Advertisement

Varian Kombinasi, Identifikasi /b/ dalam buche ‘kayu bakar’ dengan yang dalam bouge tidak akan menimbulkan kesulitan di dalam tugas di muka. Namun, halnya tidak selalu sesederhana itu. Di dalam perbandingan dua buah daftar, ternyata hanya jika sangat mujur, ditemukan jumlah satuan yang sama. Adalah suatu yang istimewa jika deskripsi dari setiap satuan di dalam suatu daftar memiliki padanan tepat di dalam daftar yang lain. Jika kita buat daftar satuan-satuan yang dis­tingtif di dalam bahasa Spanyol di dalam konteks na… a, maka di dalam kata nada yang artinya ‘tak suatu pun’ akan didapat sebuah satuan yang kita tandai sebagai spiran apiko-interdental [6], spiran yang mengingatkan kita pada frikatif yang dituliskan th dalam baha­sa Inggris father. Jika kemudian kita buat daftar untuk konteks fon…a, kita temukan dalam kata fonda yang artinya ‘penginapan’, sebuah satuan yang dideskripsikan sebagai sebuah oklusif apiko­dental [d]. Namun, spiran [6] tidak muncul dalam konteks ini seperti juga [d] yang tidak muncul di antara dua a. Mengingat hubungan spiran apiko-interdental dengan satuan-satuan dalam daftarnya sama dengan hubungan oklusif apiko-dental dengan satuan-satuan di daftarnya, kami akan menyebutnya sebagai dua varian dari satu fonem yang sama yang ditranskripsikan /d/. Perbandingan kedua tabel berikut ini memperlihatkan bahwa [6] dan [d] termasuk di dalam sistem proporsi yang sama di dalam masing-masing daftar. Yang disebut varian kombinasi atau kontekstual adalah apabila ada perbedaan realisasi sebuah fonem yang sama di dalam konteks yang berbeda, artinya apabila perbedaan itu cukup menyolok se­hingga dapat menghasilkan deskripsi yang tidak sama seperti halnya bahasa Spanyol, antara [6] dan [d]. Meskipun demikian, perlu diper­hatikan bahwa beberapa perbedaan yang ditangkap seorang penutur mungkin tidak tertangkap oleh yang lain yang latar belakang bahasa­nya tidak sama: seorang Spanyol yang mendeskripsikan suatu bahasa yang lain daripada bahasanya sendiri, di mana [6] dan [d] merupa­kan varian dari satu fonem yang sama, tidak akan berpikir untuk membedakan dua varian: ia tidak pernah harus memilih di antara ke­duanya, sehingga ia menyamakan keduanya. Demikian juga orang Indonesia yang tidak akan berpikir untuk membedakan [‘] dalam naik dan [k] dalam kian. Begitu juga orang Paris menengah yang me­lafalkan /o/ dalam joli dan dalam cor. Mengatakan bahwa sebuah fonem tidak memiliki varian, atau memiliki dua, tiga, atau lebih, sama dengan melakukan kekeliruan dalam mentransposisikan reaksi­reaksi yang hanya dimiliki pemeri ke dalam sistem bahasa yang akan dideskripsikan.

Varian kombinasi tentu saja tidak mungkin merupakan suatu kebetulan. Kenyataan itu harus dijelaskan, paling tidak sebagian, dengan mengacu pada konteks bunyi: jika fonem /d/ Spanyol direa­lisasikan sebagai sebuah oklusif setelah /n/, itu adalah karena artiku­lasi segmen yang terakhir ini menuntut penutupan, dan akan lebih sederhana dan lebih hemat untuk mempertahankan penutupan itu pada /d/ yang datang kemudian. Jika fonem itu direalisasi sebagai sebuah spiran di antara dua vokal, itu adalah karena dalam sistem bahasa Spanyol, lebih hemat untuk tidak menutup mulut seluruhnya di antara dua artikulasi vokalis yang direalisasi dengan mulut yang terbuka lebar. Dikatakan bahwa varian kombinasi dari satu fonem yang sama berada dalam clistribusi komplementer.

Advertisement

 

Varian-varian yang Lain

Ada varian lain di samping varian kombinasi. Fonem Perancis /r/ dilafalkan grasseye oleh sebagian penutur, namun getar oleh pe­nutur yang lain. Di sini kita berhadapan dengan varian individual. Jika seorang pemain sandiwara menggetarkan /r/ di atas pentas, na­mun melafalkan grasseye di dalam kehidupan sehari-hari, varian itu disebut varian fakultatif. Meskipun demikian, kondisi variasi dapat campur aduk: ada orang Perancis yang menggetarkan /r/ dalam tre’s ‘sangat’ dan melafalkan grasseye dalamfer ‘besi’, artinya terjadi vari­an individual karena ada kombinasi.

Advertisement
Filed under : Review,