PENGERTIAN KERACUNAN TIMBEL

adsense-fallback

Terjadi bila tubuh mengandung timbel lebih dari batas yang dapat ditole- ransi. Timbel yang berlebih tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan, saluran pernapasan, atau kulit. Pada keadaan normal, orang dewasa mengkonsumsi timbel sekitar 0,3 miligram per hari. Kira-kira hanya 10 persen saja yang diserap ke dalam tubuh, dan sebagian akan dikeluarkan lagi melalui air seni, tinja, dan keringat. Bila jumlah yang dikonsumsi per hari melebihi 0,6 miligram, kemampuan tubuh untuk mengeluarkannya menjadi tidak memadai sehingga timbel menumpuk di dalam tubuh dan menimbulkan gejala keracunan. Keracunan timbel dapat dideteksi dengan menganalisis air seni atau darah atau mengambil gambar tulang dengan sinar-X. Gejala keracunan baru muncul dalam beberapa bulan dan secara berangsur-angsur, biasanya didahului oleh gejala diare, anemia, dan gelisah. Banyak juga korban yang mengalami sekelompok gejala yang di negeri Barat disebut mulas timbel atau mulas pelukis, yakni nyeri perut, muntah-muntah, dan sembelit. Bila kadar timbel dalam tubuh cukup tinggi, kerusakan otak dapat terjadi dengan gejala hilangnya kesadaran dan kejang-kejang. Keadaan ini dapat berakhir dengan kematian, atau bila tidak, hampir semua penderita yang dapat bertahan hidup mempunyai gejala sisa akibat gangguan pada otak.

adsense-fallback

Obat keracunan timbel membantu tubuh mengenyahkan timbel itu lewat air seni. Biasanya digunakan zat sepit, seperti EDTA (asam etilenadiaminatetraasetat atau garamnya). Pengobatan ini memerlukan waktu beberapa bulan. Namun, upaya pencegahan lebih bermanfaat, misalnya dengan menjauhkan benda yang mengandung timbel dari jangkauan anak, atau menciptakan lingkungan kerja yang aman.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback