Advertisement

Cladophora, Cladophora adalah ganggang ‘berfilamen’, yang terdapat di air tawar dan air asin, dan hidup terikat pada batu karang, vegetasi atau benda lain yang terendam. Tubuh ganggang ini heterotalik (yaitu terdiri atas dua sistem percabangan fila-men), karena memiliki sistem filamen tegak yang berwarna hijau cerah dan membelah diri menjadi satuan yang meman-jang, dan sebuah sistem filamen melata tak berwarna yang membelah diri menjadi satuan berbentuk kubus. Walaupun satuan-satuan ini mirip sel-sel, sebenarnya satuan-satuan tersebut adalah senosit yang berinti banyak, sebab pemben-tukan dinding silangnya tak ada hubungannya dengan pembelahan inti.

Dinding Cladophora tebal dan terbagi atas tiga lapis; dinding dalam dan tengah yang terdiri atas selulosa, tetapi berbeda dalam hal mikrofibrilnya yang hampir saling tegak lurus. Lapisan luar tersusun atas kitin (chitin) dan lapisan inilah yang menyebabkan ganggang terasa ‘garing’ (crisp) yang khas jika disentuh. Di dalam dinding setiap satuan bagian talus yang tegak terdapat kloroplas retikular yang kompleks dengan berbagai pirenoid di dalamnya (2.11b, separuh bagian atas). Bagian tengahnya terisi oleh sitoplasma yang memiliki banyak vakuola dengan berbagai inti (2.11b, separuh bagian bawah). Pada irisan melintang di bawah mikroskop sulit sekali dibedakan antara inti dan pirenoid.

Advertisement

Percabangan talus terbentuk dengan cara sangat khas. Pada ujung depan sel, sedikit di bawah sekat, terbentuklah sebuah tonjolan kecil yang terus memanjang dan akhirnya terpotong oleh sebuah dinding silang. Perkembangan percabangan menggeser sekat asal, sehingga jika terjadi percabangan, terbentuklah sekat berbentuk huruf V terbalik. Sekat ini merupakan wujud diagnostik yang penting untuk tumbuhan marga ini (2.11a).

Penambahan .panjang filamen patut pula dicatat, karena kurang-lebih terbatas pada bagian ujung. Satuan ujung setiap cabang terisi bahan pekat, dan bertambah panjang sampai filamen ini terbagi menjadi dua segmen dengan terbentuknya dinding silang. Segmen yang subterminal kemudian membe-sar sampai mencapai ukuran normal, tetapi tidak lagi mengalami pembelahan, walaupun mungkin kemudian mem-bentuk cabang dengan cara seperti yang telah diuraikan di atas.

Perkembangbiakan aseksual dan seksualnya ter sama, sebab dari kedua hal ini satuan senosit bagian talus yang tegak membelah diri menjadi berbagai sel reproduktif yang dapat bergerak. Jika sel-sel ini berflagel empat .mereka akan berfungsi sebagai zoospora aseksual, sedangkan jika berflagel dua akan berfungsi sebagai garnet seksual (2.11c, d). Pola daur hidupnya bervariasi menurut jenisnya. Pada beberapa jenis, daur ini sangat mirip dengan daur pada Ulva, karena adanya pergiliran turunan yang isomorf, sedangkan pada jenis-jenis lain tumbuhan ini semuanya diploid dan menghasilkan zoospora dan garnet.

 

Advertisement