Advertisement

CIANJURAN adalah gaya tembang Sunda khas daerah Cianjur dengan instrumen pengiring kecapi suling. Temponya bebas dengan syair berpola pupuh (puisi Jawa Lama), yang berasal dari Mataram dengan pola pupuh Jawa Tengah. Cianjuran muncul berkat ide Dalem Pancaniti, Bupati Cianjur (1834-1863), yang diteruskan oleh putranya R. Alibasah, Bupati Cianjur 1863. Pada masa R. Alibasah ini, penyebaran Cianjuran makin meluas, dan lagu-lagunya sangat digemari oleh kaum muda jaman tersebut karena bersifat romantis. Pada jaman dahulu, Cianjuran populer di kalangan kaum bangsawan Cianjur sebagai pelepas lelah. Biasanya acara ini dilakukan pada sore hari dalam suasana santai. Pada awalnya, Cianjuran dilaksanakan tanpa alat musik pengiring, tetapi kemudian diiringi dengan kecapi suling, bahkan dahulu pernah digunakan gitar dan biola sebagai pengiring. Sekarang, Cianjuran biasa dipentaskan pada upacara adat seperti pernikahan dan khitanan. Bahkan sekitar tahun 1977, di Bandung telah dibangun Lembaga Tembang Sunda yang diprakasai Dewan Kebudayaan Propinsi Jawa Barat untuk memelihara bentuk kesenian ini dengan nama Yayasan Pancaniti. Akhir-akhir ini, tak sedikit kaset Cianjuran yang beredar, terutama di Jawa Barat.

Advertisement
Advertisement