Advertisement

Hubungan Agama dan Negara Menurut Paham Teokrasi , Dalam paham teokrasi, hubungan agama dan negara digambarkan sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Negara ienyatu dengan agama, karena pemerintahan—menurut paham dijalankan berdasarkan firman-firman Tuhan, segala tata kehidupan dalam masyarakat, bangsa, dan negara dilakukan atas titah Tuhan. Dengan demikian, urusan kenegaraan atau politik, dalam paham teokrasi juga diyakini sebagai manifestasi firman Tuhan.

Ada kasus menarik yang dapat menggambarkan praktik kenegaraan dalam paham teokrasi seperti itu. Menurut sejarah, dalam Perang Dunia II, rakyat Jepang rela mati berperang demi kaisar mereka, karena menurut mereka, kaisar adalah anak Tuhan. Di negara Tibet juga demikian bahwa apa yang disebut sebagai Dalai Lama diyakini sebagai penjelmaan Tuhan di muka bumi ini. Kedua kasus ini adalah contoh dari praktik pemerintahan dalam paham tcokrasi langsung. Menurut paham teokrasi langsung, pemerintahan diyakini sebagai otoritas Tuhan secara langsung pula. Adanya negara di dunia ini adalah atas kehendak Tuhan, dan oleh karena itu yang memerintah adalah Tuhan pula.

Advertisement

Selain sistem pemerintahan teokrasi langsung, ada pemerintahan teokrasi langsung. Jika dalam pemerintahan teokrasi langsung, raja atau kepala negara memerintah sebagai jelmaan Tuhan, maka dalam pemerintahan teokrasi tidak langsung, yang memerintah bukanlah Tuhan sendiri, melainkan yang memerintah adalah raja atau kepala negara yang memiliki otoritas atas nama Tuhan. Kepala negara atau raja diyakini memerintah atas kehendak ‘I’tthan.

Kerajaan Belanda dapat dijadikan contoh untuk model ini. Dalam sejarah, raja di negara Belanda diyakini sebagai mengemban togas suci yaitu kekuasaan yang, merupakan amanat suci (mission .vacre) dari Tuhan untuk memakmurkan rakyatnya. Politik seperti inilah yang ditcrapkan oleh pemerintah Belanda ketika menjajah

Indonesia. Mereka meyakini bahwa raja mendapat amanat suci dari Tuhan untuk bertindak sebagai wali dari wilayah jajahannya itu. Dalam sejarah, politik Belanda seperti ini disebut pilitk etis (etische politic).

Dalam pemerintahan teokrasi tidak langsung, sistem dan norma-norma dalam negara dirumuskan berdasarkan firman-firman Tuhan. Dengan demikian, negara menyatu dengan agama. Agama dan negara tidak dapat dipisahkan.

Dari apa yang dipaparkan di atas, dapat dikatakan bahwa dalam praktik kenegaraan teokrasi terdapat dua macam, yaitu teokrasi langsung dan teokrasi tidak langsung. Karena perbedaan paham ini. Maka praktik pemerintahan kedua jenis paham teokrasi inipun berbeda pula.

Advertisement
Filed under : Review,