Advertisement

Tuluniyah adalah sebuah dinasti yang muncul dan berkuasa di Mesir pada abad ke-9 (3 H), yakni dari 868 (254 H) sampai 905 (292 H). Sejak 877 (263 H) dinasti ini melepaskan dirinya dari khilafat Bani Abbas, dan dengan demikian Mesir untuk pertama kalinya, setelah berlalu masa sem­bilan abad, menjadi negara merdeka (tidak menjadi propinsi atau bagian dari daulat yang berpusat di tempat lain). Sejarah mencatat bahwa sebelumnya Mesir adalah propinsi atau bagian dari: Irnperium Ro­mawi (30 SM-642/21 H), Khilafat Khula­fa Rasyidin (642/21 H-665/40H), Khila­fat Bani Umayyah (665/40 H-750/132 H), dan khilafat Bani Abbas (750/132 H sampai Dinasti Tuluniyah melepaskan diri dari Khilafat Bani Abbas pada 877/263 H).

Pendiri Dinasti Tuluniyah adalah Ah­mad bin Tulun, seorang berdarah Turki. Pada mulanya ia dikirim dari Bagdad ke Mesir pada 868 (254 H) untuk menjadi wakil Gubernur Mesir. Pada 873 (259 H) ia diangkat menjadi Gubernur, tapi kemu­dian pada 877 (263 H) ia melepaskan diri dari Khilafat Bani Abbas, dan menakluk­kan Damaskus, Horns, Homat, Aleppo, dan Antiokia (semuanya di Syam, Siria). Dengan demikian ia bukan saja membuat Mesh merdeka (berdiri sendiri), tapi bah­kan berkuasa atas tanah Syam, suatu ke­adaan yang tidak pernah terjadi setelah Mesir ditaklukkan Persia pada 340 SM. Untuk memudahkan usaha kontrol atas tanah Syam, ia membangun armada laut yang kuat dan pangkalan angkatan laut di Akka (Syam).

Advertisement

Sejak melepaskan diri dari Bani Abbas, Ahmad bin Tulun tidak pernah lagi mengi­rim sepeser pun uang cukai negeri Mesir ke Bagdad. KekayaanlMesir dimanfaatkan­nya untuk Mesir sendiri. Ia bangun kota Qata’i, di sebelah utara Fustat. sebagai ibukota baru, meniru model kota Samar­ra, yang berada di utara Bagdad. Ia ba­ngun rumah sakit besar, rumah sakit yang pertama muncul di Mesir, dan ia bangun mesjid agung, yang terkenal dengan nama Jami Ibnu Tulun, yang pada bagian dalam­nya terukir lebih kurang sepertujuh belas dan seluruh ayat-ayat al-Quran dengan huruf Arab Kufi. Banyak bangunan-ba­ngunan megah ia dirikan untuk menam­bah semaraknya kota yang menjadi tan­dingan bagi kota Samarra itu.

Perhatian Ahmad bin Tulun kepada bi­dang perekonomian cukup besar. Tempat ukuran air sungai Nil (nilometer) di pulau Raudah diperbaiki, bendungan dan selu­ruh irigasi ditambah, sehingga areal perta­nian menjadi lebih luas; dan kegiatan in­dustri mendapat motivasi kuat darinya. Di masa itu terdapat industri senjata, sa­bun, gula, kain, dan lain-lain. Jembatan, terusan, dan armada perhubungan darat, sungai, dan Taut diperbesar, demi ramai dan lancarnya lalu-lintas perdagangan da­lam seluruh wilayah yang dikuasainya. Pendeknya ,Ahmad bin Tulun, setelah me­lalui kerja keras, berhasil mewujudkan ke­makmuran dan kesejahteraan rakyat. Pada 904 (270 H) ia wafat, dengan meninggal•• kan nama yang harum sebagai seorang ha­fiz, negarawan, pemberani, pemurah, serta dekat dengan ulama dan rakyat.

Selanjutnya Dinasti Tuluniyah dipim­pin oleh putranya, Khumarawaih, yang barn berusia 20 tahun. Segera Amir yang baru ini mendapat tantangan berat: Da­maskus diserang oleh pasukan gabungan (terdiri dari pasukan al-Muwaffiq, saudara Khalifah Bagdad, pasukan Ibnu Kindag, gubernur Mosul, dan pasukan Muhammad bin Abi Sibag, gubernur Armenia). Amir Khumarawaih maju memimpin sendiri pa­sukannya untuk merebut kembali Damas­kus pada 907 (273 H), dan berhasil me­maksa al-Muwaffiq dan Khalifah Mula­mid untuk mengakui kedaulatan Dinasti

Tuluniyah di Mesir dan Syam. Kekuasaan Khumarawaih semakin mantap dan luas, setelah musuh-musuh utamanya mening­gal (al-Muwaffiq dan Ibnu Kin dag pada 912 (278 H) dan Khalifah Mu`tamid pada tahun berikutnya). Dengan diplomasi menghibur hati Khalifah Bani Abbas yang baru, Muladid, yakni dengan memberi berbagai hadiah dan menyerahkan putri­nya, Qatr an-Nada, menjadi istri Khalifah, Khumarawaih berhasil memperkokoh ke­daulatan dinastinya. Khalifah Abbasiyah tidak keberatan mengakui kedaulatannya atas wilayah yang membentang dari Bar­kah (di Libia) sampai ke Furat (di Irak) dan dari Tarsus (di Asia Kecil) sampai de­ngan Hejaz (di jazirah Arabia).

Dengan kekayaan yang melimpah, Khu­marawaih mendirikan lagi gedung-gedung megah dan taman-taman yang indah. Ia gunakan uang antara lain 900.000 dinar per tahun untuk pembiayaan pasukan dan 23.000 dinar per bulan untuk penyediaan makanan gratis bagi para fakir dan orang­orang yang lemah, melalui dapur-dapur umum. Dalam istananya yang megah ter­dapat golden hall, aula dengan dindingnya yang berlapis emas dan dihiasi dengan gambar dirinya yang sedang memakai mahkota emas, gambar para istrinya, dan gambar para penyanyi istana. Istananya terletak di tengah taman yang penuh de­ngan tanaman aneka bunga, yang tersusun sedemikian rupa, sehingga membentuk ungkapan-ungkapan berbahasa Arab. Se­buah kolam renang berlapis perak di ha­laman istana, kebun binatang dan istana burung ikut melengkapi semaraknya ista­na Dinasti Tuluniyah.

Kematian Khumarawaih pada 895 (282 H) merupakan awal kemunduran dinasti itu. Persaingan yang hebat antara unsur­unsur pembesar dinasti telah memecah persatuan dalam dinasti. Amir yang keti­ga, Abu al-Asakir bin Khumarawaih, dila­wan oleh sebagian pasukannya dan dapat disingkirkan (896/283 H). Adiknya yang barn berusia 14 tahun, Harun bin Khuma­rawaih, diangkat sebagai Amir yang keem­pat. Akan tetapi kelemahan sudah sedemi­kian rupa, sehingga wilayah Syam dapat di-rebut oleh pasukan Qaramitah. Amirnya yang kelima, Syaiban bin Ahmad bin Tulun, hanya 12 hari saja memerintah, ka­rena is menyerah ke tangan pasukan Bani Abbas yang menverang Mesir pada 905 (292 H), dan dengan demikian berakhirlah riwayat Dinasti Tuluniyah.

Advertisement