Advertisement

Bahasa, Kebijakan bahasa nasional sangat penting dalam menciptakan kesatuan Indonesia dan identitas nasional Indonesia. Di Asia Tenggara mungkin hanya Indonesia satu-satunya negara yang menggunakan bahasa minoritas sebagai bahasa nasional. Bahasa nasional Indonesia dahulu dikenal sebagai bahasa Melayu, bahasa minoritas yang berasal dari Palembang (Sumatera) dan Bangka pada abad ke-7. Bahasa ini kemudian dipakai sebagai bahasa penghubung bagi berbagai kelompok etnis di kepulauan tersebut dan menjadi bahasa untuk berkomunikasi di pasar di kalangan etnis Indonesia dan orang asing. Bahasa ini diterima oleh kaum nasionalis Indonesia sebelum kemerdekaan antara lain karena kesederhanaannya, selain karena statusnya yang kontroversial. Bahasa Jawa yang digunakan kelompok etnis terbesar. Bahkan tidak dipertimbangkan, hanya karena bahasa itu tidak digunakan oleh orang non-Jawa. Selain itu, hahasa Jawa dianggap sangat rumit dan setiap tingkat sosial yang berbeda memakai jenis bahasa yang berbeda pula. Diterimanya hahasa Melayu oleh orang Jawa sebagai bahasa Indonesia juga mcnunjukkan bahwa para pemimpin Jawa berpandangan jauh ke depan, pragmatis dan toleran terhadap kelompok etnis lain. Karena itu, Indonesia tidak menghadapi masalah bahasa seperti yang dihadapi negara-negara lain yang ba’ berdiri (Suryadinata, 1999).

Bahasa Indonesia dipopulerkan pertama kali dalam pers kaum nasionalis ketika munculnya negara kemerdekaan Indonesia, kemudian bahasa tersebut menyebar dan berkembang selama pendudukan Jepang. Semua surat kabar terkemuka, siaran radio dan laran TV menggunakan bahasa Indonesia. Dari 358 koran yang diterbitkan di Indonesia selama tahun 1965-1967, hanya tiga yang. diterbitkan dalam bahasa etnis. Di Medan, misalnya, beredar tiga surat kabar yang dimiliki orang Batak, Tetapi semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Penerbitnya, mengatakan, orang liatak di Medan tidak mau membeli koran yang diterbitkan dalam hahasa Batak.

Advertisement

Setelah kemerdekaan semua sekolah di Indonesia menggunakan bahasa nasional, tetapi, bahasa etnis tetap dapat diajarkan disekolah setempat sampai kelas tiga, setelah itu semua pendidikan harus bebahasa Indonesia. Seorang ahli sejarah terkemuka mengatakan:

“Menggunakan universal bahasa ini secara internasional dalam sebuah masyarakat yang sangat besar, telah `inenasionalisasikan’ generasi yang sedang bersekolah, kebudayaan dan bahasa lokal mereka sendiri terus disampaikan kepada mereka, tetapi kini prosesnya berlangsung dalam kerangka sebuah kebudayaan nasional” (David, 1971 : 403).

Popularisasi bahasa Indonesia memang dilakukan tetapi tidaklah berarti menggantikan bahasa etnis. Menurut beberapa pengamat, penggunaan bahasa Indonesia jauh lebih populer di daerah perkotaan daripada di daerah pedesaan, karena penduduk desa masih banyak menggunakan bahasa daerah. Dalam sebagian besar kasus, penduduk kota (terutama di daerah non-Jawa) cenderung menggunakan dua bahasa dengan bahasa Indonesia sebagai sebagai bahasa yang dominan. Namun di daerah pedesaan, tampaknya bahasa etnis masih digunakan secara luas. Sebuah penelitian mengenai pelajar Indonesia dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat menengah menunjukkan bahwa hanya 26 pesen pelajar sekolah ini yang inemakai bahasa Indonesia di rumah. Bahkan di beberapa daerah penggunaan bahasa etnis kembali meluas. Pada konferensi bahasa yang diadakan di Jakarta pada pertengahan 1970—an, sejumlah tokoh terkemuka sudah mengusulkan agar semua pegawai pemerintah yang ditugaskan di Jawa Barat harus mampu berbahasa Sunda agar mereka dapat melayani penduduk desa dengan lebih baik. Tetapi, tidak seorang pun mengusulkan agar penggunaan bahasa etnis dilakukan dengan menomorduakan bahasa nasional (Suryadinata:1999:164).

Diterimanya bahasa nasonal oleh para tokoh nasional sebelum dan sesudah PD II membantu berkembangnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pada saat itu disebut bahasa nasional belum digunakan untuk menyebut bahasa Indonesia. Pada tahun 1928, ketika berlangsung Kongres Pemuda Indonesia kedua di Jakarta, Kaum nasionalis Indonesia yang `sekuler’ dari berbagai wilayah berhasil merumuskan Sumpah Pemuda yang sangat terkenal itu, yang menyatakan bahwa mereka adalah bahasa Indonesia berbahasa satu yakni Bahasa Indonesia dan bertanah air satu tanah air Indonesia. Setelah mengucapkan Sumpah Pemuda tersebut, ditetapkanlah lagu kebangsaan dan bendera kebangsaan. Sejumlah organisasi Islam menolak menandatangani sumpah tersebut karena kebangsaan yang dianjurkan kaum nasionalis adalah kebangsaan yang `sekuler’. Namun, setelah perang tampaknya secara diam-diam mereka rnenyetujui simbul-simbol kebangsaan ini, kecuali kaum muslimin radikal yang berupaya mendirikan sebuah negara Islam.

Advertisement