Advertisement

Turki Usmani (Ottoman) adalah sa­lah satu kerajaan Islam terbesar yang mun­cul semenjak pasca kejatuhan Bagdad (1258/656 H) sampai dengan awal abad ke­20. Pengasas dan pendukung utama dinas­ti Usmani terdiri dari suku-suku Turki Asia Tengah, lazimnya dikenal ‘sebagai Oghuz atau Ghuzz, yang mengembara ke Persia dan Asia Barat. Dengan keberhasil­an dinasti Saljuk membangun kekuasaan yang kokoh sejak pertengahan abad ke-11, orang Oghuz pun mendapatkan kesempat­an lebih luas untuk berperan dalam per­luasan wilayah Saljuk. Yang lebih penting, kelompok Oghuz terus melakukati pemu­kiman dan penghijrahan ke arah barat, ter­utama selepas pertempuran Manzikert yang spektakuler pada 1071 (464 H). Ju­ga, serangan-serangan Mongol pada abad ke-13 telah mendesak para nomad Oghuz untuk terus mengembara serta memben­tuk kelompok perbatasan (gazi enclaves), khususnya di Anatolia, seperti Karaman, Mentesye, dan Germiyan. Sampai dengan paruh kedua abad ke-13, sekelompok Oghuz di bawah pimpinan Orthoghrul ber­hasil menguasai Bitsiniyah. Dan sinilah ke­turunan Orthughrul yang bernama Usman sejak 1281 (680 H) membangun kekuasa­an yang independen dengan dibangunnya Yenisyehir sebagai pemusatan kekuatan. Pada 1326 (726 H), pengganti Usman, Orkhan, berhasil merebut Bursa, kota pen­ting di ujung barat Anatolia. Sejak itu penguasa Usmani secara gemilang berhasil meluaskan wilayah baik di Anatolia mau­pun Rumelia (Balkan).

Sebelum Konstantinopel (Istanbul) jatuh pada 1453 (857 H), pasukan Usman telah menguasai berbagai kota dan wila­yah di Rumelia. Berturut-turut Gallipoli (1357/758 H), Edirne (1362/763 H), Sofia (1385/787 H), Salonik (1387/789 H), dan Nicopolis (1396/798 H) ditun­dukkan oleh pasukan Usmani. Kendati pa­ da awal abad ke-15, kerajaan Usmani men­derita kekalahan berat akibat serangan Timur Leng, bahkan Sultan Bayazid sen­diri tertawan pada (1402/804 H), tetapi dalam waktu yang relatif singkat kekuatan kerajaan dapat ditingkatkan. Hal ini ter­utama disebabkan oleh stabilitas dan ener­gi yang mereka nikmati di Rumelia. Me­mang Timur gagal melabrak dataran Ero­pa justru serangan-serangan Timur ke Ana­tolia yang belum sepenuhnya dikuasai di­nasti Usmani akhirnya memudahkan para pengganti Bayazid untuk melebarkan sa­yap ke timur. Memang sewaktu Muham­mad al-Fatih naik tahta pada 1451 (855 H) kondisi kerajaan sangat mendukung upayanya untuk mengambil alih Konstan­tinopel yang begitu rapi dipertahankan oleh kaisar. Kegemilangan al-Fatih pada Mei 1453 adalah berkat persiapan yang matang secara militer, diplomasi dan sosio­keagamaan.

Advertisement

Sampai abad ke-17, Turki Usmani me­nikmati masa keemasan. Kekuatan militer Usmani yang tangguh sangat menentukan stabilitas kekuasaan. Berangkat dari tradisi gazi yang agresif dan tabah, jiwa militer­isme dan aktivisme pemerintahan Usmani tampak dominan. Pasukan Usmani bukan saja terdiri dari penduduk asal Usmani (Sipahi) melainkan juga dari pasukan khusus (Yenisyeri) yang direkrut dari anak-anak asing melalui sistem desyrme. Tidak diketahui secara pasti apakah kebi­jaksanaan ini sebagai jawaban terhadap teori siklus Ibnu Khaldun. Di samping itu, pengaruh dan peranan para ulama dalam pemerintahan cukup terasa. Mereka telah menjadi partner yang integral dalam bu­daya politik-keagamaan Usmani. Hubung­an militer-ulama yang demikian dekat dan timbal-balik dapat dijumpai dalam hirarki politik yang dipimpin oleh wazir dan ke­agamaan oleh syekh al-Islam; keduanya di bawah payung sultan (padisyah). Walau syekh al-Islam ditunjuk sultan, posisinya yang kuat dan populer menjadikannya cu­kup independen.

