Advertisement

Ada duapuluh satu cara menyusun kehidupan mamalia. Salah satunya adalah primata, di mana manusia termasukdi dalamnya, yang muncul kira- kira pada zaman Cretaseous (70-65 juta tahun atau Myr yang lampau), namun primata baru bermunculan pada zaman Eocene (54-35 Myr). Di zaman Eocene ini terbentuk lemur dan tarsier modern. Di akhir Eocene hingga awal Oligocene (38-24 M y r) terdapat primata yang memiliki ciri yang serupa dengan kelompok monyet modern, kera, dan manusia (Antropedia). Sebelum zaman Miocene (24-25 Myr) belum ada fosil-fosil yang memiliki ciri yang secara unik mirip dengan super-familiy yang terdiri dari kera dan manusia (Hominidea), persamaan ini barangkali disebabkan oleh fakta bahwa kera besar dan manusia juga memiliki ciri-ciri ini. Walau menjelang pertengahan akhir zaman Miocene (16-18 Myr) ditemukan alat memanah pada spesies homi- noid yang mirip keluarga manusia pertama (Hominoidea). Fosil-fosil awal tersebut, yang mungkin dapat dikaitkan secara unik dengan manusia modern, dikelompokkan dalam genus Australopithecus yang muncul pada 4 Myr dan barangkali 5 atau 5,5 Myr. Tanggal termuda adalah dari pecahan tulang rahang yang tampaknya memiliki ciri unik yang sama dengan yang disebut belakangan dan lebih dikenal sebagai anggota Australophithecus. Semua anggota genus ini ditemukan di Afrika. Fosil tertua dari spesies yang tidak diragukan lagi merupakan anggota keluarga manusia adalah Australophithecus ramidus yang ditemukan di Afrika Timur dari lapisan geologis bertanggal 4,4 Myr (White et al. 1994). Secara keseluruhan ia mirip dengan kera, namun ia memiliki ciri kesamaan dengan hominidea yang lebih tua seperti tulang dahi yang lebih lebar dan tidak menjorok, dasar tulang tengkorak yang lebih pendek, dan sejumlah detail pada siku. la memiliki enamel geraham yang lebih tipis daripada hominid-hominid lain, yang menyiratkan bahwa makanannya barangkali serupa dengan kera-kera Afrika. Habitatnya berdekatan dengan hutan. Sayangnya belum ditemukan fosil-fosil tulang-belakang yang memastikan bentuk lokasinya. Spesies hominid tertua berikutnya adalah A. afarensis (4-2.9 Myr) yang juga menyerupai kera dalam hal susunan gigi dan anatomi tengkorak, namun ia juga mewarisi ciri-ciri kesamaan yang lebih banyak dengan hominid lain ketimbang A ramidus. Ciri yang paling menimbulkan keraguan antara lain yaitu geraham tak tetap yang lebih lebar, tengkorak lebih kecil, lebih sedikit menyerupai kera pra-geraham, gigi taring lebih besar dan enamel geraham lebih tebal. Perbandingan ukuran otak dan ukuran tubuh lebih mendekati kera modern ketimbang manusia modern, yakni kurang dari satu-setengah ukuran relatif manusia Homo sapiens. Bagian tubuh di bawah kepala (postcranium) berbeda susunannya dengan pola umum Primata lainnya dan memiliki ciri bipedal yang sama dengan manusia. Beberapa ciri primitif lain masih terdapat pada poscranium, seperti jari-jari yang panjang dan bengkok, yang mengisyaratkan bahwa ia memiliki kemampuan memanjat lebih besar ketimbang Homo sapiens. Australopithecus afarensis bersifat amat dimorfis, di mana bobot jantannya kira-kira 45 kg dan betina 29 kg (McHenry 1994). Tingkat diformi ini mengisyaratkan bahwa, dengan analogi mamalia lain, A. afarensis tidaklah menganut monogami. Tulang depan jantannya relatif sangat besar, barangkali melebihi dimorfisme gorila atau orang utan. Ini mungkin mengisyaratkan seleksi yang kuat dan persaingan antar-jantan yang analog dengan peran yang dimainkan tengkorak jantan yang besar pada spesies mamalia lain. Antara 3 dan 2 Myr yang lalu, ada fosil yang menunjukkan proses penganekaragaman spesies hominid. Di Afrika Timur, A. aethiopicus muncul pada 2,5 Myr sebagai spesies yang mengkombinasikan ciri-ciri primitif A. afarensis dengan ciri-ciri khusus yang berkenaan dengan kemampuan mengunyah yang besar. Ciri ini antara lain yakni gigi taring yang besar dan tulang penyangga yang berat untuk otot-otot memanjat. Di Afrika Selatan, A. africanus muncul kira-kira 3,0 Myr dan tetap bertahan hingga 2,4 Myr, tapi penanggalannya tidak pasti. Spesies ini mirip dengan A. afarensis kecuali bahwa ia lebih dekat pada manusia dalam hal susunan geligi, moncong yang mengecil, jari-jari dan kandungan otak. Ukuran gigi taringnya lebih besar daripada A. afarensis. Dimulai kira-kira 2,4 dan 2,1 Myr, genus Homo muncul. Pemunculannya ditandai dengan berkurangnya ukuran gigi taring dibanding spesies-spesies hominid terdahulu, penambahan volume otak, dan munculnya kebudayaan alat-batu. Ini diketahui dari simpanan fosil di Afrika Selatan dan Utara. Keragamannya tinggi dan besar kemungkinan ada lebih satu spesies Homo sebelum 1,8 Myr termasuk H. habilisdan H. rudolfensis. Menjelang 1,8 Myr sebuah spesies Homo muncul di Afrika Timur yang dalam banyak hal dekat dengan H erectus di Asia. Spesies hominid lain tampaknya berkoeksistensi dengan Homo. Di Afrika Selatan. A. robustus bertumpang-tindih menurut letak geografis dan kurun waktunya dengan Homo awal. Spesies-spesies ini memiliki lebih banyak kesamaan dengan Homo dibanding spesies Hominid lain, antara lain kandungan otak, hilangnya moncong, lengkung dasar tempurung kepala, morfologi atau bentuk fisik telapak tangan yang mirip dengan manusia. Tapi bersamaan dengan itu pula. ia memiliki morfologi yang berkaitan erat dengan kemampuan memanjat, antara lain gigi taring yang kuat, rahang besar, dan tuiang penyangga yang kuat untuk otot-otot memanjat. Di Afrika Timur, A. boisei muncul pada 2,1 Myr dengan kombinasi yang menyerupai Homo dengan adaptasi lebih ekstrim dalam hal kemampuan memanjat. Kedua spesies ini. A. robustusdan boisei, acapkali disebut Australophithecus paranthropus atau ‘robust’. Namun sifat robust (kuat, tegap) ini hanya berkaitan dengan kemampuan memanjat saja. Kedua spesies cukup mungil ukurannya, yakni yang jantan kira-kira 40-50 kg dan betina 32-4 kg (McHenry 1994).

