Advertisement

FAKTOR-FAKTOR IKLIM DAN TANAH, Suatu sifat iklim tropika lahan pamah (lowland) yang menonjol adalah bahwa suhu boleh dikatakan tetap tinggi sepanjang tahun; variasi harian rata-rata biasanya lebih besar daripada variasi musiman rata-rata. Misalnya saja di Kingston, Jamaica, dengan suhu tahunan rata-rata 26.1 °C, suhu bulanan rata-rata mempunyai kisaran tahunan hanya 3.2 °C, sedangkan kisaran harian rata-rata adalah sekitar 9.4 °C. Oleh karena itu suhu bukanlah faktor pembatas untuk pertumbuh-an di lahan pamah tropika. Penelaahan ekologi modern menunjukkan bahwa faktor utama yang mengendalikan penyebaran dan struktur sebagian komunitas tumbuhan alami di daerah tropika adalah faktor air. Digunakan dalam pengertian ini, faktor air hendaknya tidak disamakan hanya dengan jumlah curah hujan, sebab tidak semua curah hujan digunakan dengan efektif untuk meningkatkan pertumbuhan. Ada sebagian yang hilang karena aliran permukaan dan drainase (pengaliran dalam tanah) dan juga ada yang hilang karena penguapan dari permukaan tanah. Dengan demikian kelembapan (air) yang tersedia bagi tumbuhan bergantung kepada banyak faktor yang ikut berperan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk membuat rumus yang memuaskan yang dapat mengukur ‘curah hujan yang efektif’ dan meskipun agak berbeda-beda, semuanya memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas. Variasi musiman faktor kelembapan sangat penting bagi vegetasi dan situasi ekstrem yang kadang-kadang terjadi mempunyai arti lebih penting daripada nilai rata-rata dalam menentukan kehadiran atau ketidakhadiran jenis tertentu.

Vegetasi yang paling lebat hanya akan ditemukan di tempat-tempat yang kelembapan tanahnya (air tanah) selalu tersedia dan juga yang drainasenya cukup sehingga tidak terjadi penggenangan. Kondisi seperti itu terdapat pada kawasan yang luas di beberapa sistem sungai besar tropika di Amazon, Kongo, Ira-wadi, dan tempat-tempat lainnya, serta juga di pulau-pulau besar di Indonesia. Di sini, dengan kondisi suhu yang selalu tinggi (sekitar 27 °C) dan curah hujan yang terus-menerus tinggi (dari 125 cm sampai lebih dari 500 cm per tahun dengan syarat bahwa hujan tersebar secara teratur sepanjang tahun) dibarengi dengan kelembapan udara yang tinggi pula, hutan hujan tropika akan berkembang. Tipe hutan ini mempunyai struktur yang paling kompleks di antara berbagai komunitas yang ada di dunia. Meskipun jenis-jenis yang menyusun hutan hujan tropika sangat berbeda di setiap daerah yang disebut di atas, hutan ini mempunyai spektrum biologi serupa di mana pun ditemukan karena struktur dasarnya selalu sama. Karena iklim menunjukkan perubahan musiman yang kecil, maka perubahan musiman pada vegetasi pun sedikit. Sebagian besar pohon-pohon mempunyai daun yang selalu hijau dan berukuran (daun-daun yang termasuk dalam kelas ukuran 20-45

Advertisement

biasanya dominan), serta musim berbunga dan berbuah -Tang tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu.

Penyederhanaan dalam struktur komunitas dan terjadinya odifikasi seperti pengguguran daun-daun atau penebalan :aun-daun (sklerofil) akan mulai tampak dalam vegetasi, bila, iarena sesuatu hal, kelembapan tidak memadai untuk per-:umbuhan optimum sepanjang tahun.

Peranan yang dimainkan oleh iklim dan tanah, baik secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri dapat dilukiskan dengan survei pendek berbagai komunitas tumbuhan yang :erdapat di Amerika tropika. Peluang yang baik sekali untuk :nempelajari komunitas yang relatif belum terganggu terdapat di Amerika tropika, karena modifikasi vegetasi oleh pembakaran dan penggembalaan ternak yang dilakukan penduduk belum lama terjadi dan belum separah seperti di daerah tropika lainnya. Sebagai akibatnya di Amerika tropika banyak masalah ekologi dapat dengan mudah ditentukan karena belum ada komplikasi yang disebabkan oleh faktor-faktor biotik tambahan.

