PENGERTIAN JAINISME

adsense-fallback

PENGERTIAN JAINISME – Mempunyai dasar aliran kepercayaan dan filsafat yang berasal dari Vardhamana. Menurut tradisi Jain, Vardhamana dilahirkan pada tahun 599 SM dari kasta ksatria. Pada usia 30 tahun, ia mening­galkan istri dan anak-anaknya untuk bertapa. Sete­lah 12 tahun, ia mencapai pembebasan total lalu meng­habiskan sisa hidupnya untuk mewartakan ajarannya. Ia dipandang sebagai mahavira (pahlawan agung) yang bergelar Jina (orang yang membebaskan).

adsense-fallback

Dalam tradisi India, Jainisme dipandang sebagai ajaran yang berdiri sendiri (tidak mengakui kitab We­da). Inti ajarannya adalah pemisahan tegas antara roh dan materi. Sudah menjadi karma bagi roh bahwa ia masuk dalam siklus inkarnasi kembali yang penuh penderitaan. Roh hanya bisa mencapai pembebasan melalui praktik keutamaan, meditasi, serta matiraga. Pokok pemikirannya terlihat baik dalam kosmologi filsafat di dalam etika dan agama.

Kosmologi. Universum itu abadi dan tidak dicipta- kan. Di dalamnya terkandung entitas roh atau mo- nade kehidupan yang disebut (jiwa) jiva, juga terdapat materi mati atau bukan jiwa (ajiva). Jiwa jumlahnya tak terbatas, maha tahu dan penuh kebahagiaan. Te­tapi karena bersatu dengan bukan jiwa, ia terpenjara dalam paksaan licik materi. Jiwa baru dapat melepas­kan diri secara ultim, jika mencapai puncak kosmos. Di sana jiwa berada tanpa perubahan sambil menik­mati kemahatahuan serta kebahagiaannya.

Etika dan Agama. Cara hidup monastik (hidup membiara) merupakan tuntutan hakiki mencapai pem­bebasan. Pada dasarnya cara ini analog dengan cara Budhisme dan Yoga. Cara yang sama terjadi juga pada agama India pada masa awal. Tetapi Jainisme sangat menekankan matiraga sebagai jalan pelepasan materi. Kehidupan asketis yang ketat sangat efektif untuk menjauhkan kejahatan. Akhirnya meninggal melalui puasa seperti dilakukan oleh Vardhamana dianggap suci dan ideal. Dengan ini kewajiban ahimsa (perjuangan tanpa kekerasan) terpenuhi.

Filsafat. Ada dua pandangan pokok Jainisme, yak­ni (1) teori pluralisme relatif yang disebut anekanta- vada dan (2) skeptisisme (sudah dimodifikasi) atau syadvada. Anekantavada adalah pandangan yang mengatakan-,bahwa suatu objek dapat dilihat dari ber- bags; perspektif atau naya. Hasil persepsi ini adalah pand ngan-pandangan parsial mengenai objek. Ada tujuh perspektif: (a) menangkap objek tanpa ciri ge­neriknya; (b) melakukan pengamatan sederhana ter­hadap sifat generik yang tampak dari objek yang di- persepsi; (c) memperhatikan sifat individualnya; (d) menunjukkan ciri kontemporarnya; (e) merenungkan objek tersebut berkaitan dengan dunia di sekitarnya;

  1. mencatat nuansa dari kata-kata yang berbeda; dan
  2. memperhatikan hubungan antara makna dan aspek objek yang dilukiskan.
  3. Teori syadvada mengatakan bahwa suatu objek yang da hanya dapat diberi penegasan tentangnya da­lam bentuk serba kemungkinan, yakni bahwa sesuatu bisa saja: (a) ada; (b) tidak ada; (c) ada dan juga ti­dak ada; (d) tidak dapat diungkapkan; (e) dapat di­ungkapkan dan tidak dapat diungkapkan; (f) tidak ada dan tidak dapat diungkapkan; (g) ada dan tidak ada dan tidak dapat diungkapkan. Syadvada inilah yang menjadi

landasan bagi penulis Jainis untuk menyusun ilmu logika pada abad ke-9 sampai abad ke-12.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback