Advertisement

CIAMSI adalah alat konsultasi nasib menurut tradisi Cina. Bentuknya beragam, tetapi sesuai dengan arti istilah itu, yakni jarum, ciamsi berbentuk pipih memanjang sekitar 30 sentimeter. Ciamsi terbuat dari bambu. Jumlahnya kadang-kadang 36 buah, kadang-kadang 64 buah sesuai dengan pujaannya. Potongan bambu itu diletakkan dalam wadah yang terbuat dari potongan bambu bulat. Pada salah satu ujung ciamsi tertera nomor.

Untuk konsultasi, orang tersebut bersembahyang di klenteng. Lalu wadah ciamsi beserta isinya dikocok sambil menyampaikan pertanyaan atau masalah yang hendak dikonsultasikan. Kocokan diteruskan sampai sebatang ciamsi terlontar jatuh ke tanah. Untuk mendapat kepastian bahwa jawaban konsultasi itu benar, sepasang batang kayu atau sepasang mata uang logam dilemparkan. Ini dipakai untuk menentukan apakah jawaban sah atau tidak. Setelah jawaban pasti diperoleh, orang itu mengambil lembaran kertas bernomor  sesuai dengan nomor batang ciamsi terpilih. Di kertas itu tertera petunjuk berbentuk syair. Karena berbentuk syair, untuk mengetahui maknanya diperlukan orang yang mampu menafsirkan arti syair tersebut.

Advertisement

Konsultasi ini oleh sebagian warga keturunan Cina masih dipercaya keampuhannya. Banyak masalah sehari-hari yang sulit dipecahkan diputuskan dengan cara ini. Menurut sejarahnya, tradisi ini muncul sekitar 2000 tahun SM. Pengetahuan ini diturunkan turun temurun lewat kitab I Ching atau Ya Keng, Kitab Perubahan. Kitab ini berisi keterangan perubahan alam semesta dan falsafah tinggi, karena itu kitab ini lebih banyak dipakai oleh cendekiawan. Bahkan, Konfu sianisme dan Taoisme dianggap bersumber dari kitab ini. Bentuk asli konsultasi ini seperti yang dituturkan Kitab Perubahan sesungguhnya bukan klenik, sebab orang dianjurkan untuk tidak pasif menunggu nasib, dan apa yang terjadi dikaitkan dengan seluruh fenomena yang muncul di alam semesta.

Advertisement