Advertisement

Ummi adalah kata bahasa Arab yang berarti buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis. Quran menggunakan kata ummi dan jamaknya ummiyar sebanyak enam kali. Quran dua kali memberikan predikat ummi kepada Nabi Muhammad (7:15 dan 158). Para ahli tafsir sepakat bahwa kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa Nabi tidak dapat membaca dan me-

Sebagian ahli tafsir modern mengar­tikan ummi dalam dua ayat tersebut seba­gai ketidaktahuan Nabi (tidak pernah mendapatkan akses untuk membaca dan mempelajari) akan kitab-kitab suci. Pada pihak lain, berbagai ahli bahasa dan keti­muran menolak bahwa ummi dalam Quran berarti buta huruf, kendati mereka tidak bisa membantah bahwa ummi dalam bahasa Arab adalah mengacu kepada “ke­tidakmampuan membaca dan menulis.”

Advertisement

Terdapat tiga interpretasi mengenai ka­ta ummi dalam Quran. Pertama an-nabi al-ummi (Quran 7:157, 158) diinterpretasi­kan sebagai “nabinya umat,” bukan nabi­nya suku tertentu raja. Walau pengertian umat demikian, menurut teori tersebut, masih belum membaku sampai saat ditu­runkannya ayat-ayat ini, tetapi paling ti­dak pengertian umat telah mencakup se­luruh masyarakat Arab. Kemudian konsep umat berkembng dengan semakin terse­barnya Islam sehingga mencakup seluruh umat Islam yang universal. Kedua, ummi dikaitkan dengan pengertian “seorang yang tidak pernah diajar atau belajar;” jadi bukan berarti tidak dapat menulis dan membaca. Menurut teori ini, kendati Nabi Muhammad tidak pernah belajar tetapi ti­dak berarti tidak dapat menulis dan mem­baca. Bahkan sebagian pendukung teori ini menghubungkan kata ummi dengan pengertian “orang awam” bukan yang ter­pelajar. Yang terakhir ummi dihubungkan dengan makna “orang asing” (duna al­Yahild atau Gentile), artinya bukan tergo­long bangsa Yahudi. Lazimnya istilah orang asing bagi orang-orang Yahudi mem­punyai konotasi “kafir” (heathen). Menu-rut teori ini, an-nabi al-ummi dalam Qur­an menunjukkan bahwa Nabi Muhammad berbeda dengan para rasul sebelumnya, adalah bukan seorang Yahudi.

Memang interpretasi dan teori semacam ini menarik, tetapi kesulitannya adalah apabila dikaitkan dengan kenyataan bah­wa ummi dalam bahasa Arab, bahkan sampai bahasa Arab modern, adalah ber­arti buta huruf. Tambahan lagi, bukti ke­sejarahan yang ada, terlepas dari validitas­nya dan sudut historiografi modern, jus­tru mendukung arti .kata ummi yang baku beserta pendapat para ahli tafsir klasik.

 

 

Advertisement