Advertisement

Dual Degree, Ada beberapa istilah yang memaksa pendengarnya menarik kesimpulan adanya hubungan antara istilah ini dengan ijazah. Istilah itu adalah : dual degree, joint schools dan combined courses

Akhir-akhir ini di Indonesia banyak perguruan tinggi yang menawarkan kepada mahasiswanya dua macam derajat dan tentunya dua macam ijazah setelah mereka memenuhi persyaratan program-program yang diambil. Seorang mahasiswa bisa mendapatkan gelar magister dan sekaligus master. Dalam hal ini biasanya magister didapat lebih dahulu kemudian baru derajat master-nya. Hal-hal yang demikian ini lah yang menyebabkan kerancuan. Bila magister yang digolongkan sebagai Strata 2 setara dengan derajat nzaster mengap.a untuk mendapatkan master harus menjalani course lagi. Dalam hal ini terasa adanya kekurang-percayaan dan malahan ada perasaan inferiority pada pencetak magister. Hal yang semacam ini pernah terjadi pada derajat doktorandus yang dulunya persyaratan untuk mengambil derajat doktor sekarang disetarakan dengan Strata 1. Di negeri Belanda drs. sampai sekarang tetap setara dengan master dan bukannya first degree.

Advertisement

Perguruan tinggi yang terkenal dan jumlah mahasiswanya beribu-ribu belum tentu lebih baik dalam hal menghasilkan lulusan undergraduate (di Indonesia lulusan strata I) bila dibandingkan dengan universitas kecil yang mahasiswanya tidak terlalu banyak. Universitas besar yang memiliki banyak profesor dan doktor biasanya memang lebih baik dalam menghasilkan karya penelitian, tetapi dalam mempersiapkan mahasiswa unde•graduate menjadi Ph.D. belum tentu universitas kecil kalah.

Seringkali pada universitas besar perbandingan jumlah mahasiswa undergraduate-nya dengan jurrdah produksi Ph.D. nya tidak proporsional. Banyak College kecil di Amerika Serikat yang lebih berhasil dalam mempersiapkan mahasiswa undewaduate menjadi Ph.D. dibandingkan dengan universitas besar. Mengapa bisa demikian, oleh karena para staf pengajar universitas kecil lebih memberikan perhatian kepada mahasiswa yang dibimbingnya dibandingkan dengan perhatian kepada penelitiannya. Kesempatan mahasiswa bisa bertemu profesor, lebih besar di college kecil dibandingkan dengan keseinpatan yang ada di universitas besar dan terkenal.

Telah terbukti banyak profesor terkenal tidak bisa mentransfer ilmunya kepada mahasiswa undergraduate, profesor terkenal biasanya erat hubungannya dengan riset atau dengan kepentingan pemerintahan. Seorang profesor yang telah duduk sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan sering sudah tidak bisa lagi memberi kuliah dengan baik.

Universitas yang menjadi terkenal karena banyak mendapat hadiah Nobel, hadiah Rose Bowl dan hadiah/penghargaan prestasi ilmiah lainnya belum tentu lebih baik dalam mendidik mahasiswa undergraduate.

Para pemerhati perguruan tinggi dan universitas membagi universitas menjadi tiga, yaitu universitas dengan gambaran suasana kuno, universitas dengan gambaran modern dan universitas dengan gambaran yang dinamakan nulltiversity.

Bila seseorang berniat untuk menjadi tamatan perguruan tinggi biasa (sarjana biasa saja) sebaiknya memilih universitas dengan gambaran suasana modern, tetapi bila ingin menjadi peneliti atau penemu akan lebih baik bila bergabung ke universitas dengan gambaran nzultiversity

Di Indonesia ini banyak orang yang berpendapat bahwa lulusan perguruan tinggi di dalam negeri tidak siap pakai. Banyak yang berpikiran untuk siap pakai harus menempuh ilmu lagi di luar negeri atau kalau tidak di luar negeri bisa saja di dalam negeri tetapi harus mengambil program MBA. Pendapat yang demikian tidak sepenuhnya benar. Fakultas yang merupakan bagian dari universitas, tugas dan fungsinya adalah menghasilkan sarjana yang memiliki wawasan, daya nalar, kreativitas sesuai dengan analisis ilmiah, memiliki prospektif yang jauh ke depan dan beretika. Sarjana yang baru lulus memang tidak siap pakai, tetapi mereka memiliki kemampuan otak dan siap mental menghadapi tantangan.

Bila dilihat dari kurikulumnya perguruan tinggi yang mencetak MBA cenderung bersifat pelatihan atau training. MBA sebenarnya merupakan sebutan profesional. Dalam derajat yang sama dengan MBA tetapi yang sifatnya akademik adalah sebutan MS atau MSc.

Lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang siap pakai adalah lulusan akademi, lulusan politeknik, lulusan program profesi seperti dokter, apoteker, dokter spesialis, ataupun notaris. Lulusan universitas memang hanya dibekali dasar-dasar ilmu yang akan dimatangkan saat bertugas di bidangnya.

Pemikiran tentang siap pakai dan tidak siap pakai lebih banyak untuk mengeritik yang menentukan kurikulum tanpa mau tahu apa sebenarnya tujuan yang ingin dicapai kurikulum itu. Sekolah Menengah Umum dianggap tidak siap pakai, hal itu memang diakui oleh karena tujuan meluluskan murid Sekolah Menengah Umum adalah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Yang siap pakai adalah lulusan sekolah kejuruan seperti STM, SGB, SGA. Tentang mengapa kemudian lulusan STM juga tidak siap pakai hal itu disebabkan oleh karena yang diajarkan ilmu­ilmu yang obsolete. Contohnya Sekolah Teknik dijaman penjajahan diajari merawat atau memperbaiki ynesin tenaga uap sehubungan banyaknya mesin uap (lokomotif uap), lulusan sekolah teknik pada jaman itu betul-betul siap pakai. Di tahun 1960 -an sampai 1970- an mata ajaran di Sekolah Teknik masih saja sama dengan jaman penjajahan sedangkan lokomotif uap telah jarang adanya karena telah diganti lokomotif diesel. Jelas lah lulusannya menjadi tidak siap pakai. Namun yang menjadi masalah, mengapa yang disalahkan sistemnya yang disebutnya warisan kolonial.

Dengan demikian dalam memilih perguruan tinggi, calon mahasiswa harus tahu tujuan sekolah yang akan ditujunya, apakah telah sesuai dengan arah cita­citanya. Bila ingin siap pakai, pilihlah akademi atau politeknik atau program spesialis, jangan universitas.

Advertisement