Advertisement

Identitas Kolektif, Akhir-akhir ini konsep tentang identitas kolektif telah masuk dalam teori perkembangan sosial. Konsep mengenai identitas olektif merujuk pada pengakuan terhadap makna keanggotaan atau niakna kebersamaan, batas-batas dan aktivitas-aktivitas dalam suatu kelompok. Menurut Melucci (1985), identitas kolektif (identitas  atau kelompok) adalah suatu interaksi (saling mempengaruhi) antara individu yang satu dengan individu yang lainnya dalam suatu kelompok dan melakukan tindakan serta perbuatan secara bersama-sama, untuk tujuan bersama dalam suatu kelompok. Identitas kolektif itu dibangun secara bersama melalui interaksi antar sesama anggotanya, untuk kepentingan bersama, dan keterkaitan kepentingan itu dengan lingkungannya. Dengan proses interaksi, kita membangun kebersamaan dalam suatu kelompok. Jadi, identitas kolektif itu adalah identitas yang dimiliki oleh anggota¬anggota kelompok yang mereka bangun melalui interaksi, sesama anggotanya dan untuk kepentingan bersama atau untuk kepentingan kelompok.

Kita mempunyai berbagai macam kumpulan ide-ide tentang kelompok atau golongan dari orang-orang—masyarakat, klas-klas, elite (golongan atasan), sukubangsa, jenis kelamin—sampai pada pengertian identitas kolektif. Satu hal yang dianggap penting, bahwa sebagian besar dari sosiolog mempunyai konsep yang sama tentang identitas kolektif, yaitu bagaimana setiap individu dapat menjalin kerja sama yang baik dan mempertahankan kerekatan antar sesama mereka. Setiap individu dari suatu kelompok cenderung mencontoh bangunan identitas bersama yang mereka bangun secara bersama. Setiap orang dari mereka dilengkapi oleh identitas individu orang lain. Dengan kata lain, sering terjadi perjanjian atau hubungan sosial antara satu individu dengan individu yang lain—atau dengan istilah Robinson Crusoe—unsur di dalam teori-teori. Menurut konsep sosiologi, manusia dulunya tidak ada, kemudian dia menjadi ada. Setelah dia ada, dia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dalam pikiran mereka selalu tergambar bagaimana mereka dapat bekerjasama dengan yang lain. Konsep kerjasama inilah yang selalu muncul dalam proses interaksi antara satu individu dengan individu yang lain dalam suatu kelompok.(Lihat Stephen Mennell dalam Craig Calhoun, 1995:175-176).

Advertisement

Di sini kita tidak lagi bicara tentang identitas individu atau self identity, tapi kita sudah sampai membicarakan identitas dalam konteks yang lebih luas atau identitas yang lebih makro. Kalau kita bicara identitas yang lebih makro, maka mau tidak mau kita bicara tentang kelompok. Kalau kita bicara tentang kelompok, maka mau tidak mau kita hams bicara mengenai identitas dari kelompok itu atau yang sering kita kenal ialah identitas kolektif atau identitas bersama. Dalam sosiologi ada berbagai macam pengertian kelompok, di antaranya: “setiap kumpulan manusia secara fisik”. Dalam pengertian ini kelompok itu tidak memiliki ikatan kebersamaan apa-apa, kecuali adanya jarak fisik yang dekat. Sosiolog menyebut menyebut kumpulan manusia semacam ini sebagai agregasi (kumpulan) atau kolektivitas. Pengertian lainnya dari kelompok adalah “setiap k umpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi”. Dengan menggunakan pengertian ini, dua orang yang sedang menunggu bis tidak dapat dikatakan kelompok. Namun apabila mereka mulai mengadakan percakapan, berkelahi, atau melakukan interaksi dalam bentuk apa saja, maka kedua orang itu berubah menjadi kelompok. Sebuah bis yang penuh dengan penumpang biasanya tidak akan menjadi suatu kelompok, karena para penumpang itu tidak memiliki kesadaran interaksi antara satu dengan yang lainnya (Paul B. Horton, 1993:214-215). Kelompok itu terjadi manakala anak-anak mulai bermain bersama, pemuda bertemu dengan pemudi, penguasa-penguasa saling memiliki perhatian yang ,,atna di pasar bursa, umat islam yang ada di Masjid mulai mengadakan pembicaraan satu dengan yang lainnya, maka pada saat itulah terjadinya kelompok—meskipun kelompok itu bersifat sementara dan waktunya yang begitu singkat.

Pengalaman kelompoklah yang membuat mahluk manusia mempunyai ciri-ciri yang bersifat manusiawi. Melalui pengalaman berkelompoklah kita menghayati norma-norma kebudayaan kita, serta bersama-sama memiliki nilai-nilai, tujuan, perasaan, dan kebanyakan hal yang membedakan kita dengan jenis hewan lainnya. Perasaan dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh keanggotaan kelompok. Apakah seseorang itu akan menjadi pengecut atau pahlawan yang barangkali banyak dipengaruhi ikatan-ikatan kelompok daripada sifat-sifat individu. Inilah yang mungkin dapat dikatakan bahwa di dalam mempelajari identitas kolektif yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menjaga kerekatan antara satu dengan yang lainnya dalam suatu kelompok.

Advertisement