Advertisement

Sebuah jaringan komunikasi adalah suatu struktur yang dibangun berdasarkan hubungan-hubungan komunikasi antara berbagai individu, keiompok. organisasi atau masyarakat. Jaringan (network) dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk hubungan tertentu yang mengaitkan orang dengan objek, yang masing-masing disebut sebagai titik jaringan atau node (Wasserman dan Faust. 1994)  Sedangkan perspektif jaringan adalah suatu tradisi riset tersendiri dalam ilmu-ilmu sosial dan iirau perilaku, yang dicirikan oleh asumsinya bahwa sikap dan perilaku titik jaringan (bisa individu atau kumpulan individu) sangat dipengaruhi oleh sifat dasar jaringan di mana mereka berada. Jaringan komunikasi telah lama dipelajari dalam sistem sosial pada berbagai tingkat analisis. Pada tingkat intra-personal, riset menunjukkan bahwa individu-individu yang memiliki posisi serupa dalam jaringan organisasi akan memiliki kognisi yang bermiripan pula mengenai produk dan proses-proses yang ada dalam organisasi tersebut (Krackhardt, 1987; Pattison, 1995; Walker, 1985). Sedangkan pada hubungan antar-personal para peneliti telah mengungkap bahwa tingkat kedekatan antara jaringan-jaringan secara positif mempengaruhi stabilitas dan hubungan romantis yang ada (Bott, 1971; Parks dan Adelman, 1983). Riset juga memperlihatkan bahwa jaringan antar-personal dan komunitas dari seseorang memiliki peran pendukung sosial baginya dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup sehari-hari (Albrecht dan Adelman, 1984; Wellman dan Wortley, 1990). Dalam konteks perilaku kelompok kecil studi menunjukkan bahwa karakteristik-karakteristik struktur jaringan menimbulkan dampak penting terhadap kinerja dan kepuasan para anggota kelompok yang terlibat dalam upaya pemecahan masalah. Banyak riset yang telah dilakukan mengenai komunikasi dan arus informasi dalam jaringan produksi, inovasi dan jaringan sosial informal organisasi, Sebagai contoh, Monge et al. (1983) mengatakan bahwa proximitas, kecenderungan berkomunikasi, dan komitmen terhadap organisasi merupakan elemen-elemen penting bagi keterlibatan individu dalam jaringan kerja organisasional. Para peneliti mencatat bahwa keputusan individu untuk menerapkan teknologi komunikasi baru sangat dipengaruhi oleh keputusan individu lain terhadap jaringan komunikasinya sendiri. Sebaliknya penerapan teknologi komunikasi baru akan mempengaruhi jaringan komunikasi individu yang bersangkutan (Burkhardt dan Brass 1990; Contractor dan Eisenberg, 1990). Kepustakaan mengenai keterkaitan dan ikatan komunikasi di kalangan sistem antar-organisasional juga kian berkembang. Sebagai contoh, Galaskiewicz dan Burt (1991) melaporkan bahwa keputusan- keputusan perusahaan dalam memberikan donasi atau hibah dana dalam jumlah besar kepada organisasi-organisasi nirlaba tertentu secara positif dipengaruhi oleh keputusan perusahaan lain dalam jaringan komunikasi antar-organisasionalnya (yang juga memberikan donasi). Pada tingkat sosial dan kultural yang lebih luas, Rogers dan Kincaid (1981) menjelaskan kegunaan analisis jaringan untuk memahami difusi gagasan Ciri khas pendekatan ini terletak pada analisisnya terhadap pola komunikasi dalam pembuatan keputusan untuk ikut keluarga berencana oleh 69 wanita di sebuah desa di Korea. Contoh-contoh ini semuanya menerapkan “orang” atau “orang- orang” sebagai node atau titik-titik jaringan komunikasi, meskipun tidak semua riset menggunakan riset yang sama. Misalnya saja, Rice et al, (1988} menggunakan analisis jaringan komunikasi untuk menunjukkan pengaruh pola pengutipan antara jurnal-jurnal terkemuka di bidang komunikasi.

Monge (1987) melihat adanya dua sasaran utama analisis jaringan yakni metrika dan artikulasi jaringan. Dalam artikulasi jaringan, individu-individu memiliki berbagai klasifikasi peran jaringan seperti anggota klik, penghubung, atau sebagai pihak yang terkucil (ia berada pada posisi isolasi). Seseorang yang memainkan peran sebagai penghubung tidak termasuk dalam kelompok tertentu namun ia memiliki jaring-jaring informasi pada dua atau lebih kelompok. Orang seperti ini acapkali memainkan peran penting dalam menghubungkan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Sesuai namanya, pihak yang berada pada posisi isolasi tidak memiliki hubungan yang berarti dengan jaringan. Para peneliti telah menunjukkan bahwa penghubung, pihak isolasi dan anggota-anggota berbagai kelompok memiliki berbagai karakteristik dan fungsi yang berbeda dalam jaringan komunikasi (Monge dan Eisenberg, 1987). Sedangkan metrika jaringan mengacu pada upaya-upaya kuantitatif untuk memahami berbagai aspek jaringan. Aspek yang paling sering dipelajari antara lain adalah keeratan dan sentralitas jaringan. Keeratan jaringan adalah rasio jumlah individu yang diamati dengan titik-titik komunikasi lainnya (node). Node adalah noktah sentral yang berhubungan dengan semua titik yang satu sama lain tidak berhubungan. Teknik-teknik observasi jaringan komunikasi cukup banyak dan bervariasi (Monge dan Contractor, 1988). Orang-orang yang menjadi responden sering diminta untuk mengingat kembali interaksi mereka dengan semua anggota jaringan lain dan melaporkan frekuensi, durasi dan arti penting kontak-kontak tersebut. Dalam beberapa penelitian, para responden diminta untuk membuat buku harian yang mencatat interaksi-interaksi mereka selama periode tertentu. Ada pula riset yang mendudukkan pengamat sebagai responden agar dapat mencatat langsung frekuensi interaksi antara orang yang satu dengan yang lain dalam suatu organisasi. Dalam sebuah seri penelitian yang menarik, Milgram (1967) meminta respondennya untuk mengirimkan pesan kepada target yang tidak dikenalnya melalui seseorang yang sudah mereka kenal. Proses itu diulang pada setiap tahapan sampai orang itu mengenal orang yang mengetahui target dan bersedia mengirimkan pesannya. Rata-rata diperlukan tujuh tahapan untuk mencapai target itu. Bernard dan Kill worth (1980) mengumpulkan data mengenai jaringan- jaringan komunikasi di kalangan para operator radio yang mencatat dialog mereka di udara. Contoh berikutnya adalah karya Rice (1995) yang menjelaskan penggunaan sistem komunikasi yang diperantarai oleh komputer untuk mencatat frekuensi dan durasi hubungan komunikasi antar individu. Analisis data jaringan komunikasi, baik itu berupa metrika atau artikulasi jaringan, terlalu berat untuk dikerjakan tanpa komputer. Masih banyak peneliti jaringan yang membuat programnya sendiri, meskipun sudah tersedia perangkat grafika dan analisis jaringan untuk mikrokomputer (mengenai hal ini lihat Wasserman dan Faust 1994). Program-program itu saling berlainan dalam asumsi mengenai data jaringan, tujuan analisis, maupun logaritma komputasionalnya. Perspektif jaringan telah muncul sebagai kekuatan intelektual yang berpengaruh dalam ilmu- ilmu sosial dan ilmu perilaku. Walaupun atribut- atribut individu (seperti jenis kelamin, usia dan tingkat pendidikan) masih merupakan penjelasan yang penting bagi perilakunya, sejumlah teori sosial (misalnya Burt, 1982; 1992) berpendapat bahwa data-data seperti itu tidak lengkap, daiarr beberapa kasus bisa menyesatkan. Para teoris: ini menyatakan bahwa ada fenomena kelompok dan sosial yang tidak bisa dijelaskan melalui atribut-atribut para anggotanya. Dalam kasus seperti itu, perspektif jaringan dengan fokus pada hubungan antara anggota kelompok dengan pengaruh-pengaruh kolektif, sangat diperlukan.

Advertisement

Advertisement