Advertisement

Taurat adalah kata dan bahasa Ibrani, yang berarti undang-undang, hukum, atau syariat. Kata ini muncul 18 kali dalam al­Quran, tujuh kali di antaranya muncul beriringan dengan kata Injil, dan sekali muncul beriringan dengan kata Injil dan al-Quran. Berdasarkan sejumlah informasi yang diberikan oleh al-Quran, umat Islam mengetahui bahwa Taurat adalah nama kitab-suci yang diwahyukan Tuhan kepa­da rasul-Nya, seperti halnya Injil dan al­Quran. Siapa nabi atau rasul yang meneri­ma kitab-suci Taurat, tidaklah ditunjuk­kan secara eksplisit oleh al-Quran. Kenda­ti demikian, dan informasi al-Quran dike­tahui bahwa ia belum diturunkan atau di­wahyukan pada masa hidup Nabi Ibrahim (3:65), tapi sudah diturunkan sebelum da­tangnya Nabi Isa, bahkan telah digunakan oleh para nabi untuk mengatur kehidupan umat Yahudi (Israil) (5:44-46). Kejelasan tentang nabi atau rasul yang menerima Taurat itu diperoleh umat Islam dan se­jumlah hadis Nabi. Menurut hadis Nabi, kepada Nabi Musa lah kitab-suci Taurat itu diwahyukan.

Tradisi umat Yahudi (Israil) memang menghubungkan Taurat itu kepada Nabi Musa, sehingga ia lazim disebut Taurat Musa. Dalam keyakinan umat Yahudi (Israil), yang juga diikuti oleh keyakinan umat Kristen, apa yang mereka sebut Tau-rat itu adalah lima kitab pertama dan 24 kitab yang mereka pandang kitab-suci (ki­tab-suci umat Yahudi terdiri dari 5 kitab yang termasuk Taurat, 8 kitab yang ter­masuk Nobiim, dan 11 kitab yang terma­suk Ketubim; kitab-suci Yahudi itu diteri­ma sebagai kitab-suci oleh umat Kristen, mereka beri nama Perjanjian Lama, dan mereka susun dengan urutan kitab-kitab yang berbeda dengan urutan yang dibuat umat Yahudi). Kelima kitab Taurat itu adalah: Kitab Kejadian (berisi kisah keja­dian alam semesta, kejadian Adam dan Hawa serta keluarnya mereka dan taman Firdaus, dan kisah turunan Adam dan se­jumlah nabi sampai dengan Yusuf), Kitab Keluaran (berisi kisah keluarnya Bani Is-rail dengan pimpinan Nabi Musa dan Me-sir dan beradanya mereka selama 40 tahun di semenanjung Sinai), Kitab Imamat (ber­isi himpunan peraturan atau syariat dalam agama Yahudi), Kitab Bilangan (berisi ke­terangan tentang jumlah keturunan Bani Israil pada masa Nabi Musa), dan Kitab Ulangan (berisi ulangan kisah keluarnya Bani Israil dari Mesir dan ulangan penya­jian himpunan syariat).

Advertisement

Berdasarkan tradisi Yahudi, pada umumnya umat Yahudi dan Kristen per­caya bahwa lima kitab yang mereka sebut Taurat itu seluruhnya karangan Nabi Mu­sa. Akan tetapi para sarjana mereka yang meneliti sejarah Taurat dalam dua abad terakhir ini mempunyai kesimpulan yang berbeda sama sekali dengan keyakinan tradisional mereka. Para sarjana mereka cenderung menyimpulkan bahwa kelima kitab itu bukanlah karangan Musa. Pada masa Musa, catatan yang diperkirakan ada hanyalah tentang sepuluh firman yang diterima Musa di Bukit Sinai dan sejumlah peraturan atau syariat lainnya. Upaya pe­nulisan perjalanan hidup bangsa Israil dan para leluhur mereka (sampai dengan Adam dan Hawa) baru dimulai pada abad ke-10 SM (dua atau tiga abad sesudah wa­fatnya Musa) dan upaya itu berlangsung dari masa ke masa, sehingga menghasilkan tulisan-tulisan yang mereka pandang seba­gai tulisan suci. Tulisan-tulisan suci itu, seluruhnya atau sebagian, mengalami ke­hancuran di masa raja mereka Yoyakim bin Yosia (628-617 SM) atau di masa kerajaan mereka dihancurkan oleh Babi­lonia (586 SM). Karena itulah Ezra ber­sama para ulama Yahudi lainnya, setelah mereka pulang ke Palestina dari pem­buangan mereka di Irak, pada abad ke-5 SM berupaya menuUs kitab-suci mereka kembali, termasuk lima kitab pertama, yang dalam tradisi dikenal dengan nama Taurat Musa. Dengan penulisan kembali oleh Ezra itu, dikatakan bahwa Taurat yang mengalami perkembangan itu mem­peroleh bentuknya yang final. Ini berarti bahwa naskah-naskah Taurat yang muncul pada abad-abad berikutnya, termasuk nas­kah Masrorah abad ke-9/10, dipandang berdasar pada Taurat yang ditulis kembali oleh Ezra.

Pandangan umat Islam tentang Taurat sama sekali berbeda dengan pandangan umat Yahudi dan Kristen. Sebagaimana pandangan terhadap al-Quran, pandangan umat Islam terhadap Taurat adalah bah­wa ia bukan karangan Musa (seperti dika­takan oleh tradisi Yahudi) tapi segenap firman-firman Tuhan yang diwahyukan atau diturunkan-Nya kepada Musa; ia juga bukan karangan para ahli agama Ya­hudi, yang hidup beberapa abad di bela­kang Musa, dan lebih lagi bukan karangan Ezra yang hidup tujuh atau delapan abad sesudah Musa. Bila Injil yang diwahyukan kepada Nabi Isa lebih kurang enam abad sebelum Nabi Muhammad sudah begitu kabur nasibnya, apalagi nasib Taurat yang diwahyukan kepada Musa 13 atau 14 abad sebelum Injil. Para ulama Islam tidaklah memandang lima kitab yang sekarang dikenal dengan Taurat itu seba­gai Taurat yang diwahyukan Tuhan ke­pada Musa. Boleh jadi dalam lima kitab tersebut masih tersimpan sejumlah firman­firman yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Musa, tapi amatlah sulit menetap­kan atau menentukan mana firman-fir­man tersebut. Oleh karena itu keimanan umat Islam dengan Taurat sebagai satu di antara kitab-kitab suci yang diwahyukan sebelum al-Quran, sudah cukup dalam bentuk membenarkan berita al-Quran dan hadis Nabi bahwa dulu Nabi Musa meneri­ma firman-firman Tuhan, yang dinamakan dengan Taurat. Sebagian dan firman-fir­man yang disampaikan kepada Musa itu disebutkan juga dalam al-Quran dan apa yang disebutkan al-Quran itu tentu diper­caya sebagai bagian dari kandungan Taurat.

 

Advertisement