PENGERTIAN HALUSINASI DAN ANGAN-ANGAN

adsense-fallback

Hampir semua pengertian kontemporer mengenai halusinasi dipengaruhi oleh karya aliran pemikiran Heidelberg, khususnya karya Karl Jaspers (1963 [1912]). Sekalipun pendapat bahwa keanehan atau keyakinan yang tidak rasional dapat mencerminkan suatu bentuk kegilaan telah lama dikenal (Sims 1988),  Jaspers menyarankan suatu pendekatan menakjubkan agar ahli jiwa berupaya memahami penyakit mental dengan ikut merasakan penderitaan dan berbagi pengalaman pasien, la menyatakan bahwa ciri-ciri utama penyakit kejiwaan adalah kemustahilan untuk menyelaminya dan karena itu sulit untuk dipahami. Jaspers mengamati bahwa keyakinan-keyakinan yang tidak normal itu umumnya dianut secara kuat dan tak dapat dipengaruhi oleh pendapat-pendapat lain (sekalipun lebih rasional) serta berisikan keanehan atau sesuatu yang mustahil. Namun demikian, ia juga menjelaskan ide-ide yang mirip halusinasi, yang ditimbulkan oleh kepribadian individu, perasaan atau penga-laman, dan halusinasi, yang timbul secara tiba-tiba dari suatu perubahan mendasar dari peribadian dan yang tidak ditengahi oleh pemahaman. Terbitan The American Psychiatric Association — Asosiasi Ahli Jiwa Amerika — (1987) menyatakan halusinasi sebagai: Suatu keyakinan pribadi yang salah karena pemahaman yang salah mengenai dunia luar yang terus berlanjut, terlepas dari keyakinan orang lain, hal-hal yang sudah pasti, bukti-bukti nyata atau bukti sebaliknya. Keyakinan itu biasanya tidak diterima oleh anggota-anggota lain dari masyarakat, budaya atau sub-budaya dari individu yang bersangkutan. Konsep paranoia (ketakutan yang sangat) telah digunakan untuk menggambarkan gangguan kejiwaan, dalam mana halusinasi (khususnya kecemasan) adalah ciri utamanya. Kraepelin (1907), juga seorang ahli jiwa lulusan Heidelberg, telah berperan besar dalam mengembangkan sistem klasifikasi penyakit jiwa moderen. la menganut pandangan bahwa kegilaan paranoid merupakan suatu jenis gangguan kejiwaan. Namun ia kemudian berubah pendapat dan menyatakan bahwa kegilaan itu merupakan sub-jenis dari schizophrenia (gangguan berupa kesenjangan antara pemikiran dengan tindakan), suatu istilah yang diberikan oleh Bleuler. Asosiasi Ahli Jiwa Amerika (1994) sekarang menggunakan istilah gangguan halusinasi untuk menggambarkan penyakit serupa schizophrenia yang diwarnai oleh halusinasi.

adsense-fallback

Angan-angan yang diamati dalam praktek klinis biasanya berkaitan dengan kecemasan, pemahaman (jika seorang pasien meyakini bahwa peristiwa-peristiwa, komentar, atau benda- benda yang sebetulnya tidak memiliki arti khusus atau biasa berkait dengan dirinya) atau keagungan (Sims 1988). Kecemburuan yang berlebihan (ditandai dengan halusinasi bahwa seseorang yang dicintai mengkhianatinya) dan sindroma salah mengenal (misalnya adalah sindroma Capgras dimana seorang pasien yakin bahwa orang yang dicintai telah digantikan oleh seorang penipu) sering kurang teramati. Konteks sosial dari pemikiran halusinasi belum pernah diteliti, sekalipun Mirowsky dan Ross (1983) telah menyarankan bahwa kecenderungan paranoia sangat nyata dalam situasi sosial maupun ekonomis yang ditandai oleh rasa ketidakberdayaan. Setelah melontarkan analisisnya mengenai memoar Daniel Schreber, seorang hakim berkebangsaan Jerman yang menderita penyakit kejiwaan parah, Freud (1958 [1911]) menyatakan bahwa paranoia adalah produk kerinduan  yang tidak dapat diterima oleh alam sadar. Teori ini ditentang oleh berbagai komentator lain yang menganggap penyakit Schreber diakibatkan oleh masa kecil Schreber yang menderita akibat sikap otoriter ayahnya.

Dua pendapat lain mengenai pemikiran halusinatif telah dinyatakan dalam literatur psikologi. Maher (1974) menyatakan bahwa halusinasi adalah produk upaya rasional untuk menjelaskan pengalaman-pengalaman aneh, termasuk sensasi-sensasi badaniah yang tidak biasa. Berdasarkan pandangan ini dapat dikatakan bahwa orang yang berhalusinasi adalah normal. Sekalipun persepsi aneh nampak terkandung dalam beberapa jenis halusinasi (khususnya sindroma salah-kenal; Ellis dan Young 1990), kajian-kajian empiris gagal untuk menghubungkan pengalaman yang tidak biasa dengan keyakinan-keyakinan aneh.

Psikolog-psikolog lain telah mengajukan argumentasi bahwa proses alasan boleh jadi bukan merupakan hal biasa pada pasien yang menderita halusinasi dan beberapa studi empiris cenderung mendukung pandangan ini. Garety dkk. (1991) menyatakan bahwa pasien halusi-nasi secara mengejutkan mampu melakukan penalaran probabilistik dan telaah sampel guna membuat keputusan-keputusan yang terarah. Dengan pendekatan yang berbeda, Bental dan kawan-kawan telah menunjukkan bahwa pasien halusinasi ternyata mampu menjelaskan pengalaman negatifnya dengan mengacu pada berbagai hal yang bisa dikemukakan sebagai penyebabnya. Kemampuan atribusional ini, yang tampaknya bertolak dari berfungsinya mekanisme pertahanan diri secara luar biasa, dianggap sebagai elemen pelindung bagi individu yang bersangkutan dari resiko rendahnya kepercayaan diri. Pandangan ini sesuai dengan penegasan bahwa paranoia merupakan bentuk depresi yang terselubung. Terdapat bukti-bukti bahwa strategi-strategi perilaku kognitif tertentu bisa efektif guna menangkal sebagian dari keyakinan khayali atau angan-angan seperti itu.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback