PENGERTIAN DISTORSI MOTIVASIONAL

adsense-fallback

Kategori distorsi umum yang kedua muncul dari usaha manusia untuk memuaskan kebutuhan serta motivasi mereka sendiri. Distorsi kognitif dianalisis seakan-akan manusia hanya memiliki satu macam kebutuhan, yakni kebutuhan memiliki pemahaman yang jelas dan terpadu tentang lingkungannya. Ini merupakan asumsi titik pandangan kognitif yang berjalan secara karakteristik. Namun, dalam kenyataannya manusia mempunyai berbagai kebutuhan lain seperti mencintai, membalas dendam, harga diri, prestise, materi, dan .sebagainya. Banyak sekali yang tidak dapat kita nilai seandainya faktor-faktor ini kita abaikan. Dan faktor-faktor tersebut terbukti memainkan peranan penting dalam mencapai atribusi sebab akibat.

adsense-fallback

Distorsi yang Berjalan Sendiri. Distorsi motivasional yang paling umum dalam proses atribusi adalah distorsi yang bekerja sendiri. Istilah ini menggambarkan atribusi yang mengagung-agungkan ego atau mempertahankan penilaian terhadap diri sendiri. Sebagai contoh yang amat sederhana, kita cenderung mengatribusikan keberhasilan yang kita capai kepada penyebab intern seperti kemampuan kita, kerja keras, atau keutamaan lainnya. Kita cenderung menyalahkan kegagalan kita kepada faktor-faktor ekstern seperti nasib buruk, struktur politik yang menekan, isteri yang rewel atau suami yang suka , cuaca buruk, dan sebagainya. Contohnya, para mahasiswa perguruan tinggi mengatribusikan nilai 9 dan 10 dalam tiga ujian selama satu semester kepada faktor intern, seperti kemampuan dan usaha, sedangkan nilai 5, 6, dan 7 mereka atribusikan kepada faktor-faktor ekstern, seperti ujian yang terlalu berat dan nasib buruk (Bernstein et al., 1979). Dalam berbagai telaah eksperimental, para subjek mendapat eksperimen keberhasilan dan kegagalan lalu diminta untuk menjelaskan hasilnya. Lainnya menyuruh subjek agar mengajar sesuatu kepada seorang mahasiswa sementara memanipulasikan keberhasilan dan kegagalan “pengajar” tersebut. Dalam kedua eksperimen tersebut kebanyakan subjek ¬†atribusikan keberhasilan mereka kepada penyebab intern dan kegagalannya kepada penyebab ekstern (lihat Bradley, 1978; dan Zuckerman, 1979). Distorsi serupa yang berjalan sendiri seringkah diterapkan kepada kelompok terhadap siapa seseorang diidentifikasikan. Perbedaan atribusi terhadap kerusuhan itu mempunyai banyak arti politiknya. Jika penyebab yang sebenarnya terletak pada kondisi lokal yang buruk seperti dikatakan kaum berkulit hitam, maka kondisi tadi harus dirubah. Hal ini akan menunjuk pada program pembangunan pemerintah yang berusaha untuk membantu kaum kulit hitam di bidang perumahan, kesehatan, pekerjaan, pendidikan, dan sebagainya. Jika penyebab sebenarnya terletak pada beberapa kemujuran seperti udara panas, tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan. Jika agitator yang penuh dendam atau kriminal bertanggung jawab atas kerusuhan, politik “hukum dan undang-undang” yang keras akan lebih sesuai. Atribusi ekstern yang stabil menunjang politik liberal; atribusi intern yang stabil atau atribusi ekstern tidak stabil, merupakan senjata bagi kaum politisi konservatif. Distorsi yang berjalan sendiri yang sama dengan contoh di atas muncul dari sebuah analisis tentang keterangan pemain dan pelatih sesudah pertandingan mengenai hasil pertandingan Internasional sepak bola profesional dan Tingkat perguruan tinggi (Lau & Russel, 1980). Atribusi intern (yang berlawanan dengan ekstern) dibuat oleh 80 persen pemenang dan 53 persen dari yang kalah. Manajer yang menang dalam salah satu pertandingan Internasional mencapai atribusi intern dengan mengatakan bahwa pemain bintangnyalah “yang telah melakukan itu semua.” Seorang pemain yang kalah menjelaskan hasil yang sama secara ekstern: “Saya kira kita semua telah memukul bola secara benar, tapi kita kurang beruntung.”

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback