PENGERTIAN ILUSTRASI

adsense-fallback

Dari kata Latin illustrare, menerangi atau menghias, berarti pengiring, pendukung, selain penghias guna membantu proses pemahaman terha­dap suatu objek. Karena itu kata ilustrasi dapat di­pakai di banyak bidang. Misalnya, musik ilustrasi ber­arti musik yang menghias dan membantu pemahaman terhadap sesuatu; gambar ilustrasi dapat berarti gam­bar yang menghias dan membantu pemahaman ter­hadap sesuatu. Gambar ilustrasi ini bukan hanya yang berbentuk gambar coretan tangan, tetapi dapat juga hasil fotografi, bahkan susunan huruf, komposisi tipo­grafi. Namun yang umum dibicarakan adalah gam­bar ilustrasi dalam pengertian paling populer, yaitu gambar yang diciptakan oleh seniman lewat garis, ben­tuk dan warna.

adsense-fallback

Gambar ilustrasi bukan sesuatu yang baru di du­nia. Jika kartun dan karikatur berkembang sejak mun­culnya teknologi cetak grafis, gambar ilustrasi berkem­bang sejak masa klasik. Hikayat masyarakat Bali yang dituliskan di daun lontar sudah menyertakan gambar ilustrasi di dalamnya. Juga petuah yang tertulis di ker­tas tua papirus disertai gambar agar lebih informatif. Misalnya, buku petunjuk kuno Kamasutra. Gam­bar tangan itu biasa disebut iluminasi.

Gambar ilustrasi bukan semata-mata untuk menyer­tai cerita fiktif, melainkan untuk menyertai segala yang dapat dan perlu disertai. Tetapi yang paling mengundang perhatian adalah gambar ilustrasi untuk fiksi. Ini tidak mengherankan, sebab gambar ilustra­si untuk fiksi memang kebanyakan lebih menarik.

Pada tahun 1980-an, kehidupan ilustrasi di Indo­nesia tumbuh dengan subur. Nama-nama muda seperti Rien Bachtiar, Wedha, Rahardjo, Fung Wayming, Tefon, Gendut Riyanto menjadi pembicaraan yang menarik. Sementara yang telah mendapat nama lebih dahulu adalah Si Jon, juga pelukis komik Jan Minta-raga dan Steve Kamajaya.

Sejarah. Dalam babak pertama sejarah seni rupa Indonesia hampir tidak tampak figur seniman yang hidup semata-mata dari ilustrasinya. Pada awal seja­rah seni rupa Indonesia modern berjalan dan awal du­nia perbukuan Indonesia berkembang, seniman yang tercatat sebagai ilustrator adalah para pelukis. Misal­nya Suromo dan Abdoel Salam, yang agaknya hanya meneruskan langkah ilustrator Belanda, seperti M.A. Koek Koek, C. Jetses atau W.K. de Bruin. Hal ini semata-mata agar dunia ilustrasi yang ada di Indo­nesia tidak terputus. Tokoh berikutnya, seperti Ken Tardjo, A. Waki j an, Sjahwil, Danarto, Mulyadi W. atau Ipe Ma’aroef berusaha berkutat dalam profesi mini ini. Tetapi apa yang terjadi agaknya memaksa mereka untuk mencari makan di bidang lain. Mul­yadi W. tetap harus menjual lukisan, Danarto sebagai redaktur harus tetap menekuni bidang redaksio­nal. Namun ada juga ilustrator yang hidup jaya de­ngan profesinya, misalnya G.M. Sudarta, Pramono, dan Si Jon. Tetapi memang mereka bernaung di pe­rusahaan besar, sehingga walau tak menghasilkan kar­ya apa pun mereka tetap dapat hidup. Hal ini menun­jukkan bahwa kehidupan sebagai ilustrator di Indo­nesia masih tergolong sulit, walau perkembangan du­nia ilustrasi sempat memikat. Akibatnya, profesiona­lisme ilustrator tidak mengalami banyak kemajuan, sedangkan amatirisme menjamur mengikuti kepesat­an perkembangan dunia penerbitan.

Pada akhir tahun 1970-an bermunculan buku-buku cerita dan majalah yang menggunakan banyak ilus­trasi. Hal ini memaksa lahirnya ilustrasi dari ilustra­tor baru. Dari sini muncullah berbagai masalah, dari kecil sampai besar, antara lain peniruan dan penjiplak­an. Kemelut pun terasa, sehingga diperlukan suatu hu­kum perlindungan hak c’pta yang mulai digiatkan.

Hak Cipta. Kasus 6aya cipta antarseniman memang kasus yang sulit diselesaikan, karena “hukum pera­saan” senantiasa berperan, meski bukan tidak mung­kin kasus diputuskan lewat perundang-undangan. Te­tapi dari ini lalu tersirat pemikiran lebih panjang. Ba­gaimana selayaknya perlindungan atas hak cipta me­nempati proporsi yang tepat? ,

Dalam Undang-undang Hak Cipta tahun 1982 je­las tersirat bahwa ilustrasi sebagai suatu hasil cipta adalah suatu bentuk seni yang khas (pasal 1 sub a dan b). Ilustrasi sejajar dan otonom dalam proses pencip- taan dan mempunyai nilai yang sama seperti teks atau karangan. Jika teks atau karangan merupakan hasil cipta yang dibaca, ilustrasi merupakan hasil cipta yang dilihat (pasal lc). Karena itu ilustrasi sebagai bagian seni rupa dilindungi hak ciptanya (pasal 11 butir 5).

Dari sisi itulah kebiasaan selama ini terasa miring. Selama ini penerbit membayar honor ilustrator dengan sistem membeli, sehingga hak cipta ilustrator menjadi hapus sama sekali. Dengan sistem tersebut, ilustrator tidak mendapat royalti bila karyanya dicetak ulang.

Sementara itu dunia ilustrasi di negara Barat terus berjalan dengan kreativitas menggebu dan menawar­kan berbagai model teknik dan wawasan. Munculnya teknik air brush, yang mampu menghasilkan nuansa sangat halus, membuka peluang perkembangan yang sangat menarik. Gagasan yang melepaskan ilustrasi sebagai penghias, namun berdiri sendiri dan hadir se­bagai “ilustrasi kehidupan” juga membawa kemajuan tak terkirakan. Ilustrator rakyat Amerika, Norman Rockwell, ilustrator dunia binatang Boris Valeo atau Hildebrandt memberikan banyak inspirasi. Karya me­reka tidak hanya bertujuan menerangkan isi buku atau majalah, tetapi sebagai ilustrasi yang menerangkan pi­kiran dan pandangan ilustrator terhadap dunia dan segala geraknya.

 

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback