Advertisement

KELOMPOK-COROLLIFERAE, Suku-suku yang paling primitif dalam Monokotil memiliki daun kelopak dan daun makota yang nyata, tetapi dalam perjalanan evolusinya kedua pusaran bagian bunga ini menjadi petaloid dan menjadi kelihatan sama. Suku-suku yang memiliki perhiasan bunga yang petaloid seperti itu dimasukkan ke dalam kelompok Corolliferae, yang diawali dengan Liliaceae dan berakhir dengan Orchidaceae.

Liliaceae

Advertisement

Liliaceae ( 11.1) merupakan suku yang secara menda-sar penting dalam Monokotil, sebab suku ini merupakan pangkal pusat bagi suku-suku lainnya, yang secara langsung atau tidak langsung dapat ditelusuri.

Pertelaan Suku

Terna, jarang perdu, kadang-kadang memanjat, ber-rimpang.berumbi lapis (bulb), bersubang (corm). Daun tunggal, letaknya bervariasi. Bunga aktinomorf, berkelamin dua, biasanya tersusun dalam tandan (tidak pernah berbentuk payung). Perhiasan bunga bersegmen 6 dalam 2 pusaran yang sama. Benang sari 6 dalam dua pusaran, berhadapan dengan segmen perhiasan bunga dan melekat padanya atau bebas. Bakal buah menumpang, ber-ruang 3, dengan plasenta di ketiak; bakal biji banyak, dalam 2 garis pada setiap plasenta. Buah berbentuk kapsul atau buah buni.

Struktur bunga Liliaceae sangat seragam, tetapi perawakan dan kenampakannya sangat bervariasi. Liliaceae merupakan suku terbesar ketiga dalam Monokotil, dan dapat dibagi menjadi dua seri utama: (1) kelompok yang umumnya lebih primitif dan memiliki rimpang di bawah tanah serta akar yang berserat atau berumbi; dan (2) kelompok yang lebih maju yang telah mengembangkan bentuk sistem perakaran yang sangat berbeda, yaitu umbi lapis atau subang. Liliaceae yang memiliki subang atau umbi lapis beradaptasi baik untuk kehidupan di daerah lebih kering dan tumbuh berlimpah di daerah Timur Tengah dan bagian tertentu Afrika Selatan. Jenis-jenis yang termasuk ke dalam berbagai marga, termasuk marga tipe Lilium, biasanya ditanam di kebun-kebun, dan selain pemanfaatan tersebut, suku ini tidak mempunyai nilai ekonomi.

Semua anggota Liliaceae memiliki bakal buah menumpang, dan dahulu sifat inilah yang dijadikan ciri untuk membedakan suku ini dengan suku yang paling dekat kekerabatannya, yaitu Amaryllidaceae. Hutchinson menganggap bahwa tipe perbungaan merupakan sifat yang lebih penting dan lebih alami, maka perbungaan yang berbentuk payung (bukan bakal buah yang terbenam) sebagai sifat yang membedakan Amaryllidaceae dari Liliaceae. Diterimanya pandangan ini mengakibatkan pemindahan beberapa marga yang memiliki bakal buah menumpang tetapi mempunyai perbungaan berbentuk payung dari Liliaceae ke Amaryllidaceae. Margamarga ini mencakup marga yang sudah banyak dikenal. Allium (bawang bombay dan bawang merah) yang digunakan dan dikan dalam beberapa buku sebagai contoh khas Liliaceae. Pada Liliaceae dan Amaryllidaceae terdapat enam bagian perhiasan bunga dan enam benang sari, tetapi jika pada Liliaceae (menurut batasan Hutchinson) bunganya tidak pernah berbentuk payung dan bakal buahnya selalu menumpang, maka pada Amaryllidaceae (menurut batasan Hutchinson) perbungaannya selalu berbentuk payung yang didukung oleh satu atau lebih braktea yang menyerupai selaput, akar rimpangnya selalu menjadi umbi lapis atau subang dan bakal buahnya khas tetapi tidak selalu terbenam. Konsep Hutchin-son mengenai Liliaceae ini disokong oleh beberapa jalur bukti terpisah yang berdasarkan pengamatan morfologi, anatomi dan serbuk sari. Perbedaan antara kriteria yang digunakan dahulu dan sekarang untuk membedakan Liliaceae dari Amaryllidaceae dikan dengan dua cara yang mengklasifikasikan marga Lilium, Allium dan Crinum.

 

Advertisement