Advertisement

CYANOPHYTA — GANGGANG HIJAU-BIRU

Penyebaran Ganggang hijau-biru adalah organisme yang tak tampak oleh mata, tetapi tersebar sangat luas. Walaupun ganggang hijau-biru ini merupakan komponen utama fitoplankton baik di perairan masin maupun tawar, yang pada keadaan tertentu mungkin kehilangan warna airnya karena populasi ganggang yang luar biasa banyaknya sehingga membentuk apa yang disebut ‘ledakan’ (‘blooms’). Ganggang ini paling sexing dijumpai pada tanah lembap dan di permukaan-permukaan, misalnya permukaan pot tanaman, dinding tembok atau permukaan karang yang selalu lembap. Sifat yang berperan pada penyebaran ganggang hijau-biru ini ialah bahwa gang-gang ini dapat tahan terhadap keadaan yang sangat tidak cocok baginya. Jenis-jenis tertentu dijumpai pada sumber air panas, sedangkan jenis-jenis lain dapat hidup di daerah dengan kisaran suhu hariannya dari —60 °C sampai +15 °C. Ganggang hijau-biru juga tumbuh pada tempat yang terkena cahaya matahari penuh, atau di tempat gelap gulita, dan di perairan dengan kandungan garam sebanyak 27 persen. Beberapa dapat hidup bersimbiosis, baik dengan tumbuhan maupun dengan hewan.

Advertisement

 

Kisaran Bentuk

Ganggang hijau-biru biasanya bersel tunggal dan berkembang biak dengan cara pembelahan biner (2.2). Ganggang ini dapat berada sebagai sel-sel tersendiri atau lebih sering sebagai koloni yang ikatannya longgar. Tiap sel secara khas dibalut oleh sarung berlendir, dan koloni akan terbentuk jika sel-sel anak tetap bersatu dalam satu massa mirip selai. Koloni seperti itu mungkin berbentuk massa tak beraturan yang terdiri atas beberapa sampai banyak sel, atau memiliki bentuk khas yang berkisar dari bentuk filamen, melalui bentuk piring ceper dan cakram cekung, sampai bentuk kubus.

Tipe paling umum dari bentuk tubuh ganggang ini ialah filamen, yang sel-selnya memiliki dinding luar bersama. Peningkatan jumlah sel dalam filamen dicapai dengan cara pertumbuhan melingkar material dinding pada dinding luar. Filamen mungkin tidak bercabang (misalnya Nostoc dan Oscillatoria), dan tampaknya bercabang sebagai akibat pembelahan antara dua buah sel yang diikuti pertumbuhan salah satu sel atau kedua ujung yang pecah sepanjang sarung tetuanya (misalnya Scytonema 2.2c). Pada beberapa jenis percabangan semu terjadi berdekatan dengan sel khusus yang sewaktu-waktu berkembang sepanjang filamen itu. Selsel demikian, yang disebut heterosista (2.2d), berbeda dari sel-sel vegetatif normal karena mempunyai isi sel yang tembus cahaya dan dinding tebal dengan penebalan khas pada setiap ujungnya. Percabangan sejati yang disebabkan oleh pembelahan lateral sel-sel tertentu dalam filamen hanya terjadi pada sejumlah kecil marga ganggang ini.

 

Struktur Sel

Semua ganggang hijau-biru mudah dikenal karena struktur selnya yang prokariota, oleh karena itu jelas berbeda dengan struktur ganggang lain (2.2a). Jika sebuah sel tunggal diamati di bawah mikroskop biasa berkekuatan tinggi, yang akan tampak hanyalah sebuah dinding yang membungkus sebuah protoplasma berbutir (granular protoplasm), yang dalam beberapa jenis berwarna hijau-biru, tetapi dapat bervariasi dari keabu-abuan, melalui warna kuning, hijau, dan biru sampai merah. Dindingnya sangat berbeda dengan dinding sel yang khas pada tumbuhan, tetapi memperkan persamaan dengan dinding sel kebanyakan bakteri. Dinding sel ini dilapisi oleh sarung luar sel (extracellular cell sheath), yang pada beberapa jenis susunannya kaku, tetapi pada jenisjenis lain berupa gelatin yang membungkus rapat. Dindingnya sendiri memiliki struktur kompleks dan hanya dapat dibedakan dari plasmalemanya dengan susah payah.

