Advertisement

PENGERTIAN KESENIAN KUDA KEPANG – Atau kuda lumping, salah satu je­nis kesenian tradisional yang menjadi pertunjukan rakyat di Jawa, berupa tarian menunggang kuda, yang dimainkan oleh sekelompok orang dengan iringan ga­melan. Tokoh-tokohnya merupakan kombinasi tokoh lucu seperti Pentul dan Tembem, atau Pentul dan Ka­cung, dengan tokoh raksasa yang disebut barongan. Gamelan pengiringnya terompet kecil, angklung, gong kecil, kendang, kenong, dan ketipung. Pakaian para pemainnya berbeda antara daerah yang satu dan lainnya. Namun pada dasarnya para pemain berpaka­ian ala kesatria, agak mirip pakaian wayang orang.

Punuak acara adalah pertunjukan menegangkan yang dilakukan oleh para pemain yang kerasukan (ke­surupan), seperti mengunyah dan menelan kaca bola lampu, padi, mengupas kelapa dengan gigitan gigi, makan pisau silet, berbaring di atas paku tajam sambil memakan pecahan gelas dan piring. Selain itu, para pemain yang menunggang kuda-kudaan itu juga dile­cut dengan sangat keras, sehingga bunyinya meme­kakkan telinga. Namun para pemain tidak memperli­hatkan rasa sakit. Keadaan ini dimungkinkan karena bersarra rombongan itu juga ada seorang atau dua orang dukun yang bertanggung jawab atas kesela­matan para pemain. Mereka ini biasanya juga merang­kap sebagai ketua rombongan            .

Advertisement

Kesenian ini biasanya Jilakukan oleh beberapa orang pria yang dirias sangat mencolok mata, dengan pakaian setengah pria setengah wanita. Gerakannya menyerupai gerak tari wayang, walaupun sangat se­derhana. Pemain wanita jarang atau bahkan tidak per­nah ada, karena dalam upacara yang sifatnya magis itu para pemain akan kesurupan dan melakukan hal-hal yang dinilai membahayakan.

Pada umumnya iring-iringan kesenian kuda lum­ping terdiri atas kelompok pengawal yang bertugas sebagai pembuka jalan, pemberi komando, dan penanggung jawab kelompok. Kelompok ini biasanya terdiri atas dua sampai empat orang laki-laki. Di samping itu, ada pula kelompok pendamping yang jumlah dan tugasnya tiliak jauh berbeda dengan kelompok pengawal, hanya mereka lebih giat memotivasi pe­nonton untuk menyemarakkan suasana. Kelompok pemain atau penari terdiri atas penari inti dan penari cadangan, yang masing-masing menunggang kuda (kuda lumping), dan penari tanpa kuda yang melaku­kan gerakan tari sesuai dengan irama gamelan. Ke­lompok terakhir adalah pengiring yang jumlahnya le­bih banyak, dan tugasnya menyemarakkan suasana dan menjaga keamanan selama pertunjukan.

Permainan yang berlangsung sekitar satu sampai dua jam ini diadakan di lapangan terbuka. Pemba­yaran untuk melihat pertunjukan ini bersifat sum­bangan suka rela. Salah seorang anggota kelompok berkeliling lapangan mendatangi penonton satu per satu sambil menadahkan tempat untuk menerima uang dari penonton. Penonton yang tidak mau mem­bayar tidak dipermasalahkan.

Jenis kesenian kuda lumping ini diduga berasal dari Jawa Timur, dari jaman Kerajaan Daha. Menurut ce­rita, pada masa itu kuda merupakan kendaraan atau tunggangan utama para kesatria, pangeran, dan raja. Pada upacara-upacara kebesaran kerajaan, mereka muncul sambil menunggang kuda masing-masing. Hal ini menimbulkan suatu kebanggaan tersendiri ba­gi seluruh warga kerajaan. Pada masa selanjutnya, pe­ranan para kesatria mulai mundur, dan muncullah di kalangan rakyat suatu bentuk permainan yang meni­rukan para kesatria penunggang kuda. Mereka mem­buat kuda-kudaan dari anyaman bambu (kepang), yang kemudian dikenal dengan sebutan jaran kepang, dan menungganginya sambil menari-nari dan berting­kah laku seperti seorang kesatria. Sejak itu, lahirlah kesenian rakyat kuda lumping.

Kesenian ini juga mengisahkan lakon tokoh raja Ja­wa Timur yang bernama Raden Panji. Diceritakan bahwa pada jaman dahulu, Kudawaningpati, raja dari Kerajaan

Jenggala, ingin memperistri Dewi Sekartaji, ratu dari Kerajaan Kediri. Kudawaningpati kemudia menuju Kediri diiringi para pengikutnya. Dalam per­jalanan yang sangat jauh ini mereka bertemu dan ber­tempur dengan Singabarong, Bujang Anom, Banaspati, Pentul, Kacung, Cepot, yang berakhir dengan kemenangan di pihak Raja Jenggala. Mereka yang te­lah dikalahkannya kemudian menjadi pengikutnya. Setelah sekian lama dalam perjalanan, rombongan Raja Jenggala sampai di Kerajaan Kediri dan raja ber­hasil mempersunting Dewi Sekartaji. Berdasarkan ce­rita ini, rombongan kesenian kuda lumping meng­ikutsertakan tokoh-tokoh tersebut di atas, walaupun namanya berbeda-beda di setiap daerah. Bahkan, kesenian ini berkembang dengan menggunakan ilmu mistik sebagai puncak acaranya.

Ada beberapa sebutan untuk kesenian rakyat ini di beberapa daerah yang mengenalnya, misalnya jatilan di wilayah Yogyakarta, Magelang, dan sekitarnya. Di Yogyakarta, tarian jatilan selalu dipetunjukkan bersa­ma-sama dengan tarian raksasa yang disebut barong­an. Selain itu, acara ini juga dibarengi dengan pela­wak dengan topeng pentul dan tembem yang menyanyikan lagu-lagu penuh humor dengan lawak – an yang menjurus porno. Di wilayah daerah kebuda­yaan Mancanegari (Madiun, Kediri, dan daerah delta Sungai Brantas), kesenian ini dikenal dengan sebutan reyog. Pemain reog terdiri atas seorang penari utama bertopeng, empat orang penari berkuda (kuda ke­pang), seorang penari pemeran tokoh raksasa berto­peng yang berperang melawan reog, seorang pelawak bertopeng tembem, seorang penari ledek, dan lima atau enam orang pemain alat musik. Alat musiknya adalah terompet kayu, angklung, gong, ketuk, dan genderang. Tarian utamanya adalah tarian reog, sedangkan tarian lainnya hanya tambahan saja. Pemimpinnya adalah warok yang sering kali merang­kap sebagai pemain musik, dan biasanya memiliki gemblak, penari-penari pria remaja yang menarikan tarian ledek dengan mengenakan pakaian wanita. Pe­nari-penari remaja ini kedudukannya mutlak berada di bawah kekuasaan warok yang membeli atau me­nyewanya dari orang tua mereka.

Di daerah Banyumas, pertunjukan kesenian kuda lumping disebut jaran ebleg pertunjukan ini dikom­binasikan dengan tokoh pentul dan tembem. Di Boyo­lali kesenian ini disebut jlantur, yaitu pertunjukan yang menggambarkan keperkasaan para prajurit ber­kuda sambil membawa tombak dan pedangnya. Di Ja­wa Barat kesenian Ini disebut kuda lumping, sedang­kan di Jawa Timur disebui jaran          suara cambuk pada penunggang kuda kepang sangat keras.

Incoming search terms:

  • pengertian kuda lumping

Advertisement
Filed under : Budaya, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian kuda lumping