Advertisement

Terawih adalah jamak dari kata tarwTh, asalnya berarti istirahat dan menyenang­kan. Salat terawih adalah salat sunnah yang dilakukan di malam hari bulan Ramadan, yang juga umum disebut dengan istilah “qiyam ramaclah.” Adapun salat sunnah di malam hari bulan Ramadan (qiyam rama­dein) itu dinamakan salat terawih, agaknya karena salat yang jumlah rakaatnya cukup banyak ini dilakukan dengan sedikit “san­tai” karena setiap habis salam dan teruta­ma pada setiap empat rakaat, beristirahat sejenak.

Salat terawih sunnah ‘hukumnya bagi se­tiap muslim, baik itu laki-laki maupun pe­rempuan. Salat terawih dapat dilakukan sendirian (munfarid) dan boleh pula diker­jakan bersama-sama (berjemaah). Mene­gakkan salat terawih dengan berjemaah di mesjid, demikian menurut pendapat keba­nyakan ahli fikih, jauh lebih afdal dari­pada melakukannya secara munfarid di ru­mah.

Advertisement

Adapun mengenai waktu pelaksanaan salat terawih ialah sejak waktu isya sampai akhir malam. Salat terawih dilakukan se­sudah salat isya dan sebelum salat witir dengan salam setiap dua rakaat (dua rakaat dua rakaat). Melaksanakan salat terawih setelah witir, oleh para ulama dipandang sebagai menyalahi tatacara yang paling af­dal.

Dalam pada itu para ahli hukum Islam (fukaha) berbeda pendapat mengenai jum­lah rakaat salat terawih. Ada yang menga­takan delapan rakaat (11 bersama witir), dan ada pula yang berpendapat 20 rakaat (23 rakaat berikut witir) di samping masih juga ada yang berpendirian 36 rakaat (39 rakaat dengan witir). Namun demikian, yang umum dilakukan kebanyakan umat Islam — khususnya di Indonesia — kelihat­annya adalah pendapat pertama dan ke­dua; sedangkan pendapat yang ketiga agaknya jarang diamalkan atau yang mengamalkannya relatif sedikit jumlah­n ya.

Menurut beberapa riwayat, Nabi Mu­hammad mengerjakan salat terawih seba­nyak delapan rakaat atau 11 rakaat dengan perhitungan delapan rakaat salat terawih dan tiga rakaat salat witir. Kemudian di masa-masa Umar ibnu al-Khattab, Usman ibnu Affan dan Ali ibnu AbiTalib, mereka melakukan salat terawih sebanyak 20 ra­kaat atau 23 rakaat yakni 20 rakaat tera­wih dan tiga rakaat witir.

Dalam pada itu banyak umat Islam yang melakukan salat terawih 20 rakaat se­bagai yang dilakukan para sahabat terke­muka di atas, baik di kalangan umat Islam yang hidup semasa dengan mereka mau­gun generasi-generasi muslimin sepening­gal mereka hingga sekarang. Menurut Say-yid Sabiq, dalam kitabnya Fiqh asSunnat, m engerjakan salat terawih 20 rakaat ada­lah merupakan pendapat kebanyakan ahli hukum Islam (jumhur al-fukaha) dan ka­langan mazhab Hanafi dan Hambali, bah­kan juga Dawud az-Zahiri as-Sauri, ibnu al-Mubarak dan asy-Syafil.

Senada dengan yang telah diuraikan di atas, menurut informasi yang diberikan sebagian ulama yang lain bahwa pada mu­lanya salat terawih itu memang delapan rakaat, tapi bacaan surat-surat al-Quran yang dibaca waktu itu umumnya surat­surat yang panjang (at-tiwa/). Karena bacaan surat-surat panjang tersebut dirasa­kan begitu berat (lama) oleh umat Islam yang kemudian, maka bacaan-bacaan su­ratnya diperingan yakni dengan membaca surat-surat yang sedang (almutawasitat) yakni tidak terlalu panjang dan tidak pula terlalu pendek. Sebagai imbangannya, jumlah rakaatnya ditambah dan delapan rakaat menjadi 20 rakaat. Kemudian di­peringan lagi dengan membaca surat-surat al-Quran yang pendek sementa­ra jumlah rakaatnya ditambah lagi dan 20 rakaat menjadi 36 rakaat.

Advertisement
Filed under : Review,