Advertisement

Kompetisi, Kompetisi atau persaingan merupakan suatu sifat semua komunitas tumbuhan yang tertutup (yaitu komunitas yang menutup penuh lahan yang ditumbuhinya) dan kompetisi akar mungkin terjadi bahkan dalam beberapa komunitas terbuka. Di antara sumberdaya dalam habitat yang menjadi bahan persaingan bagi tumbuhan adalah berbagai garam mineral, senyawa-senyawa nitrogen, air dan sinar matahari, dan dua yang disebut terakhir biasanya adalah yang paling penting. Meskipun pada umumnya kompetisi terbesar terjadi antara tumbuhan yang tergolong dalam bentuk hidup yang serupa (yaitu yang termasuk dalam lapisan yang sama dalam suatu komunitas), kompetisi terjadi pula antara tumbuhan dari berbagai bentuk hidup. Sebagai misal, akar-akar berbagai pohon dapat saja bersaing dengan akar-akar tumbuhan lapisan bawah. Penelitian tentang pengelolaan padang rumput di Zimbabwe menunjukkan bahwa kondisi ternak tidak menurun bila potion-potion dan semak-semak yang menjadi sumber pakan pada musim kering dimusnahkan, sebab pemusnahan pohon-pohon dan semak-semak mengakibatkan peningkatan jumlah rumput-rumputan (kadang-kadang sampai 60 persen). Penambahan ini bukan karena hilangnya lindungan (yang dalam hal ini minimal) atau karena penambahan luas lahan (yang juga sedikit) yang tersedia bagi pertumbuhan rumput-rumputan, tetapi disebabkan oleh berkurangnya persaingan akar.

Seperti halnya dengan semua tumbuhan yang mempunyai kisaran toleransi yang khas terhadap kondisi iklim dan tanah, demikian pula berbagai tumbuhan mempunyai toleransi yang kecil terhadap kompetisi dibandingkan dengan tumbuhan lainnya. Karena alasan inilah vegetasi suatu tempat jarang mempunyai semua jenis yang menurut toleransinya terhadap iklim dan tanah dapat hidup subur di tempat tersebut. Suatu jenis tidak akan berkembang jika jenis tersebut tidak mampu berkompetisi dengan tumbuhan di sekitarnya, baik sebagai semai ataupun kemudian sebagai tumbuhan dewasa.

Advertisement

Pengaruh kompetisi yang menentukan terhadap berbagai tumbuhan dapat ditunjukkan secara meyakinkan dengan adanya pertumbuhan yang dramatis dan eksplosif yang adakalanya terjadi bila kompetisi tidak berlangsung. Suatu contoh adalah pertumbuhan eksplosif paku air mengambang Salvinia molesta (semula diperkirakan Salvinia auriculata, yang diacu demikian dalam literatur) yang mengiringi pembuatan Danau Kariba di Afrika Tengah. Penutupan Bendung Kariba pada bulan Desember 1958 mengakibatkan pembentukan danau buatan terbesar di dunia. Danau ini menggenangi seluruh bagian tengah lembah Zambesi dan memerlukan waktu 4.5 tahun untuk mengisi lembah yang panjangnya 280 km dengan luas permukaan 5546 km2. Tumbuhan Salvinia molesta yang tidak diketahui asalnya tetapi tercatat pertama kali pada tahun 1948 di bagian hulu Zambesi. Meskipun S. molesta telah ada di hulu Zambesi 10 tahun sebelum penutupan Bendung Kariba, pertumbuhannya meledak setelah bagian hair sungai tersebut berubah menjadi danau. Dari pulau terapung S. molesta yang terlihat pertama kali pada bulan Mei 1959, gulma ini berkembang biak cepat sekali sehingga dengan survei udara setahun kemudian gulma tersebut tampak telah menutupi danau seluas kira-kira 195 km- 2. Penutupan ini berkembang terus dan pada tahun 1962 :nencapai puncaknya dengan luas sekitar 1000 km2, atau sekitar seperlima luas danau pada waktu itu. Setelah itu luasnya berkurang sebagai akibat badai ganas yang menghancurkan pulau gulma tersebut, dan sekarang daerah yang ditumbuhi gulma tersebut hanya terbatas pada mulut-mulut sungai dan teluk-teluk yang terlindung. Invasi besar-besaran Danau Kariba oleh S. molesta tidak saja menarik dari segi teori, tetapi juga merupakan ancaman bagi pelayaran, perkembangan perikanan niaga, dan bahkan bagi jalannya turbin-turbin pembangkit tenaga listrik di bendung.

Barangkali ada dua sebab terjadinya ledakan pertumbuhan S. molesta, yaitu ketiadaan kompetisi untuk ruang dan ketiadaan kompetisi untuk hara makanan. Pada tahap awal pembentukan Danau kariba, kawasan perairan dangkal yang tenang dan luas tersedia dan S. molesta yang kebetulan ada pada waktu itu memanfaatkannya. Mungkin juga tumbuhan lain, seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat meledak juga jika sekiranya S. molesta tidak melakukannya terlebih dahulu. Sementara danau terisi, semakin meningkatnya kegiatan gelombang secara progresif membatasi tersedianya habitat yang cocok karena S. molesta tidak tahan terhadap badai. Sewaktu danau tersebut sedang terbentuk, air menjadi lebih kaya akan hara makanan yang dilepaskan dari tanahtanah yang baru tergenang air. Kawasan yang terliput oleh Danau Kariba digenangi secara bertahap selama musim hujan 1959-1963 dan barangkali setiap masa penggenangan ini diikuti oleh pertumbuhan serentak Salvinia. Pertumbuhan serentak yang musiman ini menunjukkan tanggap pertumbuhan oleh Salvinia ketika hara makanan yang melimpah menjadi tersedia. Tanggap serupa terlihat pula pada fitoplankton di sepanjang garis pantai.

Pembentukan perairan dangkal yang luas dan kaya akan hara makanan di mana Salvinia dapat tumbuh tanpa kompetisi, merupakan fase sementara dalam proses pembentukan Danau Kariba. Sementara danau menjadi lebih dalam, luas habitat yang baik berkurang dan Salvinia menurun pula. Ketika bahaya potensial yang diakibatkan oleh tumbuhan tersebut terhadap pelayaran, perikanan dan instalasi hidroelektris mulai dirasakan; penyemprotan dengan herbisida secara ekstensif dilaksanakan dan berbagai rekomendasi dibuat. Tetapi kemudian ternyata bahwa usaha pengendalian tidak diperlukan karena ancaman tersebut hilang sebelum menjadi kenyataan.

Advertisement