kebanyakan bunga modern adalah melingkar.
  2. Dari jumlah bagian bunga yang besar clan tale tent, menjadi yang kecil dan tertentu. Pada anggota Dikotil yam.: lebih maju lagi jumlah bagian bunga umumnya dua atau lima atau kelipatannya, sedangkan pada Monokotil biasanya tiga
  3. Dari daun makota yang bebas menjadi daun makota yang :erfusi. Berdasarkan garis kemajuan inilah maka Engler membagi Dikotil menjadi dua kelompok utama, Archichla-:vdeae yang masing-masing daun makotanya betul-betul :-.trpisah satu sama lain, dan Metachlamydeae yang daun-daun makotanya berfusi menjadi makota yang gamopetal.
  4. Dari aktinomorfi menjadi zigomorfi. Pada beberapa macam Dunga semua bagiannya, perhiasan bunga atau makotanya serupa dan tersusun secara simetris di sekitar poros tengah, 5ehingga bunga itu simetri radial (aktinomorf). Pada bunga-Junga lain di antara bagian-bagian itu sendiri berbeda dalam ukuran dan bentuknya, sehingga hanya ada satu bidang yang dapat membagi bunga menjadi dua belahan yang sama simetri bilateral, atau zigomorf). Simetri bilateral dijumpai Dada bunga-bunga yang maju, baik pada Monokotil (misalnya anggrek) maupun pada Dikotil (misalnya Jacaranda dan banyak lagi Bignoniaceae lainnya), yang sering diasosiasikan dengan penyediaan tempat hinggap bagi serangga penyerbuk.
  5. Dari apokarpi menjadi sinkarpi. Adanya daun buah yang :erpisah (apokarpi) dinyatakan lebih primitif daripada keadaan yang lebih sering dijumpai, yaitu dua atau lebih daun buah berfusi membentuk bakal buah tunggal (sinkarpi).
  6. Dari hipogini menjadi epigini. Menilik kepada perlekatan benang sari dan perhiasan bunga atau makota, hipogini dianggap paling primitif dan epigini paling maju, sedangkan perigini merupakan pertengahan antara keduanya. Suatu fakta yang menarik adalah bahwa epigini dan zigomorfi (garis kemajuan butir 4 di atas) jarang terjadi bersama-sama di dalam suku-suku dikotil, dan dalam Compositae kombinasi ini dijumpai, tetapi hanya satu macam floret yang zigomorfi.
  7. Dari individu bunga yang mencolok menjadi perbungaan mencolok yang tersusun atas kelompok bunga-bunga kecil. Kecenderungan ini muncul dengan sendirinya pada beberapa garis divergen, dan dapat dianggap sebagai suatu sifat umum evolusi bagian-bagian bunga. Garis kemajuan mencapai perkembangan tertinggi pada Compositae, dan apa yang disebut ‘bunga’ di sini sebenarnya perbungaan (kapitulum) dengan setiap ‘daun makota’ merupakan bunga tunggal yang sangat bermodifikasi. Tak disangsikan lagi pengelompokan demikian akan menarik kunjungan serangga dan hewan penyerbuk lainnya.

Garis kemajuan tersebut itu terjadi secara independen dengan kecepatan yang berbeda pada garis keturunan yang terpisah, sehingga bunga suku tertentu yang mana pun mungkin maju pada beberapa bagiannya, tetapi primitif pada bagian lainnya. Oleh karena itu, Bignoniaceae adalah maju pada garis kemajuan butir 1-5, tetapi primitif pada butir 6 dan 7. Banyak kombinasi lain tentang sifat maju atau sifat primitif terjadi pada suku-suku lain (lihat  9.1). Compositae biasanya dianggap mewakili suku angiosperma yang paling maju, karena bunganya bersifat maju pada enam garis kemajuan, dan kadang-kadang pada ke tujuh-tujuhnya garis kemajuan tersebut di atas.

Konsep garis kemajuan berguna jika dua bunga akan dibandingkan. Misalnya, jika bunga Michelia dan Coffea ( 8.2) dibandingkan berdasarkan hal ini, akan tampak bahwa bunga Michelia primitif pada ketujuh garis kemajuan itu (walaupun hanya sebagian yang demikian pada dua garis kemajuan pertama), sedangkan pada Coffea maju pada semua butir, kecuali pada garis kemajuan nomor 4. Oleh karena itu, Michelia dapat dianggap memiliki tipe bunga yang paling primitif, sedangkan bunga kopi tergolong ke dalam tipe yang relatif maju.

Advertisement