Advertisement

Hukum Akal, adalah keputusan akal tentang apa yang dapat dan apa yang ti­dak dapat dibayangkan atau digambarkan­nya. Ada tiga kategori keputusan itu, yak– ni: wajib, mustahil, dan jaiz (mumkin).

Wajib menurut akal adalah sesuatu yang selain dapat dibayangkan oleh akal, juga mestilah ada dan selamanya seperti yang dibayangkan itu. Beberapa contohnya an­tara lain adalah: bagian lebih kecil dari ke­seluruhan; rangkaian sebab akibat, betapa pun panjangnya, berawal pada sebab per­tama; dan tongkat yang memiliki panjang satu meter mestilah mempunyai pangkal dan ujung.

Advertisement

Sebagai lawan dari wajib adalah musta­hil. Mustahil menurut akal adalah sesuatu yang selamanya tidak bisa dibayangkan oleh akal dan tidak bisa dibayangkan ada­nya. Contoh-contoh mustahil, yang meru­pakan kebalikan dari contoh-contoh wa­jib, adalah: bagian lebih besar dari keselu­ruhan; rangkaian sehab akibat berlanjut tanpa awal atau akhir; dan tongkat yang memiliki panjang dua meter hanya memi­liki pankal tapi tidak memiliki ujung.

Jaiz (boleh) atau mungkin menurut akal adalah sesuatu yang bisa dibayangkan oleh akal; ia tidak mesti ada dan tidak pu­la mustahil ada; ia boleh ada dan boleh pula tidak ada. Contoh-contohnya antara lain: adanya bumi ini sekarang dan kemu­dian hancur; adanya manusia yang banyak ini dan kemudian mati semuanya; dan adanya tongkat dengan panjang tiga me­ter, kemudian lenyap menjadi abu,

Berbeda dengan kaum materialis, yang memandang materi alam ini sebagai sesua­tu yang wajib ada selamanya dan ada de­ngan sendirinya, maka menurut pemikir­ an dalam Islam, hanya Allah satu-satu-Nya yang wajib ada dengan sendirinya, sedang­kan adanya alam ini hanyalah jaiz menu­rut akal; alam ini boleh ada seperti yang tampak sekarang, dan boleh pula tidak ada (lenyap). Alam ini ada karena dicipta­kan Tuhan, dan akan hancur bila dihan­curk an-Nya.

Dalam pemikiran Islam dijumpai perbe­daan pandangan tentang apa yang wajib, yang jaiz, dan yang mustahil dilakukan Tuhan terhadap manusia, makhluk-Nya. Menurut hukum akal, kata kaum Mu`tazi­lah, adalah wajib bahwa Allah Yang Maha Sempuma dan Maha Bijaksana melakukan apa yang terbaik bagi umat manusia, se­perti mengirim para rasul dan memenuhi janji-janji-Nya berupa tindakan memasuk­kan mukrnin yang beramal saleh ke surga nanti di akhirat dan memasukkan kaum kafir ke dalam neraka, Mustahil bahwa Allah tidak memenuhi janji-janji-Nya, ti­dak membalas amal manusia dengan adil, atau tidak melakukan apa yang terbaik yang bisa Ia lakukan untuk umat manusia.

Tidak demikian pandangan kaum Asy`a­fiyah. Menurut akal kaum ini, adalah per­kara yang jaiz bahwa Tuhan berbuat apa saja terhadap makhluk-Nya, termasuk ma­nusia. Adalah jaiz bahwa Allah mengirim rasul-rasul di kalangan umat manusia, atau tidak mengirim mereka. Juga jaiz bahwa Ia memenuhi janji-janji-Nya atau tidak memenuhinya. Bukanlah wajib dan bukan pula mustahil bahwa Allah melakukan apa yang terbaik bagi umat manusia. Itu ha­nyalah perkara yang jaiz menurut akal, kata mereka.

Advertisement