Advertisement

Nada dan Intonasi, Kehadiran nada di dalam suatu bahasa tidak berakibat hilang­nya intonasi: tetap saja pita suara tidak begitu tegang pada awal pengujaran dan kembali mengendur menjelang akhir ujaran. Bahkan dapat dipahami jika kita memperhitungkan kenyataan bahwa suatu ujaran yang lengkung lagunya tidak menurun nampak seperti mem­butuhkan sebuah pelengkap, dalam bentuk jawaban misalnya. Itulah suatu situasi di mana kenyataan fisik yang sama, yaitu frekuensi ge­taran suara, digunakan di dalam bahasa yang sama, bahkan di dalam ujaran yang sama, untuk dua tujuan bahasa yang berbeda. Tentu saja kita harus sudah menduga adanya interferensi karena mungkin in­tonasi membutuhkan suara menaik tepat di mana nada harus me­nurun atau sebaliknya. Ternyata, sebuah nada tinggi di akhir ujaran, pada din seorang penutur, dapat jauh lebih rendah dibandingkan dengan sebuah nada rendah yang terdapat di tengah ujaran yang sa­ma. Jika penurunan lagu sangat cepat, tidak jarang sebuah nada yang secara linguistik tinggi, secara fisik lebih rendah daripada sebuah nada yang secara linguistik rendah yang mendahuluinya. Semua ini berarti bahwa pendengar dapat menilai apakah sebuah nada tinggi atau rendah, bukan dengan mengacu pada posisi suara dibandingkan dengan apa yang disebut tamber wajar dari penutur, melainkan apa yang ditangkap sebagai nada tinggi adalah suara yang lebih tinggi dan sebagai nada rendah suara yang lebih rendah daripada apa yang ditampilkan oleh lengkung intonasi.

Advertisement
Advertisement