Advertisement

Tawaf secara etimologis berasal dari ka­ta tell:a yang berarti berjalan keliling. Da-lam istilah hukum Islam, tawaf berarti perjalanan mengelilingi Ka’bah, yang dila­kukan dalam ibadat haji atau umrah. Pe­rintah untuk mengerjakan tawaf dinyata­kan dalam al-Quran, surat al-Hajj: 29: If. . . dan hendaklah mereka melakukan ta­waf sekeliling rumah yang tua itu (Baitul­lah).”

Tawaf merupakan ibadat yang sangat penting bagi orang-orang yang menunai­kan ibadat haji dan umrah. Pada waktu mereka sampai di Mekah, maka yang per­tama kali mereka lakukan adalah tawaf (Tawaf Qudum). Dalam melaksanakan ru­kun haji dan umrah, mereka melakukan tawaf wajib (tawaf al-ifildah), di samping melakukan tawaf-tawaf sunah (tawaf ta­tawu `). Dan pada waktu mereka akan pu­lang meninggalkan tanah suci, mereka pun melakukan tawaf perpisahan (tawaf wa­da`).

Advertisement

Di zaman Jahiliyah, orang melakukan tawaf dengan telanjang. Tetapi setelah Is­lam datang, tawaf dengan telanjang itu di­larang.

Dalam Islam, tawaf tidak hanya dilaku­kan dalam musim haji, tetapi juga dilaku­kan di luar musim haji. Tujuannya adalah untuk menghidupkan syiar mesjid al­Haram, di samping untuk memperoleh pa­hala yang besar dari Tuhan.

Wanita dapat melakukan tawaf bersa­ma-sama dengan laki-laki, akan tetapi ia tidak diperkenankan masuk ke dalam Ka’bah bersama-sama. dengan laki-laki. Wanita diperkenankan masuk ke dalam Ka’bah apabila telah kosong dan orang la­ki-laki.

Tawaf dapat dilakukan dengan mengen­darai kendaraan karena ada sesuatu sebab, misalnya karena tidak dapat berjalan atau karena sakit. Rasulullah sendiri waktu me­lakukan ibadat haji wade (haji perpisah­an) melakukan tawaf dengan mengendarai unta karena sakit. Dan Ummu Salmah juga mengikuti Nabi, melakukan tawaf de­ngan mengendarai unta karena sakit.

Wanita yang sedang menstruasi, tidak diperkenankan melakukan tawaf, sampai ia suci dari menstruasinya.

Orang yang melakukan tawaf hendak­lah memperhatikan ketentuan-ketentuan berikut:

  • Suci dari hadas besar, hadas kecil dan suci dari najis. Dalam hadis yang diri­wayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah dinyatakan bahwa Rasu­lullah ketika sampai di Mekah, yang mula-mula dilakukan adalah mengam­bil air wudu, kemudian melakukan ta­waf.
  • Menutup aurat. Dalam hadis yang diri­wayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Nabi menegaskan: “Orang yang bertelanjang tidak boleh melakukan tawaf.”
  • Ka’bah hendaklah berada di sebelah Tidak sah tawaf yang dilaku­kan, apabila Ka’bah berada di sebelah kanannya.
  • Tawaf hendaklah dimulai dari Hajar Aswad, dan diakhiri di Hajar Aswad
  • Tawaf keliling Ka’bah hendaklah dilakukan sebanyak tujuh kali putaran.

Adapun cara melakukan tawaf sesuai dengan sunah Nabi adalah sebagai ber­ikut: Tawaf hendaklah dimulai dari Hajar Aswad. Apabila mungkin mendekatinya hendaklah ia menciumnya atau mengusap­nya dengan tangan. Tetapi apabila tidak mungkin, cukuplah dengan mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad, kemudian tangan itu dikecupnya. Kemudian ia menghadap ke arah Ka’bah dengan selu­ruh badannya dan berniat melakukan ta­waf, kemudian mengucapkan: “Dengan nama Allah, dan Allah itu Maha Agung. Ya Allah! (Aku lakukan ibadat ini) de­ngan beriman kepada-Mu dan mengakui kebenaran Kitab-Mu, memenuhi akan jan­ji-Mu, serta mengikuti sunnah Nabi.” Ke­mudian ia berjalan mengelilingi Ka’bah (bertawaf) sebanyak tujuh kali putaran. Tiga putaran yang pertama, hendaknya ia lakukan dengan berjalan cepat, dan empat putaran yang terakhir, dengan berjalan biasa. Pada saat mulai melakukan tawaf, hendaklah ia ucapkan: “Maha Suci Allah. Segala puji bagi Allah. Tidak ada tuhan selain Allah dan Allah lah Yang Maha Agung. Tidak ada Jaya dan kekuatan ke­cuali dari Allah.”

Setiap kali sampai di arah Rukun Ya­mani hendaklah ia mencium Hajar Aswad atau mengusapnya, dan apabila tidak mungkin hendaklah ia mengangkat tangan dihadapkan ke arah Hajar Aswad, kemu­dian mengecupnya sambil berdoa: “Wahai Tuhan kami! Berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jauh­kanlah kami dari siksa api neraka.”

Dan setiap kali melintasi Makam Ibra­him, hendaklah ia berdoa: “Ya Tuhanku! Masukkanlah aku pada tempat masuk yang benar, dan keluarkanlah aku pada tempat keluar yang benar, dan berikanlah padaku kekuasaan yang menolong dari si­si-Mu. Dan katakanlah: Yang benar telah datang, dan yang batil telah lenyap. Se­sungguhnya yang batil itu pasti akan le­nyap.”

Dan setiap sampai kembali di Hajar As-wad, hendaklah bertakbir, kemudian ber­doa: “Ya Allah! Jadikanlah bagiku haji yang mabrur, dan dosa yang mendapat ampunan, serta hasil usaha yang disyu­kuri.”

Dalam melakukan tawaf keliling ,Ka!’bah, hendaknya ia banyak berzikir dan memba­ca doa apa saja, sebab doa yang dibaca dalam ibadat tawaf itu sangat makbul; Tuhan akan memperkenankannya. Da-lam kitab-kitab Manasik Haji banyak di­berikan contoh-contoh zikir dan doa yang baik untuk dibaca dalam setiap pu­taran dalam tawaf.

Dalam melakukan tawaf dibolehkan membaca al-Quran, sebab membaca al­Quran itu termasuk zikir kepada Tuhan

 

Advertisement