Pemunculan pertama populasi manusia di luar Afrika barangkali sudah terjadi pada 1 Myr, tapi secara pasti adalah 0,9 Myr, yakni H. erectus yang muncul di bagian Asia tropis. Kronologi yang pasti belumlah diketahui, tapi mungkin pada kurun setelah ini dan sebelum 0,5 Myr sejumlah populasi telah beradaptasi hidup di daerah iklim panas Asia dan Eropa. Munculnya H. sapiens tergantung menurut definisinya, namun menjelang 0,3 Myr otak ukuran modern telah berkembang pada tempurung kepala mereka yang masih membawa ciri-ciri H. erectus. H. sapiens purbakala ini bertahan di sebagian besar Eurasia sampai kira-kira 40.000 tahun yang silam. Fosil tertua yang secara anatomis sama dengan H. sapiens modern adalah di Afrika, barangkali sekitar 130.000 tahun yang lalu, kendati di hampir semua bagian Eruasia jenis ini baru banyak ditemukan setelah 40.000. Paling tidak 32.000 tahun yang silam dan barangkali menjelang 50.000 Australia dihuni oleh H. sapi-ens beranatomi modern. Amerika didatangi oleh imigran dari Asia, yang menyeberang lewat tanah genting yang menghubungkan Alaska dan Siberia sekitar 20.000 sampai 15.000 tahun yang lalu, namun kolonialisasi yang berhasil di hampir semua wilayah Amerika baru terjadi pada 12.000 tahun lalu. Manusia pertama mencapai pulau-pulau di Pasifik pada beberapa ribu tahun lalu dari timur, dan mencapai Mar-quesas Islands kira-kira 300 SM, serta Selandia Baru kira-kira 900 SM. Perkembangan teknologi pada evolusi ma-nusia tampaknya berjalur menanjak, tapi secara pasti menunjukkan pola akselerasi. Alat-alat batu yang relatif kasar ditemukan sekitar 1,5 Myr. Alat- alat yang digerinda halus muncul lebih belakangan. Manusia memiliki pertanian, kota-kota, dan tulisan kurang dari seperempat dari 1 persen perkembangan evolusi mereka sebagai jalur mamalia tersendiri.

Advertisement

Advertisement