Protoplasma selnya tidak terbagi atas sitoplasma dan inti, juga tidak ada organel yang jelas. Walaupun begitu, di bawah mikroskop elektron dapat di adanya dua bagian. Bagian luar disebut kromatoplasma dan berisi berbagai selaput fotosintesis pipih yang disebut kromatofor, sedangkan bagian dalam disebut sentroplasma. Protoplasmanya sendiri tampaknya memiliki konsistensi seperti selai kental. Aliran protoplasmanya tidak pernah dapat diamati, dan tidak ada vakuola tengah yang penuh cairan seperti halnya pada kebanyakan sel tumbuhan. Vakuola-vakuola kecil yang tersebar kadangkadang ter, tetapi vakuola ini terisi gas — suatu fenomena iarang yang terdapat hanya pada bakteri dan protozoa tertentu.

Walaupun tidak ada kloroplas yang jelas dalam selnya, proses utama fotosintesis berlangsung di dalam kromatofor yang struktur dan fungsinya dapat dianggap ekivalen dengan tilakoid sebuah kloroplas. Molekul-molekul klorofil merupakan komponen tilakoid kloroplas dan kromatofor. Di sini hanya terdapat satu macam klorofil (yaitu klorofil a), tetapi dijumpai pula pigmen-pigmen lain yang ikut serta dalam berfotosintesis. Dua di antara pigmen-pigmen ini memiliki struktur sama seperti pigmen empedu pada hewan, karena itu disebut fikobilin. Salah satu di antaranya berwarna biru (fikosianin) dan satu lagi merah (fikoeritrin). Kedua pigmen ini, yang menyerap cahaya pada daerah spektrum yang berbeda dengan molekul klorofil, tampaknya dapat mengalihkan energi cahaya ke klorofil a untuk digunakan dalam fotosintesis. Hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk polisakarida yang mirip glikogen, yang lebih tepat disebut kanji sianofita sampai susunan kimianya dapat lebih dikenal kelak.

Walaupun tak ada inti yang jelas, bahan DNA-nya terdapat pada sentroplasma, tetapi tidak tersusun dalam kromosom-kromosom. Karena tak ada kromosom, maka mitosis tidak terjadi, dan belum diketahui bagaimana cara bahan DNA terbagi ke dalam kedua sel anak.

 

Nutrisi

Semua ganggang hijau-biru mempunyai klorofil dan dapat berfotosintesis, tetapi beberapa dapat pula hidup tak menentu dengan memanfaatkan senyawa kimia siap-pakai. Hal ini merupakan ciri penting nutrisi heterotrof yang khas pada iamur dan hewan. Diperkirakan bahwa ganggang hijau-biru yang dijumpai dalam gua-gua atau di bawah batu yang dilapisi lumpur dapat hidup di sana hanya berkat kemampliannya menggunakan cara hidup heterotrof.

Ganggang hijau-biru juga unik di antara tumbuhan hijau dalam hal metabolisme nitrogennya, sebab beberapa gang-gang ini dapat ‘menambat’ nitrogen dari atmosfer menurut cara yang sama seperti yang dijumpai pada bakteri tertentu. Kemampuan ini dianggap berhubungan dengan adanya heterosista, sebab kebanyakan ganggang hijau-biru yang sejauh itu ternyata menambat nitrogen memiliki heterosista.

Ganggang hijau-biru banyak sekali dijumpai pada beberapa macam tanah tropika, di sini ganggang itu berperan sama penting seperti penambat nitrogen pada bintil-bintil tumbuhan polong-polongan. Di sawah-sawah di India dan Pakistan, misalnya, padi ditumbuhkan secara sinambung bertahuntahun tanpa diperlukan tambahan pupuk nitrogen. Alasannya adalah karena perendaman padi sawah selama musim hujan menginduksi pertumbuhan Nostoc yang sangat subur dan ini dapat mengganti kembali nitrogen yang telah digunakan untuk pertumbuhan tanaman padi.

Perkembangbiakan

Ganggang hijau-biru berkembang biak secara vegetatif de-ngan jalan pembelahan sel, yang pada kenyataannya berarti pembelahan biner pada ganggang bersel tunggal dan fragmen-tasi pada ganggang berbentuk filamen. Perkembangan hetero-sista pada filamen beberapa ganggang hijau-biru menciptakan titik lemah dan memungkinkan fragmentasi filamen menjadi berukuran lebih pendek. Kematian sel tunggal pada jarak tertentu sepanjang filamen juga memberi basil serupa. Beberapa ganggang hijau-biru (misalnya Anabaena dan Rivularia) membentuk spora aseksual yang disebut akinet (2.2e). Akinet adalah sel berdinding tebal yang tidak mampu bergerak, berisi makanan cadangan berlebihan, yang membantu ganggang bertahan terhadap keadaan yang tak menguntungkan bagi sel-sel vegetatifnya. Tak ada perkembangan seksual pada daur hidupnya.

 

 

Advertisement