Advertisement

Dalam bukunya A Theory of L. Festinger (1957) mengemukakan bahwa dalam teorinya yang banyak dipengaruhi oleh ieori psikologi lapangan dari K. Lewin (Sarwono, 1991a), sektor-sektor dalam lapangan kesadaran dinamakan- nya elemen-elemen kognisi. Elemen-elemen kognisi itu saling berhubungan yang terdiri atas tiga jenis hubungan, yaitu hubungan yang tidak relevan, hubungan yang konsonan, dan hubungan yang disonan.

Hubungan yang tidak relevan, misalnya, terdapat dalam lapangan kesadaran (kognisi) Wayan tentang John yang tidak mau membelikannya tiket (elemen kognisi pertama) dan temannya John yang mau datang ke rumah John (elemen kedua). Walaupun kedua elemen itu masih ada kaitannya (pada diri John), hubungannya tidak saling mempengaruhi (tidak relevan) sehingga tidak berpengaruh apa-apa terhadap diri Wayan.

Advertisement

Akan tetapi, ketika John tidak mengizinkan Wayan dan kemenakannya tinggal sekamar dengan temann John dan keluarganya, hubungan antara kedua elemen menjadi relevan. Dalam hal ini timbul hubungan yang disonan. Di satu pihak, John adalah orang yang baik hati (elemen pertama), di pihak lain ia tidak mengizinkan Wayan dan kemenakannya tinggal bersama temannya John (elemen kedua). Elemen kedua bertentangan dengan elemen pertama sehingga timbul perasaan tidak senang, janggal, aneh pada diri Wayan (dalam teori Lewin yang pernah diuraikan dalam bab terdahulu contoh kondisi disonan pada diri Wayan ini dapat digolongkan sebagai konflik mendekat-menjauh. Lihat halaman 35 dan 67 dari buku ini).

Hubungan yang ideal dalam struktur kognisi setiap manusia adalah kondisi konsonan, yaitu jika antara dua elemen ada hubungan yang relevan, hubungan itu hendaknya tidak saling bertentangan. Dalam kasus Wayan, jika John itu orangnya baik hati (elemen pertama) harusnya ia mau menerima Wayan dan keponakannya menginap beberapa hari lagi bersama tamunya John (elemen kedua).

Dalam hal ini terjadi hubungan yang disonan (seperti dalam kasus Wayan di atas), orang akan menempuh upaya agar tercapai hubungan yang konsonan kembali. Jenis upaya yang pertama adalah mengubah elemen perilaku. Dalam kasus Wayan, ia pulang saja dengan membayar ongkos sendiri untuk kemenakannya. Dengan demikian ia tidak perlu lagi menghadapi disonansi antara elemen atribusi John yang baik hati dan John yang pelit.

Upaya yang kedua adalah mengubah elemen kognisi ling- kungan. Dalam kasus Wayan, ia mencoba untuk meyakinkan John bahwa membolehkan Wayan dan kemenakannya untuk menginap beberapa hari lagi adalah hal yang baik dan harus dilakukan oleh John. Sasarannya adalah agar terjadi perubahan pada perilaku John, sehingga terjadi hubungan yang konsonan antara John yang baik dan John yang mengizinkannya menginap beberapa hari lagi.

Jenis upaya yang ketiga adalah menambah elemen baru kognisi baru, sehingga elemen kognisi yang ada diperkuat atau mendapat dukungan dari elemen yang baru. Dalam kasus Wayan, kalau saja ia tahu {misalnya, dari orang “bule” lain) bahwa buat orang “bule” soal uang dan soal memberi penginapan adalah hal yang selalu diperhitungkan, betul, maka Wayan tidak akan memberi atribusi pelit kepada Mr John, sehingga terjadi hubungan yang konsonan kembali dalam kognisi Wayan. Namun, yang terjadi dalam kutipan cerita pendek di atas, Wayan justru menambah elemen-elemen kognitif baru yang memperkuat atribusi negatifnya terhadap Mr. John, seperti ternyata ia tidak memberi ongkos pulang untuk keponakannya, ia tidak mengantar Wayan dan kemenakannya dengan mobil ke stasiun bis dan sebagainya.

Advertisement