Advertisement

Suatu konsep sistem ekonomi yang menyatakan bahwa di Indonesia terdapat dua sistem ekonomi yang terpisah satu sama lain, tetapi hidup berdampingan secara permanen, sistem ekonomi prakapitalis, dan sistem ekonomi kapitalis tinggi. Sistem prakapitalis merupakan unsur asli dari kehidupan ekonomi bumiputra, sedangkan sistem ekonomi kapitalis datang dari Barat.

Sistem ekonomi prakapitalis berasaskan kehidupan ekonomi rumah tangga untuk pemenuhan kebutuhan sendiri {subsistensi). Sebaliknya, sistem kapitalis tinggi merupakan tahapan suatu perkembangan yang berasaskan kebutuhan-kebutuhan ekonomi tak terbatas yang dirasakan oleh manusia sebagai individu. Dalam sistem kapitalis tinggi ini persaingan secara keras dibenarkan, dan kebutuhan ekonomi yang ada adalah kebutuhan ekonomi ke arah pemupukan modal. Dua sistem ekonomi yang mendua ini dapat dilihat jelas pada menduanya kenyataan-kenyataan, antara lain: rendah dan tingginya mobilitas produksi, pedesaan dan perkotaan, rumah tangga padat karya dan rumah tangga padat modal, organis dan mekanis, konsumen dan produsen, dan sebagainya.

Advertisement

Konsep dualisme ekonomi pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1930 oleh J.H. Boeke, berdasarkan pengamatannya atas kehidupan pedesaan pada tahun-tahun sebelum Perang Dunia I sampai terjadinya depresi ekonomi yang hebat pada tahun 1929-1930. Sebagai pegawai pada suatu jawatan perkreditan rakyat waktu itu, J.H. Boeke memperoleh kesempatan luas dekat kehidupan rakyat pedesaan. Menurut teori ini, masyarakat Indonesia juga bersifat mendua, yakni masyarakat kapitalis dan masyarakat kapitalis tinggi.

Demikianlah menurut teori ini, masyarakat bumiputra tetap berpi jak pada padat karya dalam pemenuhan kebutuhan subsistensinya. Sifat statis masyarakat bumiputra, menurut Boeke, adalah sebagian dari sifatnya yang telah tertanam dengan kukuh, sehingga perubahan boleh dikatakan mustahil dan sukar dilaksanakan. Sementara itu, perluasan areal pertanian rakyat yang dilakukan hanya mampu bertahan sampai mengimbangi tingkat laju pertumbuhan penduduk yang semakin cepat. Penghasilan penduduk sesungguhnya tidak pernah mengalami pertambahan. Sebaliknya masyarakat Eropa dan Timur Asing lainnya mengalami perkembangan ekonomi yang tinggi dan makin lama makin padat modal.

Teori dualisme ekonomi Boeke mendapat banyak kritik. Kritik yang agaknya paling sengit adalah yang dilancarkan oleh Benjamin Higgins dengan artikelnya “The Analitic Theory of Under Development Areas” dalam Economic Development and Cultural Change (Jil. IV, 1956). Meskipun demikian, analisis seorang antropolog terkenal Amerika, Clifford Geertz, dengan teorinya Involusi Pertanian agaknya memperkuat teori dualisme ekonomi Boeke ini. Clifford Geertz dengan teorinya ini mengemukakan bahwa masyarakat pedesaan Jawa pada masa pemerintahan kolonial menghadapi masalah-masalah yang timbul akibat meningkatnya jumlah penduduk, meluasnya penggunaan uang, industrialisasi pertanian, dan lain-lain. Mereka bukannya melebur sistem ekonomi yang telah lama mapan ke dalam bentuk komunitas pertanian perdagangan yang modern, melainkan menerapkan cara-cara khusus, sejenis penjelimetan teknis. Pola dasar yang telah mapan dipertahankan dan penyesuaian itu terjadi dengan merumitkan berbagai pranata dan praktik pertanian yang telah lama mapan tersebut.

Seperti halnya teori dualisme ekonomi Boeke, teori involusi pertanian Geertz juga mendapat kritikan dari kalangan sarjana, terutama karena teori-teori ini terlalu pesimistis terhadap kemungkinan perubahan ekonomi dan sosial pedesaan. Betapa pun juga, baik teori Boeke maupun teori Geertz telah menempati posisi yang penting dalam pemahaman perkembangan perekonomian Indonesia.

Advertisement