Advertisement

Setelah kita membahas berbagai pendekatan dan pendapat mengenai hakikat manusia, tibalah giliran kita mengkaji berbagai pengertian tentang sumber perilaku itu sendiri, yaitu motif.

Menurut M. Sherif & C.W. Sherif (1956) motif adalah istilah generik yang meliputi semua faktor internal yang mengarah ke berbagai jenis perilaku yang bertujuan, semua pengaruh internal seperti kebutuhan (needs) yang berasal dari fungsi-fungsi organisme, dorongan dan keinginan, aspirasi, dan selera sosial f&iig betrtimber dari fungsi-fungsi tersebut.

Advertisement

Menurut kedua peneliti itu berdasarkan asalnya ada dua jenis motif, sebagai berikut.

1. Motif biogenik

Motif ini berasal dari proses fisiologik dalam tubuh yang dasarnya adalah mempertahankan ekuilibrium dalam tubuh sampai batas-batas tertentu. Proses ini disebut “homeostasis”. 2? Motif sosiogenik

Motif ini timbul karena perkembangan inidividu dalam tatanan sosialnya dan terbentuk karena hubungan antarpribadi, hubungan antarkelompok atau nilai-nilai sosial, dan pranata-pranata.

Untuk menjelaskan motif biogenik, Sherif & Sherif mengemukakan experimen yang dilakukan oleh PT Young pada tahun 1936. Eksperimen yang dilakukan dengan hewan itu menunjukkan bahwa tidak ada hierarki dalam dorongan (drive). Hewan yang kehausan akan mencari air terlebih dahulu, bukan makanan. Hewan yang kelaparan tidak mempedulikan air, tetapi mencari makanan. likus yang dimasukkan ke dalam kandang yang baru, terlebih dahulu akan menjelajahi tempat baru tersebut, sehingga menghambat perilaku agresi.

Demikian juga antara motif biogenik dan sosiogenik, menurut Sherif & Sherif, tidak ada hierarki tertentu, tergantung situasi karena motif tidak berfungsi sendiri, tetapi selalu terkait dengan faktorfaktor lain.

Motif sosiogenik bermula dari motif biogenik. Melalui proses belajar, individu memilih mana yang disukainya dan mana yang dihindarinya (jenis makanan tertentu, orang tertentu dan lainlain) sesuai dengan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Faktor-faktor pribadi tersebut menyebabkan timbulnya sistem hubungan antarpribadi tersendiri pada diri seseorang yang oleh Sherif & Sherif disebut “Ego”. Ego inilah yang menetapkan motif sosiogenik. Jadi, motif sosiogenik sangat tergantung pada proses belajar. Motif untuk mudik lebaran dalam coritoh di atas adalah motif sosiogenik, yang berkembahg dari motif bidgeriik misalnya kebutuhah akan rasa aman’dalam lindungan keluarga. Demikian juga motif untuk masuk sekolah favorit, atau memakai busana ciptaan desainer terkenal untuk pergi ke resepsi perkawinan yang dikunjungi oleh banyak orang ternama di ibu kota, dan sebagainya.

2. Hubungan perkembangan konsep dan motif

Kata-kata pertama yang muncul pada bayi sesuai dengan dorongan dan urgensi dari dalam diri bayi itu sendiri yang berhubungan dengan afek (perasaan), aktivitas motorik anak, dan situasi sesaat. Mungkin anak akan mengatakan “mi-mi” kalau melihat botol susu dipegang ibu tetapi tidak berkata demikian kalau yang memegang botol itu orang lain. Setelah beberapa saat barulah kata “mi-mi”‘ digeneralisasikan ke situasi-situasi lain (orang lain dan sebagainya). Gejala ini dilaporkan oleh Sherif & Sherif (1967) berdasarkan laporan penelitian M.M. Lewis pada tahun 1936.

Sebelumnya, penelitian M.E. Smith pada tahun 1926 membuktikan bahwa perbendaharaan kata bayi berkembang sangat pelan sampai umur 18 bulan (hanya mencapai 22 kata), tetapi meningkat dengan pesat sejak usia 21 bulan (21 bulan = 118 kata, 24 bulan = 272 kata, 30 bulan = 446 kata, 38 bulan = 896 kata, 42 bulan = 1222 kata). Ini adalah periode “memberi nama” (naming period) yang timbul secara tiba-tiba karena anak ingin tahu nama semua hal (sifat ‘ilmuwan” pada anak seperti yang sudah diuraikan di atas).

Selanjutnya, Sherif & Sherif juga melaporkan penelitian Holenberg pada tahun 1946 tentang suku bangsa Sirions (Indian Bolivia) yang hampir selamanya berada dalam kelaparan (kekurangan makanan). Mereka belum dapatbercocok tanam atau beternak. Karena itu, mereka harus terus-menerus berburu. Karena belum menguasai teknologi pengawetan, setiap hasil buruan langsung dimakan sehingga paceklik mereka tidak mempunyai makanan sama sekali. Karena makanan begitu penting untuk suku itu,-.segala-sesuatu tentang konsepkehidupan dikaitkan dengan makanan. Kepala suku adalah orang yang paling pandai berburu (baea: mencari makanan): Pemuda yang’pandai berburu lebih disukai daripada yang kurang pandai berburu. Orang-orang tua dan orang yang berpenyakitan dianggap sebagai beban karena tidak bisa mencari makanan. Oleh karena itu, mereka dibiarkan mati. Dongeng-dongeng mereka juga tentang perburuan dan makanan.

Advertisement