Klasifikasi komunitas tumbuhan di Amerika tropika telah dibuat oleh Dr. J. S. Beard.* Menurut sistem yang menekan-kan pentingnya pengaruh faktor kelembapan terhadap vegetasi tropika. Menurut Beard, habitat yang sampai tahap tertentu dan pada suatu waktu dalam setahun kondisinya tidak baik untuk pertumbuhan dapat dibagi menjadi lima kategori:

  1. Lokasi-lokasi yang mempunyai drainase baik dengan penyebaran curah hujan musiman yang nyata sehingga pada waktu-waktu tertentu dalam satu tahun evaporasi melebihi presipitasi.
  2. Lokasi-lokasi yang mempunyai drainase baik dan selalu mengalami kekurangan kelembapan (air tanah) yang tersedia, evaporasi melebihi persediaan kelembapan sepanjang tahun.
  3. Lokasi-lokasi yang mempunyai drainase jelek dan menjadi sasaran banjir atau penggenangan.
  4. Lokasi-lokasi yang mempunyai drainase baik dan meng-alami penggenangan dan pengeringan secara bergantian.
  5. Lokasi-lokasi yang bergunung-gunung yang mengalami perubahan-perubahan iklim yang berkaitan dengan elevasi (ketinggian dari permukaan laut). Perubahan-perubahan ini termasuk penurunan suhu, keterbukaan terhadap angin kencang, kondisi awan yang mengakibatkan kelembapan tinggi dan kekurangan cahaya matahari.

Bila kondisi dalam salah satu dari lima kategori habitat tersebut menjadi jelek sekali, kehidupan tumbuhan darat berhenti sama sekali. Jadi di tempat-tempat yang mempunyai drainase baik (kategori habitat 1 dan 2 di atas) akan terdapat gurun gundul karena kekurangan kelembapan yang ekstrem sekali sehingga tidak ada satu tumbuhan pun yang dapat hidup; atau di tempat-tempat yang drainasenya jelek (kategori habitat 3 dan 4) akan terdapat perairan terbuka, di mana tanah tergenang air secara permanen dan air terlalu dalam serta selalu bergerak sehingga tidak dapat menunjang pertumbuhan bahkan tumbuhan yang terapung bebas sekalipun. Sama halnya di lereng-lereng gunung (kategori habitat 5) vegetasi tidak berkembang ke luar garis salju permanen. Sepanjang kisaran antara kondisi yang luar biasa jelek dan kondisi yang optimum untuk pertumbuhan sepanjang tahun, terdapat sederetan tipe-tipe vegetasi atau formasi tumbuhan yang berbeda untuk setiap tipe habitat. Berbagai formasi tumbuhan ini dapat dibagi menjadi lima serf formasi sesuai dengan lima kategori kondisi habitat yang suboptimal. Dalam setiap seri-formasi .terdapat berbagai formasi tumbuhan dengan struktur dan bentuk hidup yang menyatakan setiap derajat transisi dari kondisi yang paling baik ke kondisi yang paling jelek. Lima seri-formasi ini diberi nama sebagai berikut:

  1. Formasi-formasi Musiman (Seasonal formations).
  2. Formasi-formasi Kering Malarhijau (Dry Evergreen for-mations).
  3. Formasi-formasi Rawa (Swamp formations).
  4. Formasi-formasi Rawa Musiman (Seasonal swamp formations).
  5. Formasi-formasi Penggunungan (Montane formations).

Kelima seri itu semua bertemu di hutan Hujan sebagai ujung optimum. Dengan demikian, mereka dapat dianggap sebagai jari-jari sebuah roda yang menyebar dari hutan Hujan sebagai titik pusatnya ( 13.1), atau lebih tepat lagi sebagai garis-garis yang ditarik dari pusat sebuah bola. Karena berbagai faktor habitat kadang-kadang dapat menghasilkan tanggap yang serupa yang ditunjukkan oleh berbagai turn-buhan, tidaklah dapat diasumsikan bahwa struktur berbagai seri-formasi akan selalu menyebar menurut garis lurus. Mungkin sekali struktur suatu formasi yang tergolong pada suatu seri-formasi mendekati struktur suatu formasi yang termasuk ke dalam suatu seri lain. Situasi seperti ini mungkin sekali terjadi bila berbagai seri itu bertemu di hutan Hujan atau mungkin juga bertemu kembali dan berakhir dalam suatu situasi yang vegetasinya sama sekali tidak ada.

Advertisement