Advertisement

Adalah istilah yang diberikan oleh ahli arkeologi berdasarkan hasil temuan benda- benda prasejarah di dalam gua di Sulawesi Selatan Temuan yang berupa serpih bilah, mata panah bergerigi, alat-alat tulang, sudip tulang, serta lancipan Mu- duk, ditemukan oleh Fritz Sarasin dan Paul Sarasin.

Temuan tersebut berasal dari masa kehidupan ketika manusia masih dalam tahap berburu dan meramu tingkat lanjut pada kala Pos-Pleistosen. Pada masa itu, di Indonesia, berkembang tiga tradisi pokok dalam hal pembuatan alat-alat, yaitu tradisi serpih bilah, tradisi alat tulang, dan tradisi kapak genggam. Pada tradisi serpih bilah, alat-alat batu yang dominan adalah alat-alat serpih atau alat-alat batu berbentuk kecil- kecil. Tradisi tersebut terutama berlangsung dalam kehidupan gua-gua di Sulawesi Selatan dan di pulau- pulau Nusa Tenggara Timur.

Advertisement

Menurut van Heekeren, lapisan budaya Toala dibedakan menjadi tiga (berturut-turut dari atas ke bawah), yaitu:

– Toala I atau Toala Atas: dengan alat-alat mata panah bersayap dan bergerigi, lancipan Muduk, serut kerang, dan gerabah.

– Toala II atau Toala Tengah dengan alat bilah, mata panah berpangkal bundar dan alat-alat mikrolit.

– Toala III atau Toala Bawah dengan alat serpih dan bilah yang agak kasar pengerjaannya.

Advertisement