Advertisement

Tobat (taubat), menurut bahasa, berarti menyesal atau kembali (dengan menyesali keadaan yang telah berlalu). Tobat kepada Allah mengandung arti antara lain datang atau kembali kepada-Nya dengan perasaan menyesal atas perbuatan atau sikap diri yang tidak benar di masa lalu dan dengan tekad untuk taat kepada-Nya; dengan kata lain ia mengandung arti kembali kepada si­kap, perbuatan, atau pendirian yang lebih baik dan benar.

Perintah dan Tuhan agar manusia ber­tobat kepada-Nya dijumpai dalam banyak ayat al-Quran. Tobat yang diinginkan itu adalah tobat yang sungguh-sungguh. yang disebut dengan tobat nasuha (nasuha),yalcni tobat tanpa lagi kembali kepada ke­salahan atau kekeliruan yang sebelumnya diperbuat. Setiap tobat yang sungguh­sungguh, dari dosa sebesar apa pun, nisca­ya disambut oleh Tuhan dengan perasaan senang, karena Ia adalah Zat penerima to-bat dan senang kepada orang yang terus menerus bertobat (al-Quran 9:104 dan 2: 222).

Advertisement

Tobat memiliki taraf-taraf yang berbe­da. Ada tobat dan dosa besar, ada tobat dari dosa kecil, dan ada tobat dari per­buatan atau sikap yang sudah baik, kepa­da perbuatan atau sikap yang lebih baik. Dengan demikian tobat itu dapat dipa­hami sebagai upaya yang harus diwujud­kan sepanjang hayat. Esensi tobat tidak lain dari upaya seseorang meninggalkan keadaan yang telah mewarnai kepribadian­nya untuk mendapatkan keadaan yang le­bih utama bagi kehidupannya di dunia dan akhirat. Ia tidak lain dari upaya terus menerus meneliti tangga menuju puncak keutamaan hidup, sejauh yang dimungkin­kan oleh potensi yang dimiliki seseorang. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan bila seorang sufi, seperti Abu Yazid al-Bis­tami, berkata bahwa bila orang-orang ber­tobat dari dosa-dosa mereka, maka ia ber­tobat dari mengucapkan kalimat 15 ildha ills Allah (tiada Tuhan selain Allah), kepa­da mengucapkan la ilaha ills Anta (tiada Tuhan selain Engkau). Tampaknya, bagi al-Bistami dengan kalimat tauhid pertama, orang yang mengucapkannya tergambar ti­dak berhadapan dengan Tuhan, sedang de­ngan kalimat tauhid yang kedua, orang yang mengucapkannya telah berhadapan dengan Allah, dan karena telah berhadap­an Ia lebih pantas dipanggil dengan sebut­an Engkau.

Mengingat taraf tobat itu berbeda-beda, maka kendati Tuhan gembira dan tidak pernah menolak orang yang ingin bertobat atau kembali mendekat kepada-Nya, taraf kesulitan untuk melakukan tobat itu juga berbeda-beda. Tobat dapat diibaratkan de­ngan upaya seseorang mencabut dosa dari dirinya, sedang dosa dapat diibaratkan de­ngan sebuah pohon. Bila dosa telah ber­ulang-ulang dilakukan dan telah berlang­sung lama, maka ia seperti pohon besar yang tidak mudah mencabutnya. Bila ia barn sekali-dua dilakukan, maka ia bare se­perti benih yang bare tumbuh dan mudah mencabutnya. Bertobat dari perbuatan­perbuatan buruk yang telah berulang­ulang dilakukan dan telah berlangsung la­ma, sulitnya seperti sulitnya mencabut po­hon yang besar. Bila orang sangat sulit mengupayakan tobat, atau bahkan hampir mustahil melakukan tobat, maka hatinya dapat disebut sebagai hati yang sudah ber­karat oleh dosa-dosanya atau sudah dise­gel Tuhan dengan dosa-dosanya.

Itulah sebabnya. Islam mengajarkan bahwa setiap kali muncul dosa atau kesa­lahan dari seseorang, ia haruslah segera bertobat dan segera mengiringinya dengan perbuatan baik. Dengan segera bertobat itu, Jaya tank dosa atau pengaruhnya ter­hadap din segera pula lumpuh. Melalaikan tobat berarti membiarkan dosa itu me­nguasai dirinya, sehingga ia tetap berada dalam kerendahan.

 

Advertisement