Advertisement

Segmentasi Fonematis, Kata-kata peta dan surat dalam bahasa Indonesia sangat ber­beda: perilaku seorang pendengar tidak akan sama jika saya me ngatakan tolong ambilkan peta atau tolong ambilkan surat. Hal itu meyakinkan saya bahwa peta dan surat tidak berkaitan dengan fakta pengalaman yang sama, dan bahwa peta dan surat dilafalkan cukup berbeda sehingga tidak mungkin terjadi kerancuan. Setelah diamati, tak satu pun segmen bentuk yang dilafalkan di antara keduanya yang mengingatkan saya pada segmen bentuk yang lain. Situasinya berbe­da jika kedua kata yang dibandingkan itu peta dan peda, dan reaksi pendengar tetap berbeda jika mendengar ambilkan peta dan ambil­lah peda. Namun, ketika kedua bentuk itu saya bandingkan, saya me-rasa banyak hal yang sama di dalam keduanya, dan jika pendengar tidak rancu dan dengan penuh keyakinan is berperilaku yang sesuai, itu adalah berkat unsur yang terletak di tengah kedua bentuk tadi. Halnya akan sama jika saya mendekatkan pudi dan putri. Meskipun demikian, jika saya bandingkan putri dan Puri, saya melihat bahwa yang membedakan putri dan pudi dapat diuraikan menjadi dua unsur berurutan, yaitu segmen yang dijumpai dalam purl, dan segmen lain yang mendahuluinya. Tentu saja ejaan membantu ana­lisis ini. Namun, di mata seorang ahli fonologi, kesaksian ejaan tidak bernilai, dan hanya analisis berdasarkan perbandingan unsur yang berurutanlah yang dapat menonjolkan satuan-satuan bahasa. Jika saya kembali ke peta dan peda, saya tidak akan pernah menemukan sebuah kata bahasa Indonesia yang bersajak dengan keduanya dan yang memungkinkan saya menganalisis jauh sebelumnya apa yang membedakan peta dan peda seperti yang dapat saya lakukan untuk membedakan putri dari pudi berkat adanya purl. Jadi, saya men­dapati bahwa segmen yang terdapat di tengah peta dan peda merupa­kan segmen minima atau fonem. Orang dapat menyanggah bahwa segmen yang terdapat di tengah putri lebih sengkarut daripada yang terdapat dalam pudi karena segmen itu mengandung dua “bunyi” berurutan yang berbeda jika dibandingkan dengan “bunyi” tunggal dalam pudi. Jawabannya adalah bahwa perbedaan homogenitas an­tara segmen tengah dari putri dan pudi mengejutkan penutur bahasa Indonesia hanya karena mereka terbiasa oleh penggunaan bentuk­bentuk seperti pudi, purl dan putri harus diuraikan menjadi dua satuan berurutan. Dapat ditambahkan bahwa perbedaan itu hanya ada pada tingkatan kadar dan bukan kodrat dan bahwa perbedaan itu tidak ada hubungannya dengan analisis fonologis karena ada bahasa seperti bahasa Hottentot dan beberapa bahasa di Swiss yang mengandung unsur [tr], yang dianggap sebagai segmen tunggal, dengan kata lain scbuah fonem. Situasi ini mengingatkan kita pada kasus yang telah dijelaskan di atas (2.6), yaitu [tg] dalam kata Spanyol mucho yang merupakan fonem tunggal karena [g] tidak ada dalam bahasa itu tanpa didahului oleh [ t], dan sebagai akibatnya, [tg] me­rupakan pilihan khas dari pihak penutur.

Advertisement
Advertisement