Advertisement

Perang Trunojoyo, (1674-1679), merupakan perlawanan Trunojoyo dan se­kutunya terhadap raja Mataram IV, Su­nan Amangkurat I (1645-1677) dan pen­jajah Belanda. Kakek Trunojoyo, Cakra­ningrat I sebagai bupati Madura yang mengakui kekuasaan Mataram, gugur da­lam tugas menumpas pemberontakan Pa­ngeran Alit, adik Amangkurat I (1647). Ayahnya, Raden Demang Mlayakusuma, dibatalkan haknya sebagai bupati Madu­ra, bahkan pada 1656 ia dinyatakan ber­salah dan dihukum mati. Pamannya, Cak­raningrat II, sebagian besar waktunya ting­gal di Mataram, sehingga Madura terbeng­kalai.

Kedatangan Karaeng Galesung dari Ma­kasar yang kehilangan kebebasannya ald­bat perjanjian Bongaya (1667), pertemuan Trunojoyo dengan ulama terkenal Mata­ram, Raden Kajoran, yang menantunya di­hukum mati oleh Amangkurat I, pertemu­annya dengan Adipati Anom (putra mah­kota Mataram) yang dikucilkan karena be-rani mempersunting gadis simpanan ayah­nya dan, kepahitan hidupnya telah mem­perbesar tekadnya untuk melawan raja yang lalim ini beserta Belanda yang men­jadi sekutunya. Pada 1673, ia mengambil alih kekuasaan di Madura dari tangan pa­mannya. Akhir 1674, gabungan laskar Ma­dura dan Makasar menduduki ujung timur Jawa Timur (Demung) dan 1675, Suraba­ya dan Gresik diduduki, dan 1676, 2 kali serangan Mataram dapat dipatahkan. Se­rangan Mataram yang ketiga dipimpin oleh Adipati Anom yang sudah dimaafkan oleh ayahnya dan karena tidak memberi­tahukan kepada Trunojoyo, pertempuran terjadi sungguh-sungguh dan sebagaimana yang sudah, Mataram mengalami kekalah­an, bahkan kerabat dekat Adipati Anom sendiri ikut menjadi korban (13 Oktober 1676). Akibat dari peristiwa ini, hubung­an antara keduanya putus. Trunojoyo yang sejak Agustus 1676 bergelar Panem­bahan Maduretno itu selanjutnya mening­galkan Madura menuju Surabaya dan mengarahkan kekuatannya ke arah barat, Jawa Tengah (Januari 1677). Cornelis Speelman yang menyarankan agar Truno­joyo kembali tunduk kepada Amangkurat I, mendapat jawaban: “Ia (Amangkurat I) adalah raja tidak sah, apalagi ia bukan sul­tan, karena gelar sultan hanya dapat diper­oleh dari Mekah.” Sementara itu, sekutu Trunojoyo di Jawa Tengah, Raden Ka­joran yang juga mertuanya, mendapat kekalahan dan lari ke Surabaya, dan Maret 1677 terjadi kesepakatan untuk menyer­bu Mataram. Dalam pada itu, Amangkurat I dengan resmi minta bantuan Kompeni dengan perjanjian bahwa pantai utara Ja­wa diserahkan kepada Belanda sebagai ja­minan. Atas dasar perjanjian itu, Belanda menyerbu Surabaya (13 Mei 1677). Tru­nojoyo dan Raden Kajoran menyingkir ke Kediri dan dari Kediri menyerbu Ple­red (ibukota Mataram). Karena Semarang direbut oleh laskar Trunojoyo, kontak dengan Kompeni terputus, sehingga kera­ton jatuh ke tangan Trunojoyo (akhir Ju­ni 1677). Isi keraton termasuk peralatan upacara peninggalan Majapahit diangkut ke Kediri. Amangkurat I berhasil melolos­kan diri, dan dengan diiringi oleh Adipati Anom menuju ke barat setelah menzia­rahi makam leluhurnya di Megiri. Sampai di sungai Praga, Sunan jatuh sakit dan ke­tika perjalanan sampai di hutan Wanayasa ia wafat setelah mengangkat Adipati Anom sebagai gantinya dengan gelar Amangkurat II. Ia dimakamkan di Tegal Arum dekat kota Tegal. Selanjutnya, Amangkurat II menemui C. Speelman di Jepara guna minta bantuan untuk menum­pas Trunojoyo. Permintaan dipenuhi de­ngan perjanjian antara lain: (1) seluruh pantai utara Jawa dari Karawang sampai Jawa Timur dan wilayah Mataram di Pa­sundan menjadi milik Kompeni, (2) peng­akuan hutang-hutang Mataram kepada Kompeni, dan (3) monopoli impor kain cita dan candu di Jawa di tangan Kompe­ni. Ini disetujui 20 Oktober 1677, tetapi pasukan gabungan Kompeni-Mataram baru bergerak 5 dan 17 September 1678 berhasil menyeberangi sungai Brantas. Setelah pertempuran sengit (25 Novem­ber), pusat pertahanan Trunojoyo jatuh ke tangan musuh. Trunojoyo menying­kir ke Bangil untuk bergabung dengan pa­sukan Karaeng Galesung. Karena bantuan Kompeni terus-menerus datang, benteng Bangil tidak dapat dipertahankan oleh Ka­raeng Galesung-Trunojoyo, dan Truno­joyo menyingkir ke lereng G. Kelud. Karena dikejar terus, demi keselamatan sisa-sisa laskarnya, Trunojoyo akhirnya menyerah pada 25 Desember 1679. Sementara itu, laskar R. Kajoran yang me­lakukan perlawanan di Jawa Tengah, juga tidak dapat bertahan, dan pada 14 Sep­tember 1679 R. Kajoran menyerah dan dihukum mati. Adapun Trunojoyo, dise­rahkan kepada Amangkurat II dan seming­gu kemudian (2 Januari 1680) juga dihu­kum mati. Dengan gugurnya Trunojoyo, peralatan keraton diambil kembali dari Kediri dan Amangkurat II dapat mendu­duki tahtanya di Mataram, tetapi dengan tebusan cukup mahal. Bagi Kompeni, hal ini merupakan kesempatan emas dalam rangka perluasan wilayah jajahannya.

Advertisement

 

Advertisement