Kegemilangan Usmani bermula sejak awal abad ke-16 sewaktu Salim (w. 1520/ 926 H) mengalahkan kekuatan Safawi yang Syeah dan meluaskan wilayah ke selatan sampai Mesir dan Hijaz. Kawasan ini memiliki arti penting dalam kehidupan ke­agamaan umat Islam secara umum. Salim memang kemudian menggunakan gelar “Pengabdi Dua Tanah Suci” (khadim al­Haramain). Juga angkatan laut Usmani beroperasi di Samudra Hindia melawan Portugis. Pengganti Salim, Sulaiman Qanu­ni (w. 1566/974 H) menyempurnakan berbagai institusi, termasuk politik, hu­kum, dan administratif, yang akhirnya menjadi permanen. Wilayah kekuasaan Usmani menjelang akhir abad ke-16 telah meliputi Budapest di utara, Aljazair di barat, Basrah di timur, dan Yaman di se­latan. Akhirnya kerajaan Usmani mendo­minasi berbagai jenis hubungan dagang antara Eropa di satu pihak dan Asia serta Afrika di lain pihak untuk masa yang cu­kup panjang, khususnya sebelum meraja­lelanya kekuatan-kekuatan Eropa seperti Belanda, Prancis, dan Inggris.

Kemunduran Usmani sejak abad ke-17 bersumber dari berbagai faktor yang kom­picks. Dari segi politik dan ekonomi, ke­datangan kekuatan Barat ke Laut Tengah dan Samudra Hindia telah secara negatif mempengaruhi kerajaan Usmani. Peranan broker-nya menjadi sangat berkurang. Juga, penguasaan Barat atas berbagai pu­sat perdagangan di kawasan tersebut telah mempersempit jangkauan pengaruh Us­mani. Bagaimanapun kerajaan Usmani me­mang menghadapi berbagai perubahan da­lam tubuhnya. Di antara perubahan yang cukup membawa akibat serius adalah ero­si karakter pasukan Yenisyeri yang eksklu­sif. Mengingat posisi dan peranan militer yang begitu strategis dalam tradisi Us­mani, perubahan demikian telah memba­wa akibat jauh, bukan hanya dalam bi­dang pertahanan dan ekspansi melainkan dalam disiplin pemerintahan, administrasi dan bidang kehidupan sosial serta ekono­mi. Memang kekalahan tentara Usmani di Wina pada 1683 (1094 H) menandai titik kemunduran kekuatan militer Usmani, kendati harus juga diingat bahwa pengem­bangan teknologi persenjataan di Eropa tak diimbangi oleh Istambul. Perjanjian­perjanjian damai dan kapitulasi sejak akhir abad ke-17 menunjukkan kelemahan mili­ ter Usmani terhadap Eropa dan Rusia.
Menghadapi perubahan yang demikian berbagai upaya reform telah diupayakan.

Menjelang akhir abad ke-18, reform te­lah semakin digalakkan. Bahkan Sultan Salim III (w. 1807) membuka sejumlah kedutaan Usmani di Eropa. Kemudian Mahmud II (w. 1839) memperkenalkan berbagai lembaga pembaharuan yang ba­nyak diilhami Barat, termasuk pendidik­an, militer, ekonomi perdagangan dan hukum. Periode ini akhirnya dikenal se­bagai fase “reorganisasi” (Tanzimat). Ba­gaimanapun pada paruh kedua abad ke-19 terjadi reevaluasi, atau minimal kom­promi, terhadap program Tanzimat de­ngan munculnya gerakan Usmani Muda dan kemudian pan-Islamisme ala Abdul Hamid (w. 1908). Pertanyaan mendasar tentang relevansi sistem Usmani dalam konteks kehidupan nasionalisme yang se­dang tumbuh akhirnya menemukan ja­waban dengan timbulnya gerakan Turki­Muda. Kesulitan yang dihadapi sultan dalam mengatasi krisis domestik dan an­caman Perang Dunia I telah mempercepat proses keruntuhan dinasti Usmani. Pahla­wan Perang Dunia I bagi Turki Usman bukanlah sultan di Istambul tetapi seorang perwira muda bemama Mustafa Kamal (Ataturk). Nama Kamal melejit bahkan memberinya otoritas untuk menghapus­kan kekuasaan dan posisi sultan pada 1922. Akhirnya dua tahun kemudian sim­bol kekhalifahan yang belum lama disan­dang dinasti Usmani pun dihilangkan. Sisa wilayah Usmani yang kemudian disebut Turki telah diproklarnirkan sebagai repu­blik di bawah presiden.

 

Advertisement