PENGERTIAN DAN ARTI KONFUSIANISME

adsense-fallback

PENGERTIAN DAN ARTI KONFUSIANISME – Salah satu dari ketiga aliran be­sar filsafat (di samping Taoisme dan Budhisme) yang sangat berpengaruh terhadap kebudayaan Asia, khususnya Cina, Vietnam, Korea, dan Jepang. Menu­rut banyak ahli, konfusianisme didirikan oleh K’ung Fu-tzu (Kong Hucu), Guru K’ung, yang namanya di- latinkan menjadi Konfusius (551-479 SM).

adsense-fallback

Konfusius lahir dari keluarga miskin dan sederhana di daerah Lu (Shantung). Ayahnya meninggal ketika ia berumur sekitar 3 tahun. Pada usia 19 tahun, Kon­fusius menikah dengan gadis dari P’in-kuan daerah Sung. Mereka dikaruniai seorang putra dan seorang putri. Pada usia dua puluhan, Konfusius bekerja seba­gai pegawai negeri yang bertugas mencatat jumlah persediaan gandum, beras, dan ternak yang akan digu­nakan dalam upacara kurban. Dalam pekerjaan itu, yang menarik perhatiannya adalah kurban dan upaca­ra keagamaan. Pada usia 51 tahun, Konfusius menjadi guru di Shantung, kemudian menjabat menteri peker­jaan umum di negaranya dan konsultan negara tetang­ga, Chi. Setelah ia tak berpengaruh lagi terhadap bangsawan Chi, ia meninggalkan negaranya, Lu, ber­sama beberapa murid dan mengembara ke sembilan negara selama hampir 30 tahun. Tetapi pada usia 78 tahun, ia kembali ke Lu untuk terus mengajar dan me­nulis. Karya tulisnya antara lain Tawarikh Musim Pa­nas dan Semi {Chun’-eh’in) dan juga komentar atas Buku tentang Perubahan (/ Ching). Ia juga menyun­ting empat buku klasik, antara lain, Kitab Pujian (Shih Ching), Kitab Sejarah (Shu Ching), Kitab Upacara CLi Chi), dan Kitab Nyanyian (Yueh Ching).

Ajaran dan nasihat Konfusius dikumpulkan oleh murid-muridnya dalam analek (Lun Yu) beberapa pu­luh tahun setelah ia meninggal. Ajarannya yang lain dikumpulkan dalam Ajaran Agung (Ta-hsueh) dan Ajaran tentang Sarana (Chung Yung).

Ajaran Konfusius merupakan reaksi atas pendi­dikan di Cina pada waktu itu yang berorientasi utilitarianisme dan profesionalisme, sehingga pendi­dikan menjadi monopoli kaum bangsawan. Sebalik­nya, Konfusius berpendapat bahwa pendidikan itu ter­buka bagi semua orang tanpa pembedaan kelas. Ajaran utama tertuju pada manusia. Hakikat manusia tidak dipandang secara teoretis, melainkan dilihat dari keadaan manusia yang aktual, hubungan antarmanu­sia. Oleh sebab itu, perhatiannya kepada masyarakat juga tidak kalah penting. Bagi Konfusius, kodrat ma­nusia tidak terpisahkan dari alam semesta, karena ma­nusia adalah bagian konstitutif alam semesta. Sebalik­nya alam semesta diselidiki oleh manusia, bukan untuk dikuasai melainkan untuk dipahami hubungan­nya dengan dirinya. Yang penting bukanlah mengua­sai alam, tetapi menguasai manusia sehingga tindak­annya selaras dengan alam. Manusia harus berhubungan dengan alam secara indah dan harmonis.

Konfusius memperkenalkan idealis manusia sem­purna yang dirumuskan dengan istilah Kiun Tse. Bila diterjemahkan, istilah ini berarti orang bijaksana, ber­jiwa ksatria, mencintai rakyat, berani; orang yang se­lalu khikmat akan langit, yang memahami ajaran la­ngit. Istilah itu dapat juga diterjemahkan sebagai orang yang selalu memu­satkan perhatian dan pi­kiran akan hal mendasar; orang yang tidak men­gumbar hawa nafsu atau mencari kenikmatan jas­maniah, tetapi selalu pe­nuh semangat, tekun da­lam tindakan dan ber­hati-hati dalam berbica­ra. Ia tidak menentang atau menolak apa saja te­tapi mengikuti jalan ter­baik. Ia menghormati orang lain, suka memuji, murah hati, dan penuh kebajikan. Untuk memperjelas gambaran manusia luhur, Konfusius membanding­kannya dengan manusia rendah. Menurutnya, manu­sia luhur memahami kebajikan, keadilan, sedangkan manusia rendah hanya mau mencari untung saja. Ma­nusia sempurna selalu melihat dan mencari kebaikan orang lain, tetapi hal ini tidak dilakukan oleh manusia rendah.

Bagaimanakah ciri orang sempurna atau orang yang disebut Kiun Tse itu? Seseorang yang mencapai Kiun Tse dapat dikenal dari kesadaran akan “jalan la­ngit” dan pelaksanaan beberapa kebajikan. Kebajikan pertama adalah ren yang berarti cinta fundamental, cinta hubungan antarmanusia berdasarkan kemanu­siaan yang sama. Konfusius mengajarkan ren dengan sangat konkret, yaitu cinta dalam arti melakukan se­suatu yang tak disukai orang lain. Ajaran konfusianisme adalah suatu etik hubungan antarmanusia, menyangkut tingkah laku hidup dan bermasyarakat. Menurutnya, menjadi manusia berarti menyadari bah­wa ia selalu berhubungan dengan orang lain dan ber­tindak agar hubungan itu selalu harmonis dengan se­gala implikasinya. Ada lima hubungan dasar, yaitu penguasa dan bawahan, bapak dan anak, suami dan istri, yang lebih tua dan yang lebih muda, dan hubung­an antarsesama teman. Keluarga menduduki peran sentral. Cinta ren itu harus dihubungkan dan didasar­kan atas ji, yakni keadilan atau kesamaan. Ji adalah kebajikan kedua. Suatu sistem hubungan antarpribadi yang memustahilkan hubungan acuh tak acuh antara satu dan lainnya.

Ajaran konfusianisme kemudian dikembangkan oleh Mencius (Meng-Tzu atau Meng-tse, 371-289 SM) dan Xun Zi (298-238 SM). Rakyat Cina meng­hormati Mensius sebagai “Nabi kedua” di samping Konfusius. Sebelum masuknya Budhisme, filsafat Ci­na bersifat etis, humanistis, dan bukan agama. De­ngan masuknya Budhisme, konfusianisme ditantang untuk memberikan ajaran yang memuaskan, agar da­pat menampilkan ajaran yang dapat menjadi agama. Hal ini mengakibatkan munculnya neo-konfusian- isme dengan tokohnya antara lain Han Yu (708-824), Chou Tun-yi (1017-1073), Chang Tsai (1020-1077), Ch’eng Yi (1033-1108), Wang Shou-jen (1473- 1528). Pada masa pemerintahan Dinasti Ch’ing pada abad ke-17 sampai 20, kaum konfusianis berusaha membersihkan ajarannya dari unsur Budhisme da«> kembali ke ajaran koiifusianisme ortodoks j^man – Dinasti Han. Tokohnya antara lain Juan Yuan (1764- 1849), Yen Yun (1635-1704), Wang Fu-chih (1619- 1693), dan Tai Tung Yuan (1723-1777).

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

Incoming search terms:

  • pengertian konfusianisme
  • Contoh beserta difenisinya animisme totemisme konfusianisme judaisme dan taoisme

adsense-fallback