Advertisement

Usuluddin menurut bahasa Arab berarti dasar-dasar atau pokok-po­kok agama. Lawan katanya adalah fu­ru’uddin (furls”‘ ad-din), yang berarti ca­bang-cabang agama. Kedua ungkapan itu digunakan oleh para ulama untuk menun­jukkan dua kelompok ajaran-ajaran dalam Islam, yang hubungannya dapat dilihat se­perti pokok dengan cabang atau seperti bangunan dasar dengan bangunan yang terdapat di atas dasar itu.

Sebagai dimaldumi, segenap ajaran Is­lam tentu dapat saja dibagi ke dalam dua kategori tertentu, di antaranya ke dalam dua kategori: ajaran-ajaran dalam lapang­an akidah (ajaran yang berupa akidah-aki­dah) dan ajaran-ajaran dalam lapangan syariat (ajaran berupa aturan-aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia dan segenap lingkungannya yang lain).

Advertisement

Keberadaan pokok menghendaki keber­adaan cabang dan mustahil cabang ada tanpa pokok. Mustahil orang taat dan ber­syukur kepada Tuhan, bila ia tidak meya­lcini keberadaan-Nya. Meyakini adanya Allah adanya perintah dan larangan-Nya, dan adanya kelak pembalasan yang adil dari-Nya terhadap tingkah laku–..rnanusia, niscaya menjadi dasar bagi tumbuhnya si­kap taat kepada-Nya dan senantiasa mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik. Dengan jalan pikiran seperti itu para ulama memandana akidah-akidah Islam itu sebagai usuluddin (pokok-pokok aga­ma) dengan syariat-syariatnya sebagai furu’uddin (cabang-cabangnya). Itulah sebabnya ilmu yang membahas atau men­jelaskan akidah-akidah dalam Islam selain disebut 71m al- aqd’id (ilmu tentang aid­dah) juga disebut `i/m usii/ ad-din (ilmu tentang pokok-pokok atau dasar-dasar agama).

Sebenarnya baik akidah-akidah maupun syariat-syariat dalam Islam dapat pula di­bagi dalam dua kategori lain, yaitu: po­kok-pokok dalam akidah dan syariat (usul dan usfil asy-syaraT) dan cabang-cabang dalam akidah dan syariat (furll’ al-aqu’id dan furii’ asy-syara’i’). Pokok-pokok dalam akidah adalah akidah­akidah pokok dalam Islam, yang disepa­kati oleh semua ulama dan masyarakat Is­lam. Demikian juga pokok-pokok dalam syariat, yang tidak lain dari syariat-syariat pokok dalam Islam, yang diterima dan di­sepakati oleh segenap ulama dan masyara­kat Islam. Sedangkan cabang-cabang da­lam akidah dan syariat adalah akidah-aki­dah dan syariat-syariat cabang, yang dite­rima oleh sebagian ulama dan masyarakat Islam. tapi ditolak oleh sebagian yang lain.

Sebagai contoh, akidah bahwa segenap alam ini diciptakan oleh Tuhan adalah aid­dah pokok yang disepakati semua ulama dan masyarakat Islam. Akan tetapi akidah bahwa alam ini diciptakan-Nya dari tidak ada menjadi ada adalah akidah cabang yang dianut oleh sebagian ulama dan ma­syarakat Islam. tapi ditolak oleh sebagian yang lain. Demikian pula akidah bahwa Tuhan menciptakan alam sejak kidam (azali, “sejak” keberadaan-Nya yang tak bermula), sehingga alam itu juga kadim (kendati dicipta, ia tak pernah tidak ada); akidah demikian adalah akidah cabang yang dianut oleh sebagian ulama dan ma­syarakat Islam, tapi ditolak oleh sebagian yang lain. Contoh dalam syariat, disepa­kati bahwa salat lima waktu adalah wajib dan disepakati bahwa orang diperintah supaya mengerjakan salat itu berjemaah. Kendati demikian, sebagian ulama me­mandangnya sebagai perbuatan sunah.

Dilihat dari sudut ini, akidah-akidah dan syariat-syariat yang disepakati ulama dan umat dapat pula, bahkan lebih pantas disebut usuluddin (pokok-pokok agama dalam Islam) sedang butir-butir yang ti­dak disepakati menjadi furteuddin (ca­bang-cabangnya). Kedua kategori itu menggambarkan aspek kesatuan dan as­pek keragaman yang terdapat dalam ajar-an Islam.

Advertisement