Advertisement

Sesungguhnya, futurologi itu lebih mirip gerakan sosial ketimbang salah satu disiplin ilmu sosial. Gerakan futurologi berkembang pesat di Eropa dan Amerika Utara pada akhir 1950-an. yang kemudian juga menyebar ke seluruh dunia. Pengamat awam sering menafsirkannya secara keliru sebagai salah satu disiplin ilmu, karena gerakan ini selalu menonjolkan jargon-jargon ilmiah. Kajian futurologi sistematik yang pertama dilakukan oleh H.G. Wells dalam bukunya yang berjudul Anticipation (1901). Jika disimak secara teliti, penjelasan Wells tentang kemajuan teknologi sesungguhnya kacau balau, demikian pula yang termuat dalam chef d’oevre karya Herman Khan dan juga dalam karya Anthony Wiener yang berjudul The Year 2000 (1967) serta The United Kingdom in 1980 (1974). Jadi kesan ilmiah dari gerakan ini sesungguhnya hanya merupakan hiasan. Meskipun demikian ada kecenderungan mereka yang menekuni futurologi ini memberikan perhatian yang semakin serius terhadap aspek-aspek ilmiah tadi sehingga karya-karya mereka pun semakin meyakinkan sebagai karya ilmiah. Contohnya adalah karya Michael Young yang berjudul The Rise of Meritocracy (1958) dan karya Dennis Gabor yang berjudul Inventing the Future (1963). karya Bertrand de Jouvenel yang berjudul The Art of Conjecture (1967), yang sepintas lalu mirip dengan laporan-laporan ilmiah yang rumusannya dikerjakan dengan bantuan komputer seperti dokumen Uni Eropa Europe 2000, dan dokumen tentang prediksi ekonomi di masa mendatang dari Club Roma yang berjudul The Limits to Growth (1972). Di Eropa Timur pun futurologi mendapat tempat dan terdapat sejulah karya yang cukup penting seperti karya tim Cekoslovakia di bawah pimpinan Radovin Richta yang berjudul Civilization at the Crossroads(1967). Ada pula karya-karya futurologi yang dijadikan acuan dalam diskusi ilmiah karena bobot ilmiahnya memang cukup memadai seperti karya Daniel Bell yang berjudul Toward the Year 2000 (1968) dan tulisan Robert Jungk dan Johan Galtung, Mankind 2000 (1969). Ada pula karya-karya yang secara khusus mengulas bobot ilmiah atau teknologi dalam tulisan-tulisan futurologi seperti yang terangkum dalam Technological Forecasting and Perspective (1967) yang disusun oleh Erich Jantchs. Bagi para penganut futurologi karya Jantchs itu bagaikan kitab suci. Sementara itu teknik-teknik pengkajian yang paling populer atau encer masih tetap dipakai, antara lain oleh sebuah tim yang disebut Delvi. di mana mereka mencoba membuat ramalan tentang kehidupan manusia di masa mendatang berdasarkan hasil diskusi tim itu semata. Namun tidak seperti karya futurologi pada umumnya, karya mereka ternyata gagal menarik perhatian. Kebanyakan produk futuroiogi setelah Weiis menyiratkan semangat atau keyakinan yang begitu tinggi dari penulisnya, bahkan sebagian di antaranya berlebihan.

Mereka meramal akan datangnya suatu “masyarakat pasca industri’ atau bahkan “masyarakat super industri” di mana teknologi adalah segalanya. Karya-karya ini mendapat tempat yang luas pada 1960-an, ketika kondisi kesejahteraan penduduk negara-negara Barat begitu tinggi sehingga mereka bisa menyisihkan banyak waktu untuk berkhayal. Adakalanya futuroiogi tidak bisa dipisahkan dari fiksi ilmiah, meskipun tidak semua orang bisa membedakannya. Anehnya kalangan pemerintah pun tertarik dengan karya-karya futuroiogi ini, karena sebagian penyelesaian atau ramalan yang diberikannya jauh melampaui pikiran banyak orang. Karya-karya futuroiogi itu pula yang mulai meramalkan jangkauan dan konsekuensi perang nuklir. Sejumlah perusahaan besar seperti Shell, Unilever dan Xerox sudah sering memanfaatkan karya-karya futurologi itu untuk menunjang pemasaran produk mereka. Ketika krisis minyak terjadi pada tahun 1973, yang disusul oleh resesi ekonomi dunia selama dekade 1970-an, masyarakat Barat sibuk dengan pembenahan kehidupan sehari-hari sehingga mereka pun tidak memberi perhatian kepada futuroiogi sebesar sebelumnya. Namun dalam waktu bersamaan muncul kelompok-kelompok yang kian menggandrungi futuroiogi. bahkan sebagian di antaranya bersifat radikal seperti Friend of the Earth yang menyuarakan kritik- kritik pedas mereka dalam majalah-majalah seperti the Ecologist, dan juga sejumlah jurnal futurolog is lainnya seperti Futures dan The Futurist. Mereka bahkan mencoba mengimbangi prediksi lembaga-lembaga ekonomi terkemuka seperti Club of Rome tetang prospek pembangunan dunia. Namun harus diakui bahwa sebagian peringatan atau prediksi para futurolog itu ada benarnya. Sebagai contoh, upaya serius untuk membatasi senjata nuklir sedikit banyak dipengaruhi oleh karya-karya futurolog tentang dahsyatnya resiko perang nuklir. Demikian pula perhatian kepada pembangunan Dunia Ketiga juga dipengaruhi oleh ramalan bahwa kegagalan ekonomi negara-negara berkembang cepat atau lambat pula akan merambah pula pada perekonomian negara-negara maju. Menjelang datangnya milenium ketiga (tahun 2000 dan sesudahnya) adalah momentum langka yang dimanfaatkan oleh para futurolog untuk membuat berbagai macam perkiraan dan prediksi, dan gejalanya nampaknya tidak kalah kuatnya dari yang pernah berkembang pada dekade 1960-an.

Advertisement

Advertisement