PENGERTIAN DAN CARA MENGUKUR KUALITAS MANUSIA

adsense-fallback

PENGERTIAN DAN CARA MENGUKUR KUALITAS MANUSIA – Suatu ciri yang melekat pada manusia dan menunjukkan derajat baik-tidaknya kea­daan manusia tersebut secara keseluruhan. Kualitas manusia dapat dibagi dalam dua unsur utama, yaitu kualitas fisik dan kualitas non-fisik. Unsur-unsur kualitas fisik antara lain keadaan fisik yang ditunjuk­kan oleh status gizi (misalnya tinggi dan bobot ba­dan), serta status kesehatan dan kesegaran jasmani, sedangkan unsur-unsur kualitas non-fisik adalah kua­litas akal, kualitas mental-emosional, serta kualitas budi pekerti dan spiritual. Secara keseluruhan, unsur- unsur kualitas tersebut menentukan kualitas hubung­an dan interaksi manusia tersebut dengan lingkungan­nya, termasuk lingkungan alam sekitar, lingkungan sosial, dan lingkungan spiritual (hubungan manusia dengan Tuhan).

adsense-fallback

Tiap unsur kualitas mempunyai indikator tertentu. Status gizi seseorang dapat dilihat dari perbandingan tinggi dan bobot badannya dengan standar yang normal, sesuai dengan jenis kelamin dan usianya. Misalnya, status gizi bayi yang baru lahir dikatakan kurang apabila bobotnya kurang dari 2,5 kilogram; status kesehatan seseorang ditunjukkan oleh ada tidaknya penyakit yang dideritanya; keadaan kesegar­an jasmani dilihat dari kapasitas fungsi tubuhnya, yang akan dinilai dengan melakukan berbagai uji faal tubuh seperti faal jantung dan pembuluh darah, serta faal pernapasan.

Berbeda dengan indikator kualitas fisik yang dapat diukur secara kuantitatif, indikator kualitas non-fisik umumnya bersifat abstrak dan sulit diukur. Indikator- indikator tersebut antara lain tingkat kecerdasan untuk kualitas mental-emosional, dan ketaqwaan serta iman untuk kualitas spiritual. Klasifikasi unsur-unsur kua­litas non-fisik didasarkan hasil beberapa penelitian di 15 kota dan beberapa daerah di Indonesia yang diko- ordinasi oleh Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup selama Repelita IV.

Gambaran kualitas penduduk diperoleh dengan mengukur indikator-indikator tersebut pada suatu ke­lompok manusia. Misalnya, status gizi penduduk, yang merupakan salah satu indikator kualitas fisik penduduk, dapat dilihat dari persentase bayi yang lahir dengan bobot badan kurang dari 2,5 kilogram, persentase anak di bawah lima tahun (balita) yang menderita kurang gizi, persentase penduduk yang menderita kekurangan iod (yodium), dll. Angka pe­nyakit (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) adalah indikator kualitas fisik lainnya.

Sebagai contoh, kualitas fisik penduduk Indonesia ditunjukkan oleh angka-angka sebagai berikut: bayi lahir dengan bobot badan kurang- dari 2,5 kilogram adalah 14 persen (1985), anak balita yang menderita kurang gizi berat adalah 1,7 persen (1986), prevalensi (persentase) penduduk yang menderita sakit dalam 1 bulan adalah 8,3 persen, angka kematian kasar adalah 7,9 per 1.000 penduduk (1988) dan angka kematian bayi adalah 70 per 1.000 kelahiran hidup (1985).

Status kualitas non-fisik penduduk sulit dinyatakan oleh karena teknik pengukurannya yang sulit, lebih- lebih untuk unsur kualitas spiritual. Secara tidak lang­sung kualitas akal dapat ditunjukkan oleh derajat pen­didikan penduduk, kualitas mental-emosional oleh angka-angka gangguan emosional dan mental.

Dalam konteks pembangunan di Indonesia, kebi­jaksanaan pembangunan selalu menekankan pentingnya peningkatan kualitas penduduk, sehingga pendu­duk yang jumlahnya sangat besar dapat berfungsi se­bagai modal utama pembangunan dan tidak sebalik­nya menjadi beban pembangunan.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback