Advertisement

Kebakaran Buatan Manusia, Jika sebidang padang rumput di setiap bagian Afrika yang mempunyai curah hujan tahunan lebih dari 50 cm dilindungi dari kebakaran (dan penggembalaan) dan diamati dengan teliti, berbagai perubahan akan segera tampak. Pertama-tama penutupan rumput mulai tampak menjadi lebih kasar karena menyebarnya rumput-rumput merumput yang menahun. Menyebarnya rumput yang lebih tegar ini menyebabkan penyingkiran berbagai kompetitor yang lebih lemah, termasuk sebagian besar jenis-jenis rumput setahun, dan setelah beberapa tahun perubahan-perubahan nyata dalam komposisi jenis padang rumput ini dapat direkam. Pada saat yang sama, asal saja di sekitarnya terdapat pohon induk, akan muncul pula kecambah jenis pohon-pohonan, dan dalam waktu 20 atau 30 tahun kawasan tersebut akan berkembang menjadi belukar atau hutan rendah. Penggantian padang rumput oleh belukar telah sering diperagakan di beberapa pusat penelitian di Afrika, termasuk Setasiun Penelitian Padang rumput di Marandellas di Zimbabwe. Di sini satu petak lahan yang semula merupakan padang-rumput selama berpuluh-puluh tahun, dilindungi dari penggembalaan dan pembakaran sejak tahun 1930, dan sekarang lahan tersebut tertutup belukar lebat.

Bukti yang lebih langsung tentang pentingnya api secara ekologi ditunjukkan oleh percobaan jangka panjang tentang pengaruh kebakaran terhadap hutan rendah Brachystegia julbermardia di Zambia ( 13.4). Dalam kondisi normal kebakaran akan terjadi di hutan semacam ini setiap saat pada musim kering, terutama sering terjadi pada akhir musim kering bila tumpukan serasah kering mudah sekali terbakar. Pada tahun 1933 petak-petak hutan asli (petak Hutan) dan petak-petak hutan asli yang tumbuhan berkayunya dihilangkan sampai ke pangkalnya (petak Trubus) dibuat. Sejak 1933 kedua perangkat petak tersebut mendapat tiga perlakuan berikut: (1) pembakaran lambat, yaitu pembakaran parah pada akhir musim kering; (2) pembakaran awalan, yaitu pembakaran ringan pada awal musim kering; dan (3) tidak ada pembakaran sama sekali. Kecenderungan ekologi sebagai akibat dari pembakaran setiap tahun tampak jelas pada tahun 1944 ketika diadakan pencacahan lengkap di semua petak, dan pengamatan berikutnya hanya memperkuat kecenderungan tersebut. Secara umum dapat dikatakan bahwa pembakaran lambat secara progresif merusak hutan asli (seperti ditunjukkan oleh perusakan lapisan perdu dan menipisnya lapisan pohon dalam petak Hutan) dan secara efektif merintangi regenerasi dengan trubus (seperti ditunjukkan oleh padangrumput lebat yang berkembang dalam petak-petak Trubus. dan pertumbuhan rumput yang lebat pada lantai petak-petak Hutan). Ini sangat kontras bila dibandingkan dengan efek pembakaran awal yang lebih kecil yang memungkinkan hutan yang ada (petak-petak Hutan) untuk bertahan sebagai hutan tertutup dan tidak mempengaruhi banyak terhadap regeneras alami (seperti terlihat pada hutan yang beregenerasi di petakpetak Trubus). Petak-petak yang diberi perlakuan pembakaran awal mirip sekali dengan petak-petak yang tidak dibakar Efek buruk dari pembakaran lambat terhadap pepohonan ; 13.5) menunjukkan bahwa banyak dari padangrumput di dunia dipertahankan oleh kebakaran yang terjadi selama musim kering. Benar sekali bahwa sebagian besar lahan di Afrika, di sebelah selatan Sahara terbakar setiap tahun. Kebakaran tidak menjalar secara menerus pada suatu daerah yang luas tetapi terjadi satu kebakaran pada satu waktu pada bercak-bercak kecil sehingga akibatnya adalah pola mosaik. Dengan kondisi seperti ini beberapa daerah mungkin terbakar dua kali dalam satu tahun, sedangkan yang lain tidak terbakar pada tahun-tahun tertentu.

