Advertisement

CHUNG HWA HUI-BELANDA adalah nama organisasi mahasiswa Cina peranakan yang berpusat di Leiden, Belanda. Organisasi ini didirikan pada tahun 1911 ketika rasa nasionalis Cina tumbuh di kalangan kaum Cina peranakan. Salah satu tokoh pendirinya adalah Dr. Yap Hong Tjoen, sedangkan ketuanya adalah Han Tiauw Tjang. Sebagian besar mahasiswa Cina peranakan di Belanda, bahkan para pelajar sekolah menengah, terlibat dalam organisasi ini. Sekalipun ada keterikatan emosional dengan negeri Cina, tampaknya mereka lebih menaruh perhatian pada posisi kaum Cina peranakan di Hindia-Belanda.

Hal-hal yang mendorong timbulnya organisasi ini antara lain masalah status kewarganegaraan kaum Cina peranakan. Menurut perundang-undangan pemerintah Belanda tahun 1854, mula-mula ditetapkan bahwa orang Belanda, keturunan Belanda, pribumi, dan orang Asia yang lahir di Hindia-Belanda digolongkan sebagai Nederlander (berkebangsaan Belanda). Tetapi bagi golongan pribumi dan orang Asia yang lahir di Hindia-Belanda, kebangsaan ini tidak berarti apa-apa karena tidak disertai oleh hak yang sama sebagaimana diperoleh oleh orang Belanda.

Advertisement

Dalam sejarah kolonial Hindia-Belanda, sebetulnya sebagian besar kaum Cina peranakan telah terasimilasi ke dalam kultur masyarakat setempat, namun kenyataannya mereka masih terpisah dari golongan- golongan ras lainnya, terutama sebagai akibat struktur masyarakat kolonial dan politik pecah belah Belanda. Pada waktu itu terdapat tiga lapisan ras yang besar di Hindia-Belanda, yaitu golongan Eropa di tempat teratas, golongan Timur Asing (Vreemde Ooster-lingen) di tengah, dan golongan pribumi di lapisan bawah. Pemerintah Belanda berharap agar semua ras mempertahankan tradisi dan adat istiadatnya masing- masing.

Pada tahun 1892, status kebangsaan Nederlander tersebut dicabut kembali. Bersamaan dengan itu dikeluarkan Undang-undang Pokok Belanda yang baru, yang menetapkan bahwa orang-orang Asia yang dilahirkan di Hindia-Belanda adalah Ingezetenen (penduduk) dan bukan Nederlander. Tindakan pemerintah Belanda yang memandang rendah kedudukan golongan Timur Asing telah melukai perasaan para mahasiswa Cina peranakan di negeri Belanda. Penggunaan kata “timur asing” itu sendiri oleh sebagian mahasiswa dianggap sebagai suatu tindakan diskriminasi. Karena itulah pada awalnya mereka berjuang untuk persamaan kedudukan dengan orang Eropa. Sikap ini dibalas oleh pemerintah Belanda dengan mengeluarkan Undang-undang tentang Kawula Belanda (Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap, yang kemudian lebih dikenal clengan sebutan WNO). Undang-undang ini dikeluarkan pada tahun 1910, memuat ketentuan bahwa semua orang Cina peranakan di Hindia Belanda adalah kawula Belanda. Perlu ditekankan di sini bahwa yang dimaksud dengan kawula Belanda adalah bukan Nederlander (kebangsaan Belanda). Kata kawula itu sendiri oleh kaum Cina peranakan ditafsirkan sebagai abdi, yang fungsinya tidak lebih sebagai budak yang harus taat dan setia melayani pemerintah Belanda. Dikeluarkannya Undang-undang Kawula Belanda ini mempersulit perjuangan kaum Cina peranakan untuk menyamakan kedudukan dengan golongan Eropa.

Berkembangnya semangat nasionalisme di negara-negara Asia membelokkan arah perjuangan kaum Cina peranakan yang berada di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda. Perjuangan semula yang bertujuan menyamakan status kewarganegaraan dengan orang Eropa berubah menjadi perjuangan melawan pemerintah kolonial. Adanya perbedaan orientasi ini tercermin pada reaksi di kalangan mereka ketika menanggapi kampanye anti-WNO yang berkecamuk di Hindia-Belanda. Kelompok Han Tiang Tjang, yang lebih berorientasi ke negeri Cina, bersikap tegas pada pendiriannya, yakni bahwa mereka akan tetap mendukung pemberian kebangsaan Cina untuk kaum peranakan yang ada di negeri Hindia-Belanda. Tindakan ini senada dengan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh pemerintah Cina pada tahun 1909, yang menyatakan bahwa semua keturunan orang Tionghoa atau setiap anak yang sah ataupun tidak sah dari seorang ayah atau ibu Tionghoa adalah berkebangsaan Cina. Di lain pihak, kelompok Dr. Yap Hong Tjoen menyatakan bahwa orang-orang Tionghoa peranakan, apabila perlu, bersedia mempertahankan Hindia-Belanda Timur untuk “Indier”, istilah yang digunakan untuk menunjuk orang-orang yang menganggap Hindia-Belanda sebagai negaranya.

Sikap berlawanan kedua tokoh tersebut menjadi benih perpecahan di kalangan mahasiswa Cina peranakan di negeri Belanda. Perpecahan ini menjadi semakin tajam menjelang akhir tahun 1931. Sekelompok mahasiswa Cina peranakan yang dipimpin oleh Tjoa Sik Lien, Tan Ling Djie, dan Teng Tjin Leng memisahkan diri dari Chung Hwa Hui-Belanda dan mendirikan Sarekat Peranakan Tionghoa Indonesia pada awal tahun 1932. Kelompok kedua tetap duduk dalam organisasi Chung Hwa Hui-Belanda yang cenderung menyetujui nasionalisme Cina. Kelompok organisasi yang baru itu lebih memperjelas nasionalisme Indonesia. Mereka memihak Perhimpunan Indonesia dan menganggap Indonesia tanah air dan negara mereka. Setelah Indonesia merdeka, Chung Hwa Hui- Belanda mengalami perpecahan lagi; banyak anggotanya yang berkewarganegaraan Indonesia meninggalkan organisasi tersebut.

Incoming search terms:

  • chung hwa hui

Advertisement
Filed under : Antropologi, tags:

Incoming search terms:

  • chung hwa hui