Advertisement

CILIWUNG sebuah sungai yang berhulu di Gunung Pangrango, Jawa Barat. Sungai ini mengalir melalui Puncak, Ciawi, lalu membelok ke utara melalui Bogor, Depok, Jakarta, dan bermuara di Teluk Jakarta. Di kota Jakarta, alirannya bercabang dua di daerah Manggarai: yang satu melalui tengah kota, antara lain sepanjang daerah Gunung Sahari, dan yang lain melalui pinggir kota, antara lain melalui Tanah Abang. Di beberapa tempat, sungai ini digunakan para tuna wisma sebagai tempat mandi, cuci, dan kakus (MCK). Pemerintah membuatkan beberapa MCK di sepanjang jalan Gajah Mada dan sekitar Pasar Baru.

Sejak lama aliran sungai ini juga dipakai untuk mengangkut bambu. Bambu itu dibuat rakit kemudian dihanyutkan dari Bogor ke Jakarta untuk dijual. Rakit bambu biasanya dibongkar di daerah Manggarai dan dari tempat itu diangkut melalui jalan darat. Pasir dan batuan yang terdapat di sungai ini bermutu baik sebagai bahan bangunan. Tetapi penggaliannya dilarang secara resmi karena daerah sepanjang aliran Ci Liwung dikhususkan sebagai daerah penyerapan air Jakarta.

Advertisement

Di Kota Administratif Depok, debit air Ci Liwung sebesar air 200 liter per detik. Oleh Perusahaan Air Minum (PAM) wilayah Depok, air sungai ini dipakai sebagai sumber air minum bagi penduduk di sana. Di situ juga dibangun waduk seluas 200 hektar untuk mencegah luapan Ci Liwung pada musim hujan. Bendungan ini dibangun di Desa Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya. Di Jakarta, sungai ini iuga dimanfaatkan untuk Perusahaan air minum DKI.

Dulu, ketika Jakarta masih bernama Batavia, Ci Liwung masih dapat dilayari oleh perahu yang cukup besar sampai ke tengah kota. Di daerah yang menjadi Jalan Gajah Mada dan Harmoni, sering diselenggarakan perayaan tahunan pek cun, yakni perayaan perahu berhias bagi orang Cina di Jakarta. Kini, air sungai itu keruh ketika mencapai Jakarta, karena daerah alirannya merupakan tempat pembuangan limbah. Akibatnya, dasar sungai itu semakin dangkal dan alirannya semakin lambat.

Advertisement