Advertisement

Kebakaran mempunyai beberapa pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap vegetasi. Kebakaran lambat di savana dapat menyebabkan suhu di permukaan lahan meningkat sampai sekitar 700 °C. Panas ini mematikan daun-daun dan kambium yang tidak terlindung oleh periderm tebal. Untungnya panas cepat hilang dari permukaan tanah karena konveksi, dan pada kedalaman lebih dari 1-2 cm suhu tanah hampir tidak meningkat. Bila kebakaran merupakan sifat lingkungan yang berulang, tumbuhan mesti mempunyai kemampuan adaptasi yang membuatnya menjadi tahan api bila tumbuhan itu harus hidup. Karena posisi kuncupnya yang terbuka, pohon-pohon sangat peka terhadap pengaruh kebakaran yang merusak. Karena itu sifat-sifat tahan api berkembang lebih maju pada pohon-pohon daripada terna, meskipun adaptasi yang kurang menonjol pada terna sama kritisnya dalam memungkinkan mereka untuk bertahan hidup. Sebagian besar pohon-pohon dan perdu-perdu di savana mempunyai pepagan tebal yang tidak meragukan lagi mempunyai fungsi untuk mengisolasi batang dan ranting dari panas yang tinggi tetapi hanya sebentar yang ditimbulkan oleh kebakaran. Meskipun demikian pertumbuhannya terhambat juga sehingga batang tidak tumbuh lurus melainkan bengkok-bengkok dan benjol-benjol. Banyak pohon yang tahan api mampu pula beregenerasi dari sistem perakarannya, yang secara tipikal terdiri atas sebuah akar tunggang dan akarakar lateral yang tumbuh hampir sejajar pada kedalaman antara 10 dan 20 cm di bawah permukaan tanah dan sering kali membentang ke luar sampai jarak yang cukup jauh. Jadi tanah di savana pada kedalaman ini dipenuhi dengan jaringan akar-akar pohon dan perdu yang panjang dan saling melilit. Sistem pucuk tumbuhan seperti itu sering kali kecil dibandingkan dengan besarnya sistem perakaran. Pucuk-pucuk terbakar secara berulang pada musim kering dan berada di permukaan tanah, tetapi akar-akar menghasilkan pucukpucuk baru yang disebut trubus (suchers). Regenerasi dengan trubus ini sangat umum dan merupakan bagian terbesar dari tumbuhan berkayu yang tingginya kurang dari 2 m. Selain dari batangnya berpepagan tebal dan kemampuannya beregenerasi, beberapa pohon di savana juga meluruhkan daunnya atau meranggas. Di savana sebagian besar daun-daun mati karena kebakaran setiap tahun dan pertumbuhan baru daun yang serentak terjadi segera setelah daun-daun yang tua terbakar, sehingga tidaklah mudah untuk membedakan apakah suatu pohon itu meranggas secara alami atau tidak.

Vegetasi terna di savana terdiri atas dua kelompok tumbuhan, yaitu rumput-rumput (yang sebagian besar berupa hemikriptofit) dan geofit. Sebagian besar rumput savana adalah tumbuhan tahunan dan tumbuh dalam rumpun, yang bagian luarnya tampaknya berfungsi sebagai pelindung meristem istirahat di bagian tengah dari kerusakan oleh api. Setelah kebakaran rumput-rumput beregenerasi dengan sangat cepat dan menghasilkan pucuk-pucuk hijau baru. Sebenarnya terdapat bukti-bukti bahwa pertumbuhan berbagai rumpUt dirangsang oleh pembakaran bagian-bagian tua. Geofit, yang mempunyai organ penyimpan makanan di bawah tanah yang menghasilkan pucuk-pucuk berdaun pada musim tumbuh, terlindung dari api lebih baik daripada rumput-rumput karena kuncup-kuncup tumbuhnya terdapat jauh di bawah permukaan tanah yang hanya sedikit atau sama sekali tidak terpengaruh oleh kebakaran di permukaan. Dengan alasan yang sama terofit, yang tumbuh dari biji, mungkin terwakili dengan baik dalam tipe-tipe savana tertentu.

Frekuensi kebakaran di sebagian besar padang-rumput di dunia menimbulkan pertanyaan tentang status alami savana. Di sebagian besar kawasan savana kebakaran dibuat dengan sengaja oleh para pemburu untuk menggiring hewan, atau oleh para peladang baik untuk membersihkan lahan sebelum penanaman maupun untuk menghilangkan tumpukan serasah dan dengan demikian mendorong pertumbuhan rumput yang lebat pada musim berikutnya. Di berbagai tempat terdapat bukti-bukti yang baik bahwa bila kebakaran dihindari padang rumput akan berkembang menjadi hutan. Meskipun demikian ini hendaknya tidak diartikan bahwa semua savana adalah buatan manusia. Berbagai kebakaran terjadi secara alami karena petir dan mungkin sekali kebakaran seperti itu yang mempertahankan kehadiran savana jauh sebelum pemunculan manusia. Di sebagian besar kawasan savana tampaknya ada keseimbangan ekologi yang rapuh antara pohon-pohon dan rumput, dan frekuensi serta keparahan kebakaran dapat menumbangkan keseimbangan tersebut dan menguntungkan salah satu di antara dua. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa kebakaran yang dibuat manusia telah digunakan sebagai cara untuk berburu dan berladang sejak beribu-ribu tahun yang lampau (misalnya bukti-bukti Arkeologi dari dekat Kolombo Falls, Zambia, menunjukkan bahwa manusia di Afrika telah menggunakan api setidak-tidaknya selama 57 000 tahun) dan akan terus digunakan sebagai alat yang paling mudah dan murah untuk pengelolaan padang penggembalaan alami di kawasan tropika dan subtropika. Selama 50 tahun terakhir, sebagai akibat peningkatan jumlah pemburu dan peladang, savana acapkali dibakar terlalu sering dan sekarang terdapat risiko besar bahwa cadangan hara makanan dalam tanah dan produksi. rumput sebagai konsekuensinya akan menurun secara drastis, kecuali bila kecenderungan ini dihentikan. Phillips, salah seorang akhli pertanian tropika, menyimpulkan efek ekologi dari kebakaran terhadap vegetasi dengan menyatakan bahwa api adalah pelayan yang baik tetapi juga majikan yang buruk.

 

